Advertisement

Atau tari Gondang, adalah tari tradisional suku bangsa Batak, Sumatra Utara. Tarian rakyat yang sudah ada pada Jaman Indonesia-Hindu ini berlatar belakang adat. Karena tujuannya untuk menghormati arwah para dewa serta para leluhur, Tor-tor ditarikan dalam suasana penuh khidmat. Tari yang mengandung unsur ritual dalam pertunjukannya ini biasanya diiringi gondang (gendang). Tari ini lazim digelarkan dalam upacara-upacara adat penting, seperti Pesta Bius (pengorbanan), Mangase Taon (tahun baru), Pesta Saring-saring (pesta belulang), dan banyak upacara penting lainnya.

Secara keseluruhan tari Tor-tor dapat dibagi atas tujuh bagian. Tari pembuka, yang disebut Gondang Mula-mula, diawali dengan tabuhan gendang bertalu- talu. Pada saat terdengar suara gendang, para penari mulai mengambil sikap menyembah dengan mengangkat tangan lewat gerak-gerak halus yang anggun. Bagian ini ditujukan untuk memuja Tuhan Sang Pen- cipta.

Advertisement

Gondang Dewata yang merupakan bagian kedua ditujukan untuk menghormati para dewata. Pada bagian ini gerakan para penari mulai hidup dan bebas mengikuti tabuhan gondang yang riuh dan gemuruh dengan mempertahankan keanggunan dan kekuatannya. Pada bagian ini, ulos yang semula dililitkan di badan mulai dikibaskan, sementara para penari membuat gerak berputar di tempat sambil menyembah.

Tari Tor-tor bagian ketiga merupakan gerak peng-hormatan kepada roh leluhur. Gerak tarinya kian rampak dengan liukan pinggang dan jemari diiringi kerlingan mata. Irama musik pengiringnya semakin cepat dan bersemangat.

Bagian keempat dan kelima diawali dengan tari Kisah”(Mangaliat) yang khusus dipersembahkan kepada para hadirin dengan tujuan memohon kemakmuran. Irama musik pengiringnya tidak lagi rampak bersemangat namun bervariasi dari andante, maestoso, ke irama mars. Pada beberapa posisi, penari pria meletakkan tangan di atas kepala penari wanita sebagai tanda memberi berkat, sementara itu penari wanita menaruh tangan secara terbuka di bawah dagu penari pria sebagai tanda menerima berkat.

Bagian berikutnya, bagian keenam, dinamakan Tor-tor Sitiotie atau tari kemurnian. Musik pengiring, nya kini berirama tenang dan agung. Para penari kembali di tempatnya masing-masing dengan sikap hormat, seakan tengah menyembah menantikan sesuatu. Bagian keenam ini relatif singkat, dan kemudian dilanjutkan ke tari Gondang Hasatan atau gondang pencapai tujuan yang merupakan bagian ketujuh. Pada bagian ini yang dipergelarkan adalah sesembahan. Para penari menarik ulosnya yang tersandang lalu mengangkat tangan sambil berteriak horas. Kedua bagian ini ditarikan dengan tujuan untuk memperoleh kesehatan rohani dan jasmani.

Advertisement