Advertisement

Sebenarnya berarti manfaat. Kata tuah lazim dikaitkan dengan benda-benda pusaka. Pemilik benda pusaka, misalnya keris, tombak, wedung, pedang, kujang, kudi, dll., pada umumnya percaya bahwa benda- benda itu mempunyai tuah. Dalam masyarakat Jawa tuah disebut angsar, daya luwih, atau yoni.

Cerita tentang tuah keris atau benda pusaka lainnya sering kali dilebih-lebihkan orang. Dalam masyarakat banyak terdengar cerita tentang tuah suatu benda yang, misalnya, dapat menyebabkan pemiliknya jadi sakti atau kebal, tentang keris yang bisa berubah menjadi ular; tombak yang dapat berubah menjadi kobaran api; destar yang dapat berubah menjadi lebar kalau ditaruh di atas tanah, dll.

Advertisement

Beberapa ahli keris berpendapat bahwa tuah yang terdapat pada keris atau benda pusaka lainnya sebenarnya terjadi karena adanya kandungan berkat Tuhan (berkah Ilahi) dalam benda itu. Berkat itu ada karena permohonan dan doa seseorang pada Tuhan. Sejak masa persiapan pembuatan keris, seorang empu berdoa agar keris buatannya mendapat berkat dari Tuhan. Begitu pula selama masa pembuatan dan setelah selesai, keris itu selalu diiringi dengan doa dan mantra. Karena terkabulnya doa dan permohonan sang empu itulah, para ahli keris berpendapat, keris itu menjadi suatu benda yang bertuah.

Karena adanya kepercayaan terhadap tuah ini, hampir semua keraton di Pulau Jawa, Bali, dan daerah lainnya, memiliki benda-benda pusaka yang diyakini ada tuahnya. Keraton Kesultanan Yogyakarta, misalnya, memiliki ratusan benda pusaka yang dianggap bertuah, baik berupa keris, tombak, pedang, pataka, gamelan, kereta kencana, dll. Salah satu pusaka keraton itu yang terkenal adalah tombak pusaka Kangjeng Kiai Ageng Plered. Di Surakarta, seekor kerbau bernama Kiai Slamet dipercaya memiliki tuah untuk ke-sejahteraan.

Bermacam Tuah. Pada umumnya, tuah suatu benda adalah berkah untuk keselamatan dan kesejahteraan pemiliknya. Tetapi ada pula tuah lain yang bersifat khusus. Misalnya keris atau tombak yang mempunyai tuah singkir g rama, yaitu menjauhkan bahaya api atau kebakaran. Tuah semacam ini oleh orang awam sering disebut cung-pet. Ada pula tuah singkir baya, yang dianggap bermanfaat untuk menghindarkan berbagai musibah dan kecelakaan.

Selain benda pusaka, rajah, yakni semacam lukisan tertentu, juga dianggap memiliki tuah. Demikian pula isi m, doa yang ditulis dengan cara tertentu, juga dianggap bertuah oleh sebagian orang. Pada berbagai suku bangsa di Indonesia, kata-kata orang yang berilmu dan kata-kata seorang ibu kadang-kadang juga f dianggap bertuah, karena konon sering terbukti.

Advertisement