Advertisement

Menurut kepercayaan asli orang Nias, adalah dunia roh, yang menjadi tujuan akhir roh orang yang meninggal. Jika seseorang meninggal, tubuh kasarnya (boto) akan kembali menjadi debu, bayangannya (lumplumo) berubah menjadi roh (bekhu), dan napasnya (noso) kembali kepada dewa tertinggi (Lowalangi). Untuk mencapai Teteholi Ana’a, roh seseorang harus melawati sebuah jembatan yang dijaga oleh dewa penjaga dan kucingnya (mao). Oleh sebab itu, kerabat orang yang meninggal harus mengadakan upacara kematian untuk mengantarkan roh orang tersebut ke dunia roh. Selama upacara ke- matian belum dilakukan, roh tersebut akan terus berada di sekitar tempat pemakamannya.

Selain orang yang belum diupacarakan, orang yang berdosa juga tidak dapat masuk ke Teteholi Ana’a. Orang-orang seperti ini akan masuk ke dalam neraka, yang berada di bawah jembatan menuju Teteholi Ana’a. Selain kepercayaan akan adanya neraka, dalam kepercayaan asli orang Nias terdapat keyakinan tentang adanya kehidupan kembali setelah mati, yaitu kehidupan di Teteholi Ana’a. Kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan di dunia. Oleh sebab itu, keadaan seseorang di Teteholi Ana’a akan sama dengan keadaan orang tersebut ketika hidup di dunia.

Advertisement

Teteholi Ana’a terdapat di langit lapisan pertama. Keadaan siang dan malam di dunia roh terbalik dengan siang dan malam di dunia, artinya bila di dunia siang, di Teteholi Ana’a malam. Selain itu, kalimat yang dipergunakan dalam bahasa di Teteholi Ana’a juga serba terbalik. Orang Nias percaya bahwa hukum adat yang berlaku di Nias berasal dari raja Teteholi Ana a.

 

Advertisement