Advertisement

Suatu aliran atau paham politik yang pada dasarnya bertumpu pada ajaran Komunisme-Marxisme murni, tetapi kemudian bergeser menjadi ajaran Komunisme Yugoslavia. Paham ini dikembangkan dan dipopulerkan oleh Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada tahun 1950-an. Sesudah Perang Dunia II, Tito memangku jabatan pimpinan Partai Komunis Yugoslavia dan sekaligus perdana menteri. Tetapi sejak tahun 1954 hingga 1970-an, Tito menduduki jabatan presiden. Di kalangan dunia internasional, Tito juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Gerakan Non-blok. Selain itu, ia juga berhasil menjalankan politik luar negeri yang tidak terlalu bergantung pada Uni Soviet. Untuk mengetahui pa-ham Titoisme ini, perlu pula melihat paham Marxisme-Komunisme, Leninisme’, ,Revisionisme, dan Maoisme sebagai dasar pemikiran1 dan sekaligus pembandingnya.

Dasar pemikiran Titoisme adalah di bidang ekonomi-politik. Paham ini senantiasa mengikuti doktrin Marxisme tentang gabungan yang diharapkan dari nilai-nilai Komunisme yang seimbang dan efisien. Dibandingkan dengan paham Leninisme dan Maoisme, paham Titoisme jauh lebih konstruktif (dalam pengertian konsisten dan tegas). Premis dasarnya adalah bahwa konsep sosialisasi dari alat-alat produksi bukanlah satu-satunya langkah, melainkan suatu proses yang berkesinambungan. Pengambilalihan dengan cara kekerasan atau revolusioner oleh negara hanyalah membuka tahap pertama proses ini, dan menyusun bentuk terendah dari pemilikan sosial. Hal ini sangat berlawanan dengan doktrin Soviet, terutama yang dikembangkan oleh Lenin dan Stalin yang memandang pemilikan negara sebagai bentuk tertinggi.

Advertisement

Karena diasumsikan bahwa negara mewakili massa pekerja, hak milik diberikan dalam suatu wujud pelembagaan terpisah yang menyewa buruh dan sekaligus menguasai kelebihan produksi. Oleh sebab itu, proses sosialisasi harus menjadi suatu gerakan yang tidak menyentuh pemilikan negara melainkan pemilikan langsung alat-alat produksi oleh kaum produsen. Bentuk manajemen para pekerja sendiri yang diharapkan secara bertahap menghapus pemisahan antara pengelola dan yang dikelola, dalam arti akan mencipta- kan dasar-dasar objektif bagi keterasingan pekerja dari masyarakat. Proses ini tak akan dapat berjalan terus tanpa perjuangan menentang kepentingan-kepentingan mapan dari kaum birokrat. Hal ini akan melemahkan negara, karena posisi yang dominan secara bertahap mengalah pada organisasi-organisasi otonom dari asosiasi para produsen bebas. Doktrin Tito ini secara jelas terkait dengan interpretasi desentralistisnya Marxisme.

Selain itu, dasar ekonomi perkembangan swa-keio- la harus dilengkapi dengan pemberian kesempatan kepada perusahaan-perusahaan untuk membuat Keputusannya sendiri, karena yang berpartisipasi di dalam proses ekonomi pasar bukanlah pengusaha-pengusaha swasta, melainkan lembaga-lembaga kolektif yang mandiri. Lembaga-lembaga ini harus dibuat sedemikian peka terhadap tanda-tanda dan perubahan pasar. Dengan kata lain, prinsip distribusi yang sesuai dengan kerja dimanfaatkan dan dipakai dan perbedaan pendapat tidak hanya merupakan suatu fungsi sumbangan kerja individu, melainkan juga sekaligus kewiraswastaan kolektif.

Dalam hal ini, sebenarnya Titoisme ingin membentuk masyarakat sosialis model Yugoslavia yang tidak tergantung sama sekali pada Uni Soviet. Oleh sebab itu, paham Titoisme ini dikritik sebagai paham revisionis yang menyimpang dari doktrin Marxisme- Komunisme Uni Soviet. Para pengikut setia paham ini antara lain Slansky dari Cekoslowakia, Kostov dari Bulgaria, Rayk dari Hungaria, dll.

Incoming search terms:

  • titoisme

Advertisement
Filed under : Sosial, tags:

Incoming search terms:

  • titoisme