Advertisement

Merupakan salah satu kesenian tradisional Betawi yang masih bertahan hingga kini. Topeng Betawi, yang sejak dulu sangat digemari masyarakat, merupakan paduan tari, musik, sandiwara, dan lawak. Karena penyampaiannya menggunakan logat Betawi, tontonan ini sangat komunikatif dengan penontonnya.

Topeng Betawi biasanya ditampilkan sebagai tontonan rakyat untuk memeriahkan upacara atau acara tertentu. Kesenian ini sering pula digelar di pinggir jalan; sebagai imbalannya mereka meminta derma dari penonton. Pertunjukan yang umumnya dimulai setelah jam 20.00 ini diawali pembakaran kemenyan dan doa-doa yang dibawakan oleh panjak, pimpinan Topeng Betawi.

Advertisement

Pertunjukan Topeng Betawi diawali permainan tetalu dengan iringan gamelan yang terdiri atas kendang, rebab, kenong, bonang, gong, kecrek, tok-tok kayu, dan gambang. Gending ini berfungsi untuk mengumpulkan penonton. Setelah penonton terkumpul, tarian pertama yang ditampilkan adalah tari Topeng Kedok. Sebagai pembuka tarian, didendangkanlah rebab yang membawakan lagu arang-arangan tetalu. Setelah lagu berakhir tampillah penari topeng menunjukkan kebolehannya. Mula-mula mereka menari tanpa topeng. Setelah menginjak gending tetopengan, barulah para penari mengenakan topeng yang menggambarkan wanita cantik berkulit kuning, yang disebut Topeng Subadra.

Pada saat tempo dan irama lagu meningkat, para penari berganti topeng berwarna merah muda yang disebut Topeng Srikandi. Pada puncak tariannya penari mengganti lagi topengnya dengan yang berwarna merah tua atau jingga. Diiringi gamelan dengan lagu Gonjing, penari menampilkan gerakan-gerakan tangkas, tegas, dan gagah. Selagi tarian masih berlangsung, biasanya seseorang mulai meminta derma kepada penonton.

Lamanya pementasan Topeng Betawi bisa dilihat dari jumlah lampu penerang yang menyala. Dan ini sangat ditentukan oleh derma yang terkumpul. Bila yang menyala satu lampu, kelompok ini hanya menyuguhkan tari Topeng saja. Bila yang menyala dua lampu, akan dipertontonkan juga Kembang Topeng, sedangkan bila yang menyala tiga lampu, pertunjukan akan berlangsung hingga adegan terakhir.

Seusai tari Topeng, pementasan dilanjutkan dengan tari Kembang Topeng. Dalam tarian ini para penari tidak memakai kedok sehingga lebih bebas. Dalam adegannya terdapat gerakan-gerakan erotis, dan karena itulah adegan ini sering disebut Ronggeng Topeng. Di bagian ini yang tampil bukan hanya penari wanita tetapi juga penari pria yang muncul dengan gerakan erotis namun jenaka. Untuk lebih menyegarkan suasana, pada saat-saat tertentu ketika tarian dan gamelan berhenti, terdapat dialog Bodoran yang bersifat spontan. Tari Topeng dan Kembang Topeng adalah bentuk kesenian yang masing-masing berdiri sendiri. Cerita yang disajikan juga tidak saling ber-hubungan, namun ketika berpentas kedua tarian ini jarang dipisahkan.

Inti pertunjukan Topeng Betawi terletak pada Lakon Topeng. Pementasannya membutuhkan waktu terpanjang, terkadang hingga dua pertiga dari waktu yang tersedia. Pada dasarnya lakon dan kostum Topeng Betawi berbeda dengan lakon dalam teater rakyat Betawi lainnya seperti Lenong, Topeng Blantek, serta Jipeng. Namun gejala kelenong-lenongan Topeng Betawi tampak pada pertunjukannya. Dalam Topeng Betawi terdapat keseimbangan antara konflik yang bersifat fisik dan yang bersifat kejiwaan, sedangkan dalam Lenong, konflik fisik tampak lebih menonjol.

Dalam Topeng Betawi, Lakon Topeng biasanya terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama adalah Ubru Betawi atau banyolan pendek, bagian kedua Bapak Sarkawi atau Wayang Sarkawi, dan bagian terakhir adalah Bapak Janthuk. Bapak Janthuk yang merupa kan bagian terakhir dari Topeng Betawi merupakan unsur tradisional asli. Namun adegan terakhir ini jus- tru sering terpotong karena waktunya yang terbatas tersita oleh adegan-adegan sebelumnya. Plot cerita’ pembagian adegan, lagu-lagu, maupun pantun-pantun dalam Bapak Janthuk hampir tidak pernah berubah Adegan ini umumnya berisi nasihat kehidupan berumah tangga.

Kesenian Betawi kini terancam punah, terutama karena remaja yang menyenanginya kian menyusut banyaknya. Untuk melestarikannya Pemda DKI Jaya melakukan banyak upaya, termasuk menyelenggarakan festival Topeng Betawi setahun sekali, serta membentuk Lembaga Kebudayaan Betawi dan Pusat Pengembangan Kesenian Betawi.

Advertisement