Advertisement

Atau tes kemampuan, memungkinkan penentuan kuantitatif posisi seseorang dalam populasi berdasarkan daya intelektualnya. Hal ini dapat dicapai dengan cara objektif serta menurut standar, yakni dengan tes yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip konstruksi tes dengan memperhatikan peraturan pelaksanaan serta evaluasi tes. Hasilnya, prestasi intelektual pribadi yang bersangkutan. Prestasi intelektualnya identik dengan soal yang d’oecahkan dengan baik.

Beruak tes inteligensi dapat dibedakan menurut berbagai titik pandang. Yang paling lazim adalah tes yang dibedakan berdasarkan kelompok, seperti skala anak, orang dewasa, maupun umum. Tes inteligensi anak paling lazim dan paling tua yang hingga kini masih terus diperbaiki adalah metode Binet-Simon. Dalam metode ini kepada objek diberikan item tes yang bertingkat kesukarannya. Menurut rumus umur, IQ (intelligence quotient) = inteligensi hasil tes dibagi umur kali 100. IQ yang lebih besar dari 100 menunjukkan prestasi di atas rata-rata, sedangkan IQ yang lebih kecil dari 100 menunjukkan prestasi di bawah rata-rata.

Advertisement

Bentuk tes inteligensi yang tersebar luas dan masih terus diperbaiki antara lain adalah tes Skala Binet-Bo- bertag-Norden, Binet-Kramer, dan Terman-Luckert. Skala Wechsler yang juga tes inteligensi umum untuk anak dan orang dewasa berbeda dengan tes yang biasa dipakai, yakni tes Binet. Dalam skala Wechsler, item yang bermacam-macam dikelompokkan ke dalam tes- tes yang homogen sesuai dengan tingkat kesukarannya. T p lima sampai enam tes yang homogen di- kumpiuKan menjadi bagian perbuatan. Hal ini memungkinkan diketahuinya IQ perbuatan dan IQ keseluruhan. Akibatnya muncul analisis profil yang sesungguhnya hanya dianggap klinis diagnostik, bukan psikometris.

Advertisement