Advertisement

Suatu kelompok Arthropoda (binatang beruas) yang kepala, dada, dan perut menyatu dan tidak tampak beruas, kecuali anggota geraknya. Larvanya memiliki tiga pasang kaki, sedangkan nimfa dan bentuk dewasanya memiliki empat pasang kaki. Tubuhnya sangat kecil, bahkan beberapa jenis tidak tampak oleh mata telanjang. Bentuk tubuhnya gepeng atau pipih membundar, lonjong maupun belah ketupat atau genjang, namun sesudah kenyang menjadi pipih membulat, oval memanjang atau seperti ketupat. Kulitnya berkhitin tipis; pada bagian tubuh tertentu terdapat penebalan khitin berupa garis, kerutan kulit, dengan permukaan berbintik-bintik halus maupun rata. Warnanya beraneka, dari warna terang atau jernih hingga gelap. Kulitnya terdiri atas empat lapisan dan dilengkapi dengan kelenjar kulit, lapisan khitin, serta bulu yang letak, jumlah, bentuk, dan ukurannya berbeda untuk setiap jenis.

Mulutnya dilengkapi seperangkat alat untuk menyobek, menusuk, dan mengisap cairan makanan Sungut atau antenanya tidak ada. Matanya sepasang dan kecil atau sangat kecil, bahkan ada ya; tidak bermata. Setiap kakinya beruas enam, berambut kaku atau berbulu, dan berkuku seperti kait atau cakar. Kaki tungau air yang berambut panjang dan lebat digunakan untuk berenang. Organ pernapasannya berupa sepasang corong hawa. Larva dan nimfanya tidak mempunyai lubang kelamin. Di sekeliling lu-bang duburnya, yang terletak di ujung belakang badan bawah, terdapat kerutan kulit yang berambut. Tungau betina berukuran lebih besar daripada yang jantan.

Advertisement

Lama daur hidupnya 1 – 3 minggu atau lebih, bergantung pada iklim dan jenisnya. Telurnya oval dengan permukaan halus, rata, dan berkerut. Setiap kali bertelur menghasilkan beberapa sampai ratusan butir. Telurnya menetas menjadi larva, lalu berganti kulit menjadi nimfa, dan berganti kulit lagi menjadi dewasa. Umumnya, ganti kulit berlangsung beberapa hari setelah makan, atau tidak didahului makan. Lama hidup tungau dewasa beberapa hari sampai beberapa bulan, bergantung pada jenisnya. Beberapa jenis tungau berkembang biak dengan melahirkan anak. Artinya, perkembangan telur sampai dewasa berlangsung dalam perut induknya, lalu dilahirkan bersama- sama, yakni 200 – 300 ekor setiap kali melahirkan.

Pada dasarnya, ada dua kelompok tungau menurut perikehidupannya, yaitu tungau parasit dan tungau yang hidup di alam bebas. Tiap jenis tungau parasit berinduk semang utama hewan jenis tertentu atau manusia, dan memilih tempat hidup pada bagian tubuh tertentu pula. Yang hidup di permukaan tubuh induk semangnya disebut ektoparasit, dan yang hidup di dalam tubuh disebut endoparasit. Pakan tungau parasit darah atau cairan jaringan tubuh induk semangnya. Tungau yang hidup bebas di alam ditemukan di tanah, air, batuan berlumut, kayu lapuk, padang rumput, belukar, tumbuhan dan tanaman beserta bahan produksinya, lantai bangunan maupun gudang, bahan pangan dan pakan, sampah, limbah, serasah, humus, bangkai, tinja, dan benda organik lainnya. Kelompok tungau tersebut berperan sebagai hama pertanian, hama gudang, pengganggu, perombak maupun predator atau pemangsa. Makanan tungau hama cairan tumbuhan atau bahan produksinya selagi masih berada di lapangan maupun sesudah di panen. Makanan tungau pengganggu dan perombak berupa cairan organik, seperti jamur, sampah, dan bangkai. Tungau predator memangsa tungau lain dan serangga beserta telur dan larvanya, seperti ulat hama beras serta telur dan larva kumbang hama.

Serangannya menyebabkan kerusakan tanaman, bahan pangan, kematian mangsa, serta radang kulit pada hewan dan manusia. Bekas gigitannya pada manusia menimbulkan bintik-bintik atau bentol-bentol kemerahan pada kulit. Gejalanya: gatal, karena adanya rangsangan bisa atau racun yang dikeluarkan bersama air ludahnya ketika tungau mengisap darah atau cairan jaringan tubuh. Bila selalu digaruk bekas gigitannya akan menimbulkan luka dan radang kulit. Gejala ini tampak lebih parah bagi orang yang alergi terhadap bisa serangga, misalnya mual, muntah, diare, nafsu makan berkurang, sesak napas, dan gejala alergi lainnya. Serangannya pada ternak menyebabkan radang kulit, seperti kadas, kudis, kurap dan book, serta berakibat kekurusan, produksi merosot, mutu kulit buruk, daya tahan tubuh lemah, bahkan kematian, terutama anak inang. Serangan tungau gu-dang menyebabkan kerusakan bahan pangan, disertai bau apak atau tengik karena tercemar oleh getah yang dihasilkan kelenjar kulit tungau. Tungau predator dapat berperan sebagai pengendali hama.

Selain itu, tungau juga dikenal sebagai vektor berbagai penyakit pada hewan, manusia, dan tumbuhan. Penularannya dapat secara transovarial atau melalui telur, misalnya penyakit tifus belukar. Dengan cara j li, tungau yang belum pernah menggigit penderita pun dapat menularkan penyakit. Beberapa jenis tungau juga dikenal sebagai induk semang perantara berbagai jenis cacing parasit yang berbahaya bagi hewan maupun manusia.

Tungau dan caplak masih termasuk dalam satu bangsa, yaitu Akarina. Di seluruh dunia, ada sekitar 30.000 jenis anggota Akarina, yang terdiri atas 800 jenis caplak dan sisanya jenis tungau. Nama jenis tungau biasanya diperoleh dari tipe induk semang utamanya, lokasi (terutama yang endemik), habitat, c!ri khas morfologi, perilaku maupun gejala serangannya, bahkan nama penemu atau kolektornya. Berikut ini berbagai jenis tungau yang berperan penting dalam bidang kesehatan dan pertanian.

Gurem berbentuk pipih lonjong, berwarna keabu- abuan, dan sesudah kenyang menjadi bulat telur dengar. warna merah jingga atau merah tua. Induk semang utamanya ayam dan unggas lainnya, kadang juga ternak maupun manusia.

Perkembangbiakannya berlangsung cepat selama ayam sedang mengeram. Lama daur hidupnya, mulai d ri telur sampai dewasa sekitar 10 hari. Gurem dewasa mampu hidup tanpa makan selama lebih kurang lima bulan.

Pada ayam, serangannya menimbulkan gatal, berkurangnya berat badan, kurang darah, produksi merosot, daya tahan tubuh lemah, bahkan matinya anak ayam. Pada manusia, di sekeliling bekas gigitannya timbul bentol merah yang beraba gatal. Tungau ini berperan juga sebagai penular penyakit virus, tripano- somiasis, dan spirokhetosis pada unggas. Penyebarannya kosmopolitan.

Tungau Air berhabitat di air, baik air tawar maupun payau dan laut. Tubuhnya pipih membulat atau oval. Warnanya terang, terutama yang hidup di danau, kolam, sungai, dan pantai. Larvanya bersifat parasit pada serangga air, remis, dan sebangsanya; sedangkan nimfa dan dewasanya bersifat predator bagi telur binatang air, seperti udang, ketam, dan serangga air. Di Indonesia ada lebih dari 150 jenis tungau air.

Tungau Belukar hidup di belukar dan sekitarnya, seperti tanah pertanian, perkebunan, padang rumput, dan hutan sekunder. Larvanya berinduk semang utama tikus, kadang-kadang manusia. Tubuhnya oval memipih berwarna merah. Penyebarannya meluas di Jepang, Taiwan, Cina, Myanmar, Sri Lanka, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.

Gejala serangannya bentol-bentol kemerahan pada kulit dan gejala alergi lainnya. Serangga ini juga dikenal sebagai penular penyakit tifus belukar. Pada Perang Dunia II dilaporkan bahwa 7.000 tentara Sekutu menderita tifus belukar.

Tungau Biji-bijian berbentuk oval seperti bola lampu dan berwarna keputih-putihan suram. Jenis tungau ini dikenal sebagai hama gudang yang merusak biji- bijian, seperti beras dan jagung, kadang-kadang juga buah kering, bungkil, jerami, keju, kulit binatang, dan sarang tikus. Penyebarannya dibantu induk semangnya, yaitu tikus rumah, sehingga menjadi kosmopolitan.

Tungau Gudig berbentuk pipih membulat dan berwarna putih keabuan. Betinanya berukuran dua kali yang jantan. Induk semang utamanya manusia, ternak, dan hewan piaraan. Pakannya cairan serum dan sel kulit yang rusak.

Tungau Hidung hidup dalam rongga hidung anjing. Tubuhnya oval memipih dan berwarna kekuningan pucat. Serangannya menyebabkan radang hidung dan gangguan saraf. Gejalanya anjing suka menggoyang- goyangkan kepala dan tampak lebih buas. Penyebarannya meluas dari Amerika Utara, Afrika Selatan, Australia sampai Hawaii.

Tungau Kopi hidup di permukaan atas daun kopi, kadang-kadang daun teh, kapas, jeruk, dan kembang sepatu. Akibat serangannya daun berwarna merah, lalu gugur.

Tungau Kudis-kaki, atau tungau kurap, bertubuh pipih membulat dan berwarna kecokelatan. Kulitnya tampak bergaris-garis halus melingkari tubuh. Yang jantan berukuran lebih kecil daripada yang betina. Serangannya menyebabkan timbulnya bintil-bintil kecil yang sangat gatal. Bila digaruk, bintil tersebut pecah, lalu cairan serum yang keluar akan mengering dan mengerak, disertai reaksi peradangan kulit. Ternak yang diserang tungau ini sering menghentakkan kaki atau menggosok-gosokkan kulitnya.

Tungau Kulit berbentuk bulat memanjang seperti peluru. Hidupnya pada jaringan kulit dan dalam folikel rambut atau kelenjar minyak. Induk semang utamanya anjing, babi, domba, kambing, kucing, manusia, dan sapi. Gejala awal yang ditimbulkannya gatal, berlanjut dengan kerusakan kulit yang semakin parah, rambut rontok, timbul kerak, kulit mengeras, dan gejala seperti kudis. Penyebarannya kosmopolitan.

Tungau Padi berbentuk oval memipih, dengan panjang badan lebih kurang 0,3 milimeter, berambut panjang dan jarang. Inang utamanya daun padi. Akibat serangannya daun padi berwarna cokelat atau putih kemerahan.

Tungau Palawija berwarna cokelat gelap sampai hijau suram. Karena larvanya berwarna merah padam, tungau palawija sering juga disebut tungau merah-pa- sifik. Inang utamanya tanaman palawija. Penyebarannya kosmopolitan.

Tungau Pascapanen berukuran panjang lebih ku-rang 0,2 milimeter, kecuali pada betina bunting sam-pai 2 milimeter. Yang jantan berbentuk pipih oval memanjang, sedangkan yang betina oval agak mem-bulat. Jenis ini sering ditemukan mengerumuni biji- bijian sesudah panen, di lumbung, atau di gudang. Tungau ini berperan sebagai predator tungau hama atau hama lainnya, seperti ulat beras dan larva kum-bang bubuk.

Tungau Prapanen berbentuk oval memipih dengan panjang badan lebih kurang 0,5 milimeter, berkulit tipis, dan berwarna jernih. Tubuh yang jantan lebih kecil daripada yang betina. Inang utamanya biji-bijian sebelum dipanen atau di gudang. Pada manusia tungau ini pernah ditemukan pada tinja, saluran pencernaan, dan kandung kemih; gejalanya nyeri, mual, muntah, dan diare. Penyebarannya kosmopolitan.

Tungau Rumah berwarna jernih. Tubuh yang jan-tan lebih kecil daripada yang betina. Lama daur hidupnya sekitar tiga minggu. Bentuk pradewasanya dikenal sangat tahan terhadap kekeringan dan tahan hidup selama lebih kurang enam bulan. Habitatnya lantai rumah, gudang, kandang, maupun kamar yang lembap. Tungau ini sering juga ditemukan berkeru-mun pada perkakas rumah tangga, terutama yang su-dah rusak atau lapuk, serta pada reruntuk bangkai, jerami, rumput kering, tembakau, tepung, terigu, dan keju. Serangannya pada manusia menyebabkan gatal- gatal, radang kulit, dan asma. Selain itu, tungau ini dikenal juga sebagai induk semang perantara cacing pita pada tikus. Penyebarannya meluas di berbagai pelosok dunia.

Tungau Tebu-kadarsan suatu jenis tungau tebu yang berwarna kuning kehijauan pucat. Tungau ini ditemukan pertama kali pada permukaan atas dan bawah daun tebu di Pasuruhan, Jawa Timur. Serang-annya menyebabkan daun tebu berwarna keputih-pu-tihan.

Tungau Telinga berukuran panjang badan lebih kurang 0,5 milimeter. Yang jantan lebih kecil daripada yang betina. Kulitnya berkerut-kerut halus. Lama daur hidupnya sekitar 11 hari. Induk semang utamanya anjing, kadang-kadang kucing dan musang. Hidupnya di dalam lubang telinga. Selain menyebabkan gatal-gatal pada telinga, sehingga hewan sering menggaruk-garuk atau menggosok-gosokkan telinga dan menggoyang-goyangkan kepala, serangannya menimbulkan radang telinga, yang adakalanya disertai pendarahan.

Tungau Tikus berbentuk angka delapan Ucnj>an panjang badan lebih kurang 1 milimeter. Warnanya kemerahan. Tungau dewasanya hidup bebas di tanah atau lantai rerumputan dan semak belukar. Makanan-nya telur serangga dan binatang kecil lainnya. Lama daur hidupnya sekitar 40 hari. Induk semang utama-nya tikus, kadang kala juga mamalia lain, burung, dan manusia. Tungau ini juga dikenal sebagai penular tifus belukar. Penyebarannya meliputi Pakistan, India, Myanmar, Malaya, Indonesia, Filipina, Irian sampai Australia.

Tungau Umbi berwarna keputih-putihan redup de-ngan kaki cokelat kemerahan. Kulitnya halus dan mengkilap dengan bintik-bintik halus. Yang jantan lebih kecil daripada yang betina. Inang utamanya umbi tanaman, kadang-kadang jamur dan biji yang membusuk. Akibat serangannya, jaringan umbi maupun akar menjadi rusak, lalu membusuk, dan akhirnya mati. Inangnya lalat dan kumbang kecil. Penyebarannya kosmopolitan.

Tungau Unggas berwarna putih sampai merah ke-hitaman, tergantung pada sedikit atau banyaknya da-rah yang sudah diisapnya. Lama daur hidupnya seki-tar satu minggu. Induk semang utamanya unggas, seperti merpati, pipit, burung gereja, ayam, kadang- kadang manusia. Tungai menyerang pada malam hari, sedangkan siang hari bersembunyi di celah kandang unggas atau sarang burung. Dalam satu sarang pernah ditemukan sekitar 50.000 tungau; akibatnya, setiap anak burung kehilangan 3,5 persen darah setiap hari. Meskipun demikian, anak burung jarang ditemukan mati karena serangan tungau ini. Penyebarannya di daerah tropika.

Advertisement