Advertisement

Falsafah perjuangan dan pengabdian yang tidak tertulis melainkan sudah meresap ke dalam hati setiap insan kerabat dan trah (keturunan) Mangkunagaran melalui pendidikan mental dan pekerjaan sehari-hari. Namun ajaran ini dapat dibaca sejak didirikannya Monumen Tri Dharma oleh Yayasan Mangadeg, Surakarta, pada tahun 1971. Tri Dharma meliputi: Rumangsa me lu handarbeni, Wajib melu hanggondheli (hangrungkepi), Mulat sarira hangrasa wani. Artinya: merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan, setelah mawas diri merasa berani berbuat. Tri Dharma merupakan manifestasi gagasan Pangeran Sambernyowo dan pembantu-pembantu dekatnya, yaitu Kiai Tumeng-gung Kudonowarso dan Kiai Ngabei Ronggo- panambang, serta seluruh anggota pasukan tempur dan rakyat Mangkunagaran pada saat melawan kekuasaan dan kekuatan Belanda yang menyelinap di dalam pemerintahan negara Kartosuro. Ikrar bersamanya berbunyi: “Tiji Tibeh” atau Mati siji mati kabeh, Mukti siji mukti kabeh. Artinya, mati seorang mati semua, sejahtera seorang sejahtera semua.

Advertisement
Advertisement