PENGERTIAN TRANSKEI

adsense-fallback

Adalah sebuah negara republik yang menyatakan diri merdeka pada tanggal 26 Oktober 1976 dengan dukungan pemerintah Afrika Selatan, tetapi tidak diakui oleh dunia internasional dan Perserikatan Bangsa-bangsa. Negara ini terletak di bagian timur wilayah Afrika Selatan. Wilayahnya dikelilingi oleh wilayah Afrika Selatan, walaupun ke arah barat laut sedikit berbatasan dengan Lesotho. Transkei merupakan bekas salah satu tanah air bagi orang kulit hitam yang dibentuk oleh bangsa kulit putih. Transkei terdiri atas tiga wilayah yang masing-masing saling terpisah oleh wilayah Afrika Selatan. Dua wilayahnya yang terletak di pedalaman jauh lebih kecil dibandingkan dengan wilayah yang langsung berhubungan dengan laut. Luas keseluruhan wilayah Transkei sekitar 41.000 kilometer persegiN Ibu kotanya Umtata.

adsense-fallback

Warga Transkei yang berkulit hitam secara umum disebut suku bangsa Xhosa, karena sebagian besar di antara mereka adalah keturunan kelompok etnik Xhosa. Walaupun penduduk Transkei tercatat sekitar 2.200.000 jiwa, yang tinggal di wilayah Transkei sendiri hanya sekitar separonya saja. Banyak di antara mereka yang bekerja di Afrika Selatan, wilayah orang Eropa, meskipun mereka menganggap Transkei sebagai tanah airnya. Di Afrika Selatan, mereka bekerja di pertambangan emas, berlian, dan industri logam dan baja, serta sebagai pembantu rumah tangga. Semakin banyak penduduk Transkei yang tinggal di pinggiran kota-kota besar tempat mereka bekerja, misalnya Johannesburg. Pertanahan daerah ini dibiarkan berupa padang rumput dan padat penduduknya. Mereka yang tinggal kebanyakan adalah para wanita dan anak-anak yang menggantungkan hidupnya dari mereka yang bekerja di wilayah Afrika Selatan.

Ekonomi Transkei sangat tergantung pada pemerintah Afrika Selatan. Lebih dari 70 persen pendapatan wilayah ini berasal dari upah warga yang bekerja di Afrika Selatan. Untuk menjalankan roda pemerintahan Transkei, tiga perempat anggaran pemerintahan lokal masih disubsidi oleh pemerintah Afrika Selatan.

Pada Tahun 1894, Transkei diberi wadah perwakilan untuk mewakili orang kulit hitam. Institusi-institusi ini kemudian berkembang menjadi Dewan Jenderal Wilayah-wilayah Transkei. Mereka dipilih tetapi hanya berfungsi sebagai penasihat bagi penguasa-penguasa kulit putih.

Konstitusi baru, yang diberlakukan secara efektif tahun 1963, menjamin adanya otonomi lokal yang lebih luas. Pemilihan umum diadakan tahun 1963 untuk membentuk Majelis Legislatif dengan 109 anggota; 45 di antaranya dipilih oleh warga Afrika Transkei dan 64 lainnya adalah para kepala daerah. Kaisar Mantanzina dipilih untuk mempersiapkan kemerdekaan. Pengawasan terhadap keuangan, pendidikan, dan pemerintahan lokal diserahkan kepada majelis legislatif, tetapi parlemen nasional tetap mempertahankan pengawasan terhadap keamanan dalam negeri, hubungan luar negeri, serta banyak tahap kehidupan ekonomi.

Pada tanggal 26 Oktober 1976, Afrika Selatan mengumumkan wilayah independen tersebut sebagai Republik Transkei. Botha Sigcau, pimpinan partai Pembebasan Nasional Transkei menjadi presiden pertama. Meskipun demikian proklamasi ini tidak segera mendapat tanggapan dan pengakuan dari banyak negara lain. PBB dan Organisasi Kesatuan Afrika ^OAU) juga tidak mengakui keberadaan negara baru ini dan melarang anggotanya untuk berhubungan dengan Transkei. Pemberian kemerdekaan ini dikritik sebagai usaha pemerintah Afrika Selatan untuk mengurangi kritik tentang kebijaksanaan apartheid yang dilaksanakan di Afrika Selatan.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback