Advertisement

Tidak ada alasan untuk mengharapkan tindakan kolektif dapat terwujud hanya melalui motivasi individual, baik itu yang bersifat paksaan maupun sukarela.┬áTidak seperti individu rasional yang senantiasa bertindak untuk memenuhi kepentingannya sendiri. sekelompok aktor rasional tidak bisa selalu melakukan tindakan kolektif untuk mengejari kepentingan bersama (dalam kadar yang bervariasi, kepentingan dari setiap orang yang termasuk dalam kelompok itu pasti berbeda). Barang-barang publik (public goods) atau yang dihadirkan melalui tindakan kolektif, membuahkan manfaat bagi siapa saja. baik mereka yang ikut menyumbang maupun yang tidak. Karena seseorang dapat memetik manfaat dari barang atau tindakan kolektif tanpa memberikan iuran apa-apa, maka mereka pun berusaha untuk menghindari iuran/kontribusi tersebut. Logika tindakan kolektif (Olson, 1965) seperti ini telah terbukti bisa diterapkan di berbagai situasi sosial dan ekonomi. Logika ini pula yang melandasi asumsi bahwa kerjasama hanya dapat terjadi apabila setiap individu yang terlibat di dalamnya akan memperoleh manfaat yang lebih besar ketimbang biaya yang harus dipikulnya; hitungan untung-rugi individu itu lebih penting ketimbang hitungan untung-rugi kelompok, karena bukan kelompok itu yang rasional melainkan individu-individu yang menjadi anggotanya. Dalam contoh-contoh klasik tindakan kolektif, seperti upaya pelestarian lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam milik bersama, berpartisipasi dalam pembelaan negara, memberikan suara dalam pemilihan umum, atau keterlibatan dalam protes sosial, para anggota kelompok akan memperoleh keuntungan jika semua individu melakukan tugas masing-masing namun keuntungan marginal dari satu tindakan atau kontribusi tunggal dilampaui oleh biayanya. Oleh karena itu hal terbaik bagi kelompok tersebut tidak selalu sama yang terbaik bagi individu-individu yang menjadi anggotanya. Studi mengenai tindakan kolektif telah dilakukan dengan menggunakan serangkaian eksperimen laboratorium, penerapan teori permainan (game theory), dan penggunaan kasus-kasus historis yang kesemuanya dimaksudkan untuk mengidentifikasikan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang memungkinkan para aktor rasional saling bekerja sama sekalipun ada insentif yang kuat untuk menjadi penunggang bebas (ikut menikmati manfaat tanpa memberi kontribusi). Masalah tindakan kolektif seringkah dibahas dalam suatu model permainan teoretis yang lazim disebut sebagai “dilema tahanan” (prisoners’ dilemma, lihat Hardin, 1982). Dilema tahanan adalah suatu permainan non-kooperatif di mana setiap pelaku atau aktor bebas mengambil pilihan atau membuat kesepakatan, dan di situ tidak ada faktor kepastian. Suatu kelompok yang beranggotakan n individu harus memutuskan untuk memberikan kontribusi (bekerja sama) atau tidak memberi kontribusi (menghindari kerjasama) guna memperoleh suatu barang kolektif. Bisa atau tidaknya barang publik itu dibagi-bagi juga menentukan apakah kepuasan atau manfaat dari barang tersebut bisa ditingkatkan sesuai dengan besar-kecilnya kontribusi yang diberikan. Kerjasama tanpa pamrih lebih disukai karena manfaatnya akan menyebar kepada siapa saja, namun struktur imbalan dari permainan yang terlibat di dalamnya membuka peluang bagi mereka yang tidak memberikan kontribusi untuk ikut menikmati manfaat atau keuntungan tersebut. Karena itulah perhitungan untung-rugi menjadi strategi dominan. Namun kalau setiap individu rasional memainkan strategi dominan tersebut, maka hasilnya adalah apa yang disebut sebagai “suboptimalitas Pareto“, yakni suatu situasi di mana setiap orang hanya dapat memperoleh tambahan jika semua pihak mau bekerja sama dalam pengadaan barang publik tersebut.┬áSebuah kelompok dapat dengan mudah mengadakan barang publik tersebut jika ada salah satu anggotanya yang menerima manfaat cukup besar sehingga anggota tersebut mau memikul biayanya sekalipun tidak ada orang lain yang memberikan kontribusi. Dalam terminologi Mancur Olson (1965), kondisi ini mengakibatkan eksploitasi mayoritas terhadap minoritas. Jika anggota yang mau berkorban atau manfaat yang besar itu tidak ada, maka kelompok yang bersangkutan harus mencari cara lain guna mendorong setiap anggotanya memberikan kontribusi, baik itu dengan mengubah struktur insentif bagi setiap individu, atau dengan membina perilaku kerjasama melalui aksi sosial yang berulang-ulang. Dalam banyak kelompok, kalkulasi untung-rugi diimbangi dengan penyodoran sejumlah insentif dalam bentuk hadiah bagi mereka yang mau bekerja sama, dan hukuman bagi mereka yang ingin menumpang gratis. Para anggota dari berbagai organisasi profesi misalnya, menerima terbitan dan jurnal secara rutin, potongan biaya perjalanan, bantuan asuransi kesehatan, dan berbagai produk atau jasa lainnya guna merangsang mereka untuk lebih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Rasa malu, pujian, penghargaan. dan pengucilan merupakan bentuk-bentuk insentif selektif sosial non-materi yang lazim dipergunakan. Namun pengadaan insentif tipe selektif tersebut biasanya mengharuskan adanya tindakan kolektif tersendiri agar bisa mengikat setiap anggota.

Bentuk insentif selektif berikutnya adalah pemberian keuntungan yang termaktub atau inheren dalam suatu kegiatan, yakni yang manfaatnya tidak berupa hasil kegiatan melainkan proses atau pengalaman dalam berpartisipasi menjalankan kegiatan itu sendiri (Hirschman, 1982). Kegiatan-kegiatan politik dan organisasional tertentu memberi rasa percaya diri dan kebanggaan tertentu bagi banyak orang yang menekuninya. Banyak pula yang merasakan kenikmatan moral darinya. Sifat non-instrumentai dari motif-motif seperti itu acapkali menyulitkan penyusunan teori tindakan rasional instrumental. Disamping pengubahan struktur insentif dalam kerangka dilema tahanan (guna menghapuskan dilema), kerjasama dalam kelompok juga dapat dibina melalui interaksi sosial atau penyuluhan mengenai kalkulasi untung-rugi keterlibatan dalam kelompok dalam jangka panjang (Taylor, 1987). Dalam suatu interaksi sosial, seseorang dimungkinkan untuk mempengaruhi perilaku orang lain yang selanjutnya memudahkan penyamaan presepsi sebagai pijakan kerjasama. Dalam model dilema tahanan dua pihak, misalnya, salah satu pihak mau melakukan kerjasama pada kesempatan pertama, atau mungkin pula baru mau bekerja sama jika ia mengetahui bahwa pihak lain pun bersedia bekerja sama. Jika kedua pihak menggunakan strategi ini dikenal sebagai tit untuk faf maka kerja sama timbal-balik akan menjadi hasil ekuilibriumnya selama manfaat di masa mendatang tidak berkurang terlalu banyak. Jadi, kerja sama dimungkinkan di kalangan pihak-pihak yang memikirkan kepentingannya sendiri jika mereka

Advertisement

Kalkulasi dari setiap individu yang pada dasarnya selalu mengutamakan kepentingannya sendiri harus selalu diperhatikan dan diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan moral dan psikologi guna mendorong mereka mau memberikan kontribusi dalam pengadaan barang-barang kolektif/publik. Kita juga tidak memiliki landasan yang sahih untuk berasumsi bahwa semua kontributor tindakan kolektif akan menggunakan perhitungan untung-rugi yang sama. Tindakan acapkali bertumpu pada para pemimpin dapat memasok informasi, sumber daya aan fungsi pemantauan serta melibatkan pihak-pihak yang hanya mementingkan dirinya sendiri itu ke dalam jaringan kerjasama.

Incoming search terms:

  • logika tindakan kolektif
  • tindakan kolektif

Advertisement
Filed under : Psikologi, tags:

Incoming search terms:

  • logika tindakan kolektif
  • tindakan kolektif