Advertisement

Unsur berupa logam radioaktif yang lunak dengan kilap keperakan. Torium termasuk dalam deret aktinida. Logam ini pertama kali ditemukan oleh Jons J. Berzelius, ahli kimia Swedia dalam tahun 1828. Logam ini diberi nama menurut nama dewa Thor. Torium (isotop Th-232) digunakan untuk membuat U-233, suatu bahan bakar reaktor nuklir. Ini dilakukan dalam reaktor pembiak. (Lihat RADIOAKTIVITAS). Torium juga digunakan untuk membuat aliase (bersama magnesium) yang kuat dan tahan panas, yang digunakan dalam roket dan pesawat terbang. Sel fotolistrik yang dirancang untuk mengukur intensitas cahaya ultraviolet juga menggunakan logam torium. Tabung vakum menggunakan logam torium untuk menyerap kelumit atom nitrogen dan oksigen.

Beberapa senyawa torium digunakan dalam pembuatan keramik, kaca optis, bahan bakar reaktor nuklir, obat dan peralatan elektronik.

Advertisement

Torium terdapat dalam berbagai mineral, antara lain monazit dan torit, yang terdapat terutama di Brasil, India, dan Afrika Selatan. Diperkirakan kandungan torium dalam kerak bumi 0,001 – 0,002 persen.

Logam torium diperoleh dengan (1) reduksi torium tetrafluorida dengan kalsium, dengan zink klorida sebagai fluks; (2) reduksi torium oksida dan klorida dengan kalsium, magnesium, atau natrium; (3) elektrolisis lelehan campuran torium fluorida, kalium sianida, dan natrium klorida. Torium juga merupakan hasil samping dalam proses pemulihan unsur-unsur tanah-langka.

Torium mempunyai lambang kimia Th, nomor atom 90, dan massa atom relatif 232,038. Torium meleleh pada 1.750°C dan mendidih sekitar 4.000°C. Rapatannya 11,2 gram per sentimeter kubik. Ada 13 isotop torium, namun yang terdapat dalam alam adalah torium-232, dengan waktu paro 1,39 x 10’° tahun.

 

Advertisement