Advertisement

Bagi masyarakat Jawa, merupakan salah satu perilaku yang dianjurkan bagi setiap orang yang ingin mencapai cita-cita tertentu. Pada dasarnya tirakatan adalah cara untuk menekan hawa nafsu dengan cara mengurangi kenikmatan tidur, makan, seks, tutur kata yang tak senonoh, dll. Perilaku seperti itu kemudian berkembang. Misalnya, untuk mengurangi kenikmatan tidur, seseorang tidak tidur di ranjang melainkan di lantai di bawah cucuran atap. Puasa mutih, yakni hanya makan nasi tanpa lauk, tidak minum selain air putih, juga disebut tirakat.

Sebagian orang tua di Jawa Tengah dan Jawa Timur mendidik anak-anak mereka untuk “tidak kemasukan nasi sebelum tengah hari dan tidak bersentuhan dengan bantal sebelum tengah malam”. Didikan ini dimaksudkan untuk mengajarkan kebiasaan tirakat pada anak-anak.

Advertisement

Tirakat dapat dilakukan secara perorangan, dapat pula berkelompok. Yang dilakukan secara perorangan sering kali lebih berat daripada yang dilakukan berkelompok. Berendam di tempat pertemuan dua arus sungai, tidur di kuburan, termasuk tirakat yang dilakukan perorangan. Lek-lekan, bergadang tidak tidur semalam suntuk, pada saat kelahiran seorang bayi atau menjelang suatu hajat mantu (mengawinkan anak), biasanya dilakukan oleh sekelompok orang.

Tirakat agak mirip dengan tapa, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Selain itu, tirakat lebih dimaksudkan untuk mendidik diri, sedangkan tapa dimaksudkan untuk mengkhusukkan diri pada permohonan tertentu.

Incoming search terms:

  • tirakat bergadang

Advertisement
Filed under : Antropologi, Budaya, tags:

Incoming search terms:

  • tirakat bergadang