PENGERTIAN TOXOPLASMA GONDII

adsense-fallback

Suatu jenis hewan bersel satu, termasuk kelas Sporozoa, yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis. Hidupnya di dinding usus kecil kucing dan binatang sekerabatnya (Felidae), seperti harimau, macan tutul, dan kucing hutan, yang menjadi hospes tetapnya. Parasit ini tersebar luas di seluruh dunia, pada manusia maupun hewan, dan menyebabkan masalah ekonomi yang besar di Inggris, Selandia Baru, dan Jepang, karena menyebabkan keguguran pada domba dan babi. Jasad renik ini juga menyebabkan masalah kesehatan, karena dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat mental maupun fisik jika parasit ini menginfeksi ibu yang sedang hamil.

adsense-fallback

Parasit ini berkembang biak di selaput lendir usus kecil kucing secara aseksual dan seksual, menghasilkan ookista yang kemudian dikeluarkan bersama tinja kucing. Bila ookista yang berbentuk bulat atau bujur ditelan oleh kucing, di dalam usus kecilnya terjadi lagi daur aseksual dan daur seksual yang menghasilkan ookista. Pada infeksi akut, parasit masuk dalam badan kucing sebagai takizoit, yaitu trofo- zoit yang membelah cepat; sedangkan pada infeksi menahun sebagai kista berisi bradizoit, yaitu trofozoit yang membelah perlahan-lahan. Kista ditemukan seumur hidup dalam organ-organ tubuh, terutama otak. Bila hospes perantara, yaitu mamalia lainnya (termasuk manusia) dan burung, menelan ookista, terjadilah infeksi sehingga ditemukan takizoit atau kista dalam berbagai organ tubuhnya.

Tikus dan burung yang terinfeksi merupakan sumber infeksi untuk kucing, karena sering dimangsa oleh kucing. Karnivora mendapat infeksi dengan memakan tia ing yang mengandung kista, misalnya tikus memakan bangkai tikus atau sisa-sisa daging mentah dari pejagalan. Herbivora akan terinfeksi bila memakan rumput yang terkontaminasi tinja kucing yang mengandung ookista.

Seekor kucing dapat mengeluarkan 10 juta ookista sehari selama dua minggu. Ookista dapat hidup sampai satu tahun dalam tanah yang lembap dan teduh. Manusia terinfeksi bila memakan daging setengah matang (satai, steak) yang mengandung kista, atau bila ookista tertelan, misalnya sewaktu memakan sayur m mentah atau hidangan yang terkontaminasi ookista melalui lalat atau lipas. Faktor lain yang memudahkan penularan antara lain kebiasaan tidak cuci tangan setelah berkebun, bermain di tanah, atau setelah memegang kucing. Bila seorang ibu yang sedang hamil mendapat infeksi parasit ini, ada kemungkinan janinnya tertulari, sehingga menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, atau bayi lahir dengan toksoplasmosis kongenital. Bayi yang lahir dengan penyakit ini dapat lahir prematur, atau cukup bulan dengan cacat bawaan, misalnya kejang, lumpuh, kepala besar (hidrosefa- lus). kepala kecil (mikrosefalus), radang retina mata (,korioretinitis), buta, dan keterbelakangan mental maupun fisik.

Toksoplasmosis yang diperoleh setelah lahir biasanya timbul tanpa gejala apapun. Kadang-kadang saja timbul pembesaran pada kelenjar limfe, disertai demam ringan dan sakit kepala yang dapat berlangsung sampai beberapa minggu. Pada orang yang menderita kekurangan kekebalan (imunodefisiensi), infeksi laten dapat menimbulkan gejala, dan pada penderita penyakit AIDS dapat menyebabkan kematian. Diag- nosi toksoplasmosis dibuat dengan tes serologi (ELI- SA).

Penyakit ini biasanya diobati dengan sulfa, pirime- tamin, spiramisin dan klindamisin, yang dapat membunuh takizoit, tetapi tidak efektif terhadap kista. Toksoplasmosis yang tidak disertai gejala klinik tidak perlu diberi pengobatan. Bayi yang dilahirkan dengan toksoplasmosis kongenital diobati dengan rangkaian pengobatan sulfa dan pirimetamin selama sebulan, bergantian dengan rangkaian pengobatan spiramisin selama sebulan sampai umur satu tahun.

Toksoplasmosis dapat sembuh sempurna tanpa gejala sisa, tetapi toksoplasmosis bawaan mungkin berakhir dengan kematian, atau menjadi penyakit menahun dengan gejala sisa yang sewaktu-waktu kambuh menjadi akut. Seorang ibu hanya mempunyai kemungkinan sekali saja melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital, karena pada ibu yang su-dah kebal, parasit ini tidak dapat melalui plasenta lagi.

Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan menghindari makan daging setengah matang, menghindari kontak dengan tinja kucing, dan mencuci tangan dengan bersih setelah berkebun atau setelah kontak dengan tanah, memegang daging mentah (masak, jagal, | penjual daging) dan setelah memegang kucing. Selain “itu upaya yang dapat dilakukan adalah menjauhkan makanan dari lalat dan lipas, mencuci bersih sayur lalap, memberi makanan matang kepada kucing, serta mencegah kucing berburu tikus dan burung. Pencegahan terutama ditujukan pada wanita hamil yang belum kebal.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback