PENGERTIAN TUMPENG

adsense-fallback

Pada awalnya merupakan salah satu kelengkapan sesaji pada masyarakat suku bangsa Jawa dan Sunda. Namun dalam perkembangannya, tumpeng kemudian menjadi salah satu bentuk tata boga khas Jawa yang merupakan kelengkapan berbagai upacara adat. Dewasa ini, sajian berbentuk tumpeng masih digunakan oleh orang Jawa dalam upacara-upacara mitoni, kelahiran, peringatan kelahiran, khitanan, pernikahan, pindah rumah, membangun rumah, panen, dan kematian. Bahkan di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda modern, tumpengan (sajian tumpeng) juga masih diselenggarakan pada acara hari ulang tahun seseorang atau sebuah perusahaan, dan peresmian suatu usaha, pabrik, atau gedung baru.

adsense-fallback

Bentuk Tata Boga Tumpeng. Sebuah tumpeng terdiri atas nasi tumpeng di tengah-tengah, dikelilingi oleh berbadai lauk dan kue yang disebut jajan pasar. Kadang-kadang, untuk upacara tertentu, sebuah tumpeng tidak hanya terdiri atas sebuah nasi tumpeng, melainkan juga dua atau lebih.

Nasi tumpeng dibuat dari bahan beras yang pulen, ditanak menjadi nasi yang tidak akas tidak pula lembek, sehingga mudah dibentuk. Ketika masih cukup panas, nasi itu dibentuk berbentuk kecurut dengan memadatkannya pada kukusan yang berfungsi sebagai cetakan. Dengan cara ini, nasi itu akan menggumpal menjadi bentuk kerucut.

Berbagai jenis lauk ditata di sekeliling nasi tumpeng. Ragam lauk ini berbeda-beda menurut keperluan upacaranya. Namun secara umum lauk itu terdiri atas kuluban, ingkung ayam, sayur, ikan asin, gorengan bacem, pala pendem, dan jajan pasar. Semua unsur tumpeng itu ditata indah pada sebuah nampan bulat terbuat dari anyaman bambu yang disebut tampah (nyiru). Sebelumnya, di atas tampah itu ditaruh alas daun pisang.

Ragam Tumpeng. Sesuai dengan jenis upacaranya, tumpeng terdiri atas beberapa macam. Yang terpenting adalah tumpeng robyong, tumpeng penganten, tumpeng megono, tumpeng pitonan, tumpeng bro- kohan, tumpeng tumbuk, dan tumpeng pungkur. Selain itu masih ada beberapa jenis tumpeng lain, yang biasanya dibuat untuk kelengkapan acara-acara yang lebih kecil, di antaranya tumpeng boyong, tumpeng tetesan, tumpeng sunatan, dan tumpeng wetonan. Tumpeng kelompok terakhir ini lebih sederhana kelengkapannya dibandingkan dengan jenis tumpeng kelompok pertama.

Tumpeng robyong dan tumpeng penganten merupakan tumpeng yang paling mewah dibandingkan dengan jenis tumpeng lainnya. Tumpeng robyong dulu hanya disajikan pada upacara-upacara besar yang dihadiri oleh banyak orang, misalnya upacara bersih desa, tulak bala (jika ada wabah penyakit), upacara musim tanam, upacara minta hujan, dan upacara sejenis itu. Namun kini tumpeng robyong juga dibuat untuk melengkapi upacara siraman (menjelang upacara penganten), ngunduh mantu, syukuran, dan kekahan.

Sebagai kelengkapan tumpeng robyong, selain nasi tumpeng berukuran besar, juga harus ada jajan pasar, bubur merah, bubur putih, bubur merah-putih, bubur baro-baro, dan bubur palang. Selain itu, di antara kuluban, juga harus ditaruh intuk-intuk, yakni nasi tumpeng berukuran kecil, dengan tusukan bawang merah dan cabai merah tertancap di puncaknya. Sebagai kelengkapan sesaji, biasanya disertakan pula kembang telon yang terdiri atas bunga mawar, melati, dan r enanga.

Tumpeng penganten mempunyai kelengkapan hampir serupa dengan tumpeng robyong. Bedanya, nasi tumpengnya berbentuk kecurut terpotong, sedangkan potongan nasi tumpeng itu kemudian dijadikan intuk-intuknya. Beda lainnya adalah pada pembuatan kuluban, kacang panjangnya tidak dipotong- potong melainkan dibiarkan utuh panjang. Kacang panjang itu disusun melingkari bagian kaki nasi tumpeng. Selain itu tumpeng pengantin harus dilengkapi dengan sayur lodeh keluwih. Jajan pasarnya sedikitnya ada lima rupa.

Pada tumpeng tumbuk untuk upacara tumbuk ageng, yaitu peringatan hari kelahiran ke-64 tahun menurut perhitungan kalender Jawa, nasi tumpengnya berupa nasi kuning. Pada tumpeng tumbuk ini, kacang panjang bukan disusun melingkari kaki nasi tumpeng melainkan dibujurkan dari kaki ke puncak nasi tumpeng.

Tumpeng megono dulu hanya dibuat pada acara syukuran kenaikan pangkat, jabatan, atau gelar (dari raja). Maksudnya agar si penerima kenaikan pangkat dapat kuat menjalani pangkat dan jabatannya yang baru. Di masyarakat suku bangsa Sunda tumpeng megono disebut tumpeng begana.

Tumpeng pungkur, yang dibuat untuk menyertai upacara selamatan orang meninggal, berbentuk dua belahan nasi tumpeng dan diletakkan saling membelakangi. Tumpeng pungkur dihidangkan tanpa intuk- intuk. Pada susunan tumpeng ini tidak disertakan jajan pasar, melainkan ketan kolak apem.

Perlambang. Bentuk tumpeng dan bahan pembuatanya mengandung perlambang yang mencerminkan harapan akan datangnya keselamatan dan kesejahteraan. Bentuk kerucut nasi tumpeng melambangkan gunungan, sifat awal dan akhir, yang merupakan salah satu sifat alam dan manusia, yakni berawal dari Tuhan, dan berakhir pada Tuhan pula. Khusus pada tumpeng penganten yang terdiri atas dua bagian, yakni potongan atas dan potongan bawah, kerucut melambangkan lingga dan yoni, yaitu lambang kesuburan, sekaligus lambang kekuatan.

Cabai merah dan bawang merah yang ditancapkan p: da ujung intuk-intuk adalah lambang permohonan atau doa kepada Tuhan. Oleh sebab itu, pada acara yang mengandung permohonan atau harapan baik, misalnya upacara pernikahan, kelahiran, pindah rumah (boyongan), dan membangun rumah, tumpeng selalu dilengkapi dengan intuk-intuk. Tumpeng untuk upacara yang mengandung permohonan berat, seperti minta hujan, bersih desa, jumlah intuk-intuknya sampai tujuh buah.

Kuluban, yang antara lain terdiri-atas tauge (kecambah), kacang panjang, kangkung, masing-masing juga membawakan perlambang tertentu/Tauge, yang oleh orang Jawa disebut tokolan, melambangkan kesuburan dan kemudahan hidup. Kacang panjang melambangkan panjang umur dan kesabaran. Kangkung melambangkan sikap supel, gampang beradaptasi pada lingkungan. Kuluban untuk tumpeng tidak boleh menggunakan daun bayam.

Sayur lodeh keluwih melambangkan harapan hidup berkelebihan. Dalam bahasa jawa, “luwih” berarti lebih. Jajan pasar merupakan lambang keakraban keluarga dan lambang banyak kawan. Pala pendem merupakan lambang kesederhanaan, tidak suka pamer kekayaan, pamer kepandaian. Ingkung ayam merupakan lambang keikhlasan berkurban.

Tumpeng Modern. Karena berubahnya nilai estetika dan makin kaburnya nilai perlambang yang terkandung dalam tumpeng, sejak sekitar tahun 1970- an bentuk penataan tumpeng mulai banyak berubah. Dulu kuluban, tempe dan tahu bacem, serta gereh petek diletakkan berserak di sekitar nasi tumpeng, sedangkan ingkung, pala pendem, bubur, jajan pasar dan kembang telon diletakkan terpisah dari tampah yang berisi tumpeng. Pada jaman dulu, yang di-pentingkan pada pembuatan sebuah tumpeng adalah kelengkapan bahan tumpeng dan kebenaran cara pem-buatannya, sedangkan pada tumpeng modern, yang lebih dipentingkan adalah keindahan cara meletakkan bahan-bahan tumpeng itu.

Karena seringnya diadalan “lomba tumpeng” oleh berbagai organisasi wanita dengan juri yang kurang faham mengenai pembuatan tumpeng, faktor keindahan, estetika, dan juga faktor gizi tumpeng modern lebih diperhatikan.

Pada tumpeng modern puncak nasi tumpeng biasanya ditutup dengan daun pisang muda yang dibentuk kerucut. Kadang-kadang juga diberi tusukan bawang dan lombok merah, seperti halnya pada intuk-intuk. Agar tampak lebih meriah, tumpeng modern kadang- kadang juga dihias dengan daun seledri, wortel, dan juga tomat buah. Padahal, pada jaman dulu seledri, wortel, dan tomat sama sekali bukan bahan untuk membuat tumpeng. Bahkan agar tampak lebih indah, ada pula yang menghiasi tumpeng modern dengan boneka-bonekaan atau ayam-ayaman terbuat dari bahan sayuran dan buah.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback