PENGERTIAN TINGKAT PENGANGURAN

34 views

UNEMPLOYMENT / PENGANGGURAN adalah sumber daya TENAGA KERJA (LABOUR) (dan MODAL (CAPITAL)) yang tidak digunakan sebagai akibat dari output aktual dari perekonomian (lihat ACTUAL GROSS NATIONAL PRODUCT) berada di bawah PENDAPATAN NASIONAL BRUTO POTENsiALnya (POTENTIAL GROSS NATIONAL INCOME) . Sumber-sumber daya menganggur akan menurunkan output. Penghapusan pengangguran dan pencapaian KESEMPATAN KERJA PENUH (FULL EMPLOYMENT) adalah tujuan utama dari KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO (MACRO ECONOMIC POLICY) . Tingkat pengangguran diukur sebagai suatu persentase dari ANGKATAN KERJA (LABOUR FORCE) total yang tidak mempunyai pekerjaan.
Ada beberapa sebab dari pengangguran yang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga jenis: (i) Pengangguran yang disebabkan oleh per¬mintaan (musiman). (ii) Pengangguran yang disebabkan oleh perubahan dalam pola permintaan, dan (iii) Pengangguran sisi penawaran (atau yang disebut “alami”). Pengangguran musiman atau permintaan yang berkurang terjadi pada saat PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND) tidak mengimbangi PENAWARAN AGREGAT (AGGREGATE SUPPLY) pada kesempatan kerja penuh (PNB potensial). Dalam MODEL PENDAPATAN NASIONAL YANG BERADA PADA TINGKAT EKUILIBRIUM (EQUILIBRIUM LEVEL OF NATIONAL INCOME MODEL) sebagaimana dijelaskan, pendapatan nasional ekuilibrium adalah Yp sementara pendapatan nasional pada tingkat kesempatan kerja penuh adalah Y2 penurunan ini terjadi karena adanya pengurangan pengeluaran jangka pendek yang sama dengan SENJANG DEFLASIONER (DEFLATIONARY GAP) (XZ). Penanggulangan tradisional untuk situasi ini adalah dengan meningkatkan pengeluaran melalui KEBIJAKAN FISKAL (FISCAL POIJCY) dan KEBIJAKAN MONETER (MONETARY POLICY) reflasioner untuk menggeser permintaan agregat dari AD,, ke AD., (lihai DEMAND MANAGEMENT).
Perubahan-perubahan dalam pola permintaan dapat menyebabkan pengangguran. Contoh,”pengangguran struktural” timbul karena adanya penurunan sekuler (jangka panjang) dalam permintaan atas produk- produk tertentu, yang mengakibatkan kontraksi industri-industri yang menawarkan produk-produk tersebut, seperti (di Inggris) pertambangan batu bara, pembangunan kapal, dan tekstil. Industri-industri tersebut terpusat di wilayah-wilayah tertentu dalam suatu negara, dan hal ini mungkin akan memperburuk kondisi “pengangguran regional” apabila jpenurunan dari industri-industri tersebut pada akhirnya mengakibatkan menurunnya permintaan output para pemasok lokal, sehingga mengakibatkan turunnya pengeluaran dalam wilayah tersebut secara keseluruhan (lihat MULTIPLIER). Begitu juga halnya, bahwa perubahan”musiman” jangka pendek dalam permintaan dapat mengal :batkan terjadinya penciptaan dan penghapusan pekerjaan-pekerjaan /misalnya, hilangnya pekerjaan dalam industri pariwisata Inggris selama bulan-bulan musim dingin).
Pengangguran sisi penawaran meliputi beberapa jenis. Pertama,”pengangguran teknologi”, di mana terjadinya kehilangan pekeijaan disebabkan oleh pengenalan teknologi baru yang meningkatkan produktivitas, sehingga menurunkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi sejumlah tertentu produk, dan/atau mengakibatkan hilangnya keahlian tenaga kerja tertentu. Kedua,”pengangguran pergeseran”, yaitu pengangguran yang timbul sebagai akibat dari adanya proses perpindahan manusia dari suatu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Jumlah peng-angguran pergeseran dan seberapa lama pengangguran itu akan terjadi akan tergantung pada apakah para pekerja mempunyai keahlian yang layak untuk pekerjaan-pekerjaan yang tersedia, dan apakah pekerjaan- pekerjaan tersebut berada pada wilayah yang tepat dari negara yang bersangkutan. Ketiga,”pengangguran di luar kemauan” di antara para pekerja yang dengan ketidakmampuannya mengakibatkan mereka sulit untuk memperoleh pekeijaan. Keempat,”pengangguran sukarela”, yaitu pengangguran di antara mereka yang kekurangan insentif atau tanggung jawab untuk bekerja. Kelima,”pengangguran upah riil (klasik)” terjadi apabila TINGKAT UPAH (WAGE RATES) riil terlalu tinggi, sehingga para pekeija’menetapkan harga yang terlalu tinggi atas jasanya. Jika upah ditetapkan di Wp bukan di W (sebagai akibat dari pengaturan UPAH MINIMUM (MINIMUM WAGE) atau serikat dagang), maka pengangguran yang timbul adalah sama dengan QJQ2.
Pada akhirnya, dalam suatu perekonomian yang semakin terbuka dan semakin berorientasi internasional, negara-negara yang sangat terlibat dalam perdagangan internasional akan merugi dengan adanya pengangguran tersebut, karena adanya persaingan internasional. Jika suatu negara telah memusatkan sumber-sumber dayanya pada produksi dari produk- produk yang mempunyai permintaan dunia jangka panjang yang sedang menurun, atau negara tersebut gagal melakukan investasi ,dalam produk baru atau dalam pabrik modern, maka daya saing harga dan bukan harga dari negara yang bersangkutan dibandingkan dengan para pemasok negara lain akan semakin memburuk. Hal ini dapat menghasilkan penggantian secara progressif output dalam negeri oleh produk-produk asing yang lebih bersaing (lihat IMPORT PENETRATION), dan akan terjadi pengangguran yang meluas.
Berbagai kebijakan mungkin dilaksanakan untuk menghilangkan pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan dalam pola permintaan atau pengurangan dalam sisi penawaran, INSENTIF INVESTASI (INVESTMENT INCENTIVE (hibah, subsidi, penundaan pajak, dan lain sebagainya) umumnya dapat digunakan untuk meningkatkan berdirinya perusahaan dan industri-industri baru serta pengembangan perusahaan dan industri-industri yang ada untuk membantu menghapus pengangguran “struktural” dan “teknologi” (lihat INDUSTRIAL POLICY), secara lebih khusus, insentif ini dapat menghapuskan pengangguran’Yegional” dengan mendorong investasi baru dalam wilayah yang mengalami depresi (lihat REGIONAL POLICY). Sebagai tambahan, bantuan atas biaya-biaya perpindahan dan perumahan dapat meningkatkan mobilitas para pekeija secara geografis. Selain itu, persediaan fasilitas PELATIHAN ( TRAINING) dapat digunakan untuk meningkatkan mobilitas pekerjaan, sehingga membantu mengurangi pengangguran “struktural” dan “teknologi”. Bantuan pemerintah pada organisasi-or-ganisasi dalam rangka mendorong mereka untuk mempekerjakan orang- orang yang cacat fisik dapat membantu pengurangan pengangguran”di luar kemauan”, sementara pengangguran”suka rela” dapat diatasi dengan penyesuaian yang tepat dalam sistem TUNJANGAN JAMINAN SOSIAL (SOCIAL SECURITY BENEFIT) untuk mendorong masyarakat bekerja. Akhirnya, pengangguran’upah riil” dapat dikurangi dengan meningkatkan fleksibilitas PASAR TENAGA KERJA (LABOUR MARKET) misalnya dengan membatasi kekuasaan serikat-serikat dagang untuk melakukan praktek-praktek”toko tutup” dan praktek tenaga keija terbatas lainnya. Secara kolektif, langkah-langkah ini mungkin mengakibatkan meningkatnya tingkat dan efisiensi penggunaan sumber daya dalam perekonomian, dengan demikian akan meningkatkan potensi dan daya saing output dari negara yang bersangkutan.
Lihat DEINDUSTRIALIZATION, INTERNAL-EXTERNAL BALANCE MODEL, DISGUISED UNEMPLOYMENT, HIDDEN UNEMPLOYMENT, LUMP OF LABOUR, POVERTY TRAP.

UNEMPLOYMENT RATE / TINGKAT PENGANGURAN adalah jumlah pekerja yang menganggur yang dinyatakan sebagai suatu persentase dari .ANGKATAN KERJA (LABOUR FORCF) suatu negara. Mengukur tingkat PENGANGGURAN (UNEMPLOYMENT), dalam praktek, adalah sulit dikarenakan permasalahan-permasalahan yang menyangkut penetapan dan pengukuran jumlah pengangguran maupun angkatan kerja. Contoh, para pekerja yang menganggur mungkin tidak mendaftarkan diri mereka sebagai penganggur karena mereka tidak berhak atas TUNJANGAN PENGANGGURAN ( UNEMPLOYMENT BENEFIT) , dan karenanya tidak termasuk dalam angka pengangguran yang diterbitkan oleh peme-rintah.
Tingkat pengangguran dapat digunakan untuk mengukur perubahan kesempatan kerja yang terjadi sepanjang waktu dalam negara. Di samping itu tingkat pengangguran juga memberikan suatu ringkasan tentang pemanfaatan FAKTOR PRODUKSI (FACTOR OF PRODUCTION) yang tidak maksimal, yaitu tingkat di mana PNB AKTUAL (ACTUAL GNP) suatu negara berada di bawah PNB POTENSIAL (POTENTIAL GNP). Situasi ini disebut sebagai SENJANG DEFLASIONER (DEFLATIONARY GAP).
Lihat ACTIVITY RATE, DISGUISED UNEMPLOYMENT, FULL EMPLOYMENT, VACANCY’ RATE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *