Advertisement

Sembahyangan umat Hindu untuk mengadakan hubungan dengan Hyang Widhi Wasa. Trisandhya umumnya dilakukan pada saat fajar menyingsing, tengah hari, dan sandikala, serta pada waktu diadakannya sembahyangan bersama di mra- jan atau di pura. Dalam upacara ini dipergunakan air suci (tirtha), api pedupaan, dan kembang.

Trisandhya diawali dengan mengatur pernapasan yang dimulai dengan puraka (menarik napas perlahan-lahan), kemudian kumbhaka (menahan napas), hingga recaka (mengeluarkan napas perlahan-lahan) disertai mantra-mantra Gayatri. Selama mengucapkan mantra-mantra, konsentrasi dipusatkan pada Hyang Widi Wasa. Selesai mengucapkan mantra dilakukan sujud lima kali disertai penyalaan dupa dan penaburan kembang. Upacara ini diakhiri dengan memercikkan air suci di ubun-ubun, meminumnya, dan mengusapkannya di wajah, masing-masing tiga kali berturut-turut.

Advertisement

Sembahyangan ini dapat dilakukan dengan posisi bersila (untuk pria), bersimpuh (untuk wanita), atau berdiri, tergantung pada situasi dan kondisi tempat sembahyang dilakukan. Untuk menyambut hari besar atau hari raya keagamaan, upacara ini dilengkapi dengan puasa, semadi, dan tapa brata bagi orang dewasa serta bagi yang mampu melaksanakannya.

Advertisement