Advertisement

Atau tiung emas, sering disebut juga burung beo, suatu jenis burung bertubuh agak besar yang panjangnya, dari ujung paruh sampai ujung ekor, sekitar 32 sentimeter. Hampir seluruh tubuhnya diselimuti bulu berwarna hitam kelam dengan sedikit warna putih pada bulu terbang utama. Paruh dan kakinya berwarna jingga. Matanya cokelat tua. Ciri khas lainnya adanya lipatan kulit tanpa bulu berbentuk cuping pada bagian belakang kepala. Dari bentuk cuping kuduk inilah tiung emas dibedakan dalam beberapa anak jenis.

Tiung emas sangat terkenal karena mampu meniru suara atau bunyi; karena itu, dalam bahasa Inggris, burung ini juga disebut talking myna. Tiung piaraan biasanya mampu menirukan sepatah atau dua patah kata, misalnya selamat pagi. Namun, pelatihan yang terus-menerus dapat membuatnya mampu bernyanyi satu atau dua bait lagu. Tiung yang dipelihara sejak sebelum meninggalkan sarang umumnya memiliki kemampuan menirukan suara lebih baik. Anak jenis tertentu, misalnya yang dari Medan, mempunyai ke-mampuan menirukan suara relatif lebih baik daripada anak jenis lainnya. Menurut pengalaman beberapa pelatih, pelatihan yang dilakukan malam hari, pada saat burung sedang dalam keadaan setengah tidur lebih berhasil; mungkin hal ini semacam “cuci otak”. Ada juga orang yang berpendapat bahwa menggosok lidah tiung emas dengan cincin berlian, terutama pada hari-hari tertentu, dapat mempercepat keberhasilan pelatihan.

Advertisement

Di alam bebas burung ini juga mampu menirukan suara hewan lain. Misalnya, tiung emas di hutan Sumatra dapat menirukan suara siamang. Kemampuannya ini pernah menyebabkan suatu sensus siamang terpaksa diulang, karena para peneliti tidak menduga adanya suara mirip siamang yang dihasilkan binatang lain.

Kini, masyarakat pencinta tiung emas menganggap bahwa tiung emas dari Pulau Nias, yang disebut juga beo nias, memiliki kemampuan menirukan suara paling baik satu peringkat di atas tiung emas dari Medan. Akibatnya, tiung emas dari kedua daerah tersebut bernilai tinggi.

Sebenarnya, kemampuan tiung emas menirukan suara berakibat negatif bagi keberadaannya. Banyak tiung emas ditangkap dari alam bebas untuk dipelihara dan diperjualbelikan. Umumnya pengambilannya dilakukan saat burung masih kecil dan belum dapat meninggalkan sarang, karena pengambilan anak langsung dari sarang jauh lebih mudah daripada menangkap burung dewasa. Selain itu, menjinakkan dan melatih burung muda jauh lebih mudah daripada burung dewasa. Akibat penangkapan seperti ini, regenerasi burung tersebut menjadi terputus. Dengan pertimbangan tersebut, pemerintah, melalui SK Mentan no. 421/Kpts/Um/8/1970, memutuskan tiung emas dilindungi undang-undang.

Tiung emas, dengan nama Inggris lainnya hill myna, hidup di bukit berhutan sampai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Umumnya burung ini hidup berpasangan, kadang-kadang dalam kelompok. Pakannya serangga dan buah-buahan. Musim kembang biaknya beragam, menurut tempat hidupnya. Di Malaysia musim kembang biaknya bulan Desember 1 sampa’ Mei, sedangkan di Sumatra dan Kalimantan pebruari sampai Maret. Sampai saat ini belum diketahui apakah dengan panjangnya musim kembang biak j tjung c,nas dapat dua kali berbiak. Burung ini bersarang di lubang pohon atau lubang di tepi tebing. Mula-mula lubang sarang ini dilapisi ranting kering, lalu ; serabut, dan terakhir daun kering. Pelapisan ini berkaitan erat dengan pengaturan suhu dan kelembapan serta mencegah kemungkinan telur terendam air yang , imJngkin mengalir ke dalam sarang. Sekali berbiak | induknya menghasilkan 2 — 3 butir telur. Telurnya ^rwarna dasar biru pucat berbintik-bintik cokelat atau lembayung pucat; semakin ke arah ujung yang tumpu bintik-bintik tersebut semakin rapat. Ukuran telur beragam, bergantung pada anak jenisnya; panjangnya 22,5 – 38 milimeter, sedangkan lebarnya 22,5 – 25 milimeter. Telur dierami oleh kedua induknya secara bergantian. Masa mengeram serta masa niemelihara anak sampai saat ini belum diketahui.

Di dunia ada dua jenis tiung, yaitu tiung ceylon yang hanya terdapat di Sri Lanka, dan tiung emas yang memiliki daerah penyebaran luas, mulai dari India, Thailand, Malaysia, Sumatra, Kalimantan, Pulau Palawan (Filipina), serta Jawa sampai Flores.

Tiung emas terdiri atas 10 anak jenis, lima di anta-ranya terdapat di Indonesia. Anak jenis yang ada di Indonesia dibedakan berdasarkan bentuk dan ukuran cuping kuduk serta badannya. Pada Gracula religiosa robusta, pangkal cuping kuduk kiri dan kanan menyatu, sedangkan ujung cuping kuduk runcing berakhir di sebelah belakang telinga; pada G. r. religiosa, pangkal cuping terpisah, sedangkan ujungnya bercabang di belakang telinga; pada G. r. batucnsis, pangkal cuping terpisah, sedangkan ujungnya tidak bercabang dan berakhir di belakang mata; pada G. r. venereta dan G. r. men nsi, pangkal cuping terpisah, sedangkan ujungnya tumpul dan berakhir di belakang mata; G. r. merata berukuran lebih kecil daripada G. r. mencuri. G. r. robusta secara alami terdapat di Pulau Babi dan Pulau Nias. G. r. religiosa terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. G. r. batucnsis terdapat di kepulauan sebelah barat Sumatra, kecuali Pulau Babi dan Pulau Nias. G. r. vcnerata terdapat di Sumbawa. G. r. mertensi terdapat di Pulau Flores, Pulau Pantar, dan Pulau Alor.

Advertisement