PENGERTIAN TONGTONG

adsense-fallback

Atau kentungan, kentongan, atau kentung-kentung, adalah alat komunikasi sederhana tetapi dianggap penting, yang sampai sekarang masih digunakan di daerah pedesaan di Indonesia. Bunyi tongtong mengisyaratkan bermacam-macam peringatan atau pemberitahuan kepada khalayak. Umpamanya, sebagai tanda bahaya dan musibah, seperti dalam peristiwa perampokan, pembunuhan, kebakaran, dan banjir. Alat ini juga digunakan sebagai tanda waktu, seperti pada saat sahur dan berbuka puasa selama bulan Ramadan, serta untuk mengumpulkan massa sebagai ajakan mengadakan pertemuan atau upacara adat.

adsense-fallback

Tongtong biasanya ditempatkan di pos penjagaan atau di balai desa. Pada umumnya tongtong berbentuk memanjang, sekitar setengah sampai satu meter, dan terbuat dari bambu atau kayu berongga sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring jika dipukul. Ada sebuah lagu dalam bahasa Jawa, “Tembang Gambuh” namanya, yang liriknya menyebutkan bahwa dua kali bunyi tongtong berturut-turut menandai terjadinya pencurian, tiga kali menandai peristiwa kebakaran, dan empat kali menandai musibah banjir.

Dalam bahasa Jawa alat komunikasi ini disebut kenthongan, bahasa Sunda kohkol, dan bahasa Bali kulkul. Pembuatan kulkul di Bali sering diawali dengan upacara ritual dengan menyediakan sajen karena alat ini dianggap memiliki jiwa. Tongtong merupakan salah satu media komunikasi bunyi yang sudah umum dikenal terutama di kalangan militer di Cyrrus, Persia, 500 tahun sebelum Masehi. Agaknya dari sanalah pengenalan terhadap media tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback