Advertisement

Ajaran di dalam Gereja Katolik yang menerangkan apa yang akan terjadi bila Kristus hadir di dalam Ekaristi walaupun bentuk roti dan anggur tetap ada. Menurut ajaran filsafat Yunani, segala sesuatu di dunia ini memiliki hakikat (substantia) yang menjadikannya benda atau makhluk, sedangkan bentuk konkret ditambahkan kepadanya tetapi tidak mengubah hakikatnya.

Dalam Ekaristi – menurut ajaran Thomas Aquinas – seluruh hakikat roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus, walaupun bentuk roti dan anggur tetap ada. Menurut beberapa teolog sebelum Reformasi, kehadiran Kristus secara ajaib dalam roti dan anggur merupakan misteri yang semata-mata harus diterima karena kemahakuasaan Ilahi yang tak mungkin diterangkan. Para Reformator juga menolak penggunaan kata transubstantiasi karena kata ini tidak terdapat di dalam Kitab Suci, atau memakai istilah kon- substantiasi untuk menekankan kebersamaan hakikat roti dan anggur, serta tubuh dan darah Kristus.

Advertisement

Konsili Trente (1545-1563) mendukung istilah transubstansia untuk perubahan roti dan anggur, yang dalam Perjamuan Suci, menjadi tubuh dan darah Kristus. Istilah ini tidak boleh dibuang lagi dari ajaran- ajaran Gereja walaupun boleh dilengkapi dengan istilah lain, misalnya transfinalisasi atau transignifikasi, asal tidak memperlemah keyakinan Gereja bahwa bukan iman manusia yang menghadirkan Kristus melainkan Kristus sendiri yang mempertemukan diriNya dengan orang yang menerimaNya.

Advertisement