PENGERTIAN TRIPITAKA

adsense-fallback

Atau tipitaka, adalah kitab suci bagi penganut Budha. Secara harfiah Tripitaka berarti tiga kumpulan. Judul ini merujuk pada tiga kumpulan naskah suci, yaitu yang berkaitan dengan aturan (vinaya) dan disebut Vinaya Pitaka, yang berkaitan dengan ajaran (dhamma atau sutta) dan disebut Sutta Pitaka, serta yang berkaitan dengan ajaran khusus {abhi- dhamma) dan disebut Abhidhamma Pitaka.

adsense-fallback

Ajaran Budha Gotama mula-mula dilestarikan melalui beberapa pasamuan Sangha. Tiga pasamuan pertama menghasilkan berbagai naskah yang kemudian dikumpulkan dan, dalam bahasa Pali, disebut Tipitaka atau, dalam bahasa Sanskerta, Tripitaka. Pasamuan pertama terbentuk kira-kira tiga bulan setelah Budha Gotama wafat. Dalam pasamuan yang dipimpin oleh Maha Kassapa ini Ananda dan Upali membeberkan ajaran (dharma) dan aturan yang pernah mereka ketahui dan terima selama Budha Gotama hidup. Setelah ajaran dan aturan itu dipadu, hasil pertemuannya di-standarisasi dan dilestarikan. Walaupun pelestariannya masih dilakukan melalui tradisi lisan, pertemuan ini telah membentuk Vinaya Pitaka dan Sutta Pitaka.

Pasamuan kedua dilaksanakan kira-kira seratus tahun setelah pasamuan pertama berlangsung. Dua pertemuan ini dicatat dalam Vinaya Pitaka dan beberapa naskah lainnya. Setelah itu, pasamuan ketiga terjadi pada masa pemerintahan Raja Asoka. Seperti pertemuan kedua, pertemuan ini pun berhasil menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan aturan maupun ajaran. Dalam pertemuan ini Tissa Mogali- putta menyusun kitab Kathavatthu-pakarana yang menjadi bagian dari Abhidhamma Pitaka. Dengan demikian lengkaplah seluruh Tipitaka. Berdasarkan catatan ini para ahli menyimpulkan bahwa kompilasi Tipitaka berbahasa Pali baru selesai pada masa itu.

Setelah pertemuan ketiga, masih ada lagi pasamuan keempat yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Kaniska, sekitar tahun 100 M. Pertemuan ini tidak diakui oleh Aliran Selatan tetapi mendapat perhatian besar dari Aliran Utara. Dalam pertemuan itu aliran Sarvastivada dipandang mendominasi pertemuan dan bahasa Sanskerta agaknya telah menggantikan kedudukan bahasa Pali. Itu sebabnya naskah Tipitaka berbahasa Pali dipandang sebagai hasil karya aliran Sthaviravada, sedangkan yang berbahasa Sanskerta dipandang sebagai hasil penganut aliran Sarvastivada. Sayangnya naskah berbahasa Sanskerta tidak terwariskan secara lengkap, kecuali yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.

Dari pembandingan dua sumber naskah yang berbeda bahasa, naskah berbahasa Sanskerta diduga berasal dari sumber-sumber tua. Hal ini bertentangan dengan praduga bahwa naskah berbahasa Pali adalah satu-satunya versi asli, walaupun harus diakui bahwa naskah inilah yang lebih dulu dikompilasi. Di sisi lain, sejalan dengan bertambahnya percabangan aliran dalam agama Budha, berbagai jenis naskah yang berkaitan dengan ajaran Budha semakin banyak ditulis oleh para ahli. Ada yang berupa komentar atau penjelasan terinci dan ada pula yang berupa sutra. Yang berbentuk sutra berkaitan dengan meningkatnya perkembangan aliran Mahayana setelah kelahiran Nagarjuna. Mulai saat itu pengertian kitab suci bagi penganut Budha, khususnya dalam kalangan Mahayana, mengalami sedikit pergeseran. Kitab suci penganut Budha bukan lagi sekadar Tripitaka melainkan juga semua kumpulan sutra-sutra Mahayana, yang sering disebut Vaipulya-sutra.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback