Advertisement

Sebuah lubang yang dibuat orang di bawah tanah dan kadang di bawah dasar perairan, dengan sikap kurang lebih mendatar. Orang kuno membuat terowongan untuk berbagai maksud: mencari batu hias, mencari bijih logam, mengubur jenazah, melaksanakan maksud keagamaan, dan membuat jalan untuk pejalan kaki. Orang modern membuat terowongan untuk memperpendek jarak tempuh, untuk menghindari keharusan naik-turun (ini terutama penting untuk kereta api), untuk menghindari cuaca buruk, dan dalam perang untuk menghindari serangan musuh. Terowongan juga dibuat agar kehidupan di atas permukaan tanah tidak terganggu. Maksud lain adalah untuk mengalirkan air bagi kepentingan pembangkit tenaga listrik tenaga air, untuk memasok air bersih, dan untuk sistem selokan.

Di Indonesia terowongan yang terkenal hanyalah untuk kereta api. Terowongan pendek banyak dibuat di dalam kota untuk persilangan jalan. Di luar negeri terowongan lalu lintas yang terkenal antara lain Saint Gotthard (Swis, 1980, 16,2 kilometer), Ariberg (Austria, 1978, 14,0 kilometer), Frejus (Perancis – Italia, 1979, 12,8 kilometer), Mont Blanc (Perancis – Italia, 11,7 kilometer), dan Enassan (Jepang, 1977, 8,4 kilometer). Salah satu terowongan lalu lintas tertua adalah Terowongan Washington Street yang melewati bawah Sungai Chicago (1870). Terowongan kareta api hampir sama tua dengan jaringan kereta api itu sendiri. Di Eropa terowongan kereta api telah dibuat pada tahun 1840. Terowongan dari Inggris ke daratan Eropa (Perancis) sedang dalam pembuatan dewasa ini (1991) dan penggalian dilakukan dari kedua ujung dan direncanakan bertemu dengan tepat pada suatu titik.

Advertisement

Terowongan purbakala telah dibuat di Mohenjo-Daro di Lembah Sungai Indus (2500- 1500 SM), 0fang Babilon membuat terowongan sekitar tahun 100 SM di bawah Sungai Eufrat. Orang Mesir kuno Menguasai teknologi untuk memotong batuan, suatu teknologi yang penting untuk penggalian terowongan. Perencanaan pembuatan terowongan dimulai dengan menentukan arah dan hal-hal umum terlebih dahulu. Kemudian dilakukan survai geologi untuk mengetahui sifat strata tanah yang akan dilalui. Untuk itu dilakukan sejumlah pengeboran. Pembuatan terowongan akan berbeda menurut tanah yang harus ditembus, apakah (1) batuan sangat keras, (2) batuan lunak sampai setengah keras, (3) tanah lunak; atau tanah di bawah perairan. Bergantung pada keadaan tanah ini pula akan ditentukan bentuk optimal terowongan, agar mampu menahan tekanan dari luar maupun dari dalam. Umumnya penampang lintang terowongan bundar atau mendekati bundar.

Untuk batuan keras digunakan pengeboran dan peledakan. Sesudah itu puing-puing diangkut keluar dengan mesin khusus. Untuk tanah setengah keras digunakan mesin pengebor terowongan yang khusus. Mesin ini mempunyai hulu pemotong yang berbentuk silinder putar. Silinder ini dilengkapi dengan gigi-gigi yang tajam. Hasil kikisan dan kerukannya secara otomatis diangkut keluar sehingga mesin dapat maju terus. Untuk tanah lunak dilakukan penggalian atau digunakan perisai yang ditekan maju dan tanah diperas agar masuk ke dalam terowongan dan dibuang ke luar. Pekerjaan ini mirip ulah cacing yang bergerak masuk dengan makan tanah sambil membuat liang.

Bila terowongan itu dibuat di bawah dasar perairan dapat digunakan dua metode berikut (atau campuran antara keduanya): penggalian dengan perisai seperti menembus tanah lunak, atau penggalian dengan pe-nyiapan pipa raksasa yang akan ditanam mendatar dalam parit yang telah digali pada dasar perairan itu. Bila perairan itu danau atau laut, pipa raksasa yang umumnya terbuat dari baja diluncurkan seperti peluncuran kapal baru. Pipa ini kemudian ditarik ke posisi yang tepat dalam keadaan terapung. Kemudian dengan perlahan pipa ditenggelamkan agar jatuh ke parit yang telah digali pada dasar laut.

Pekerja yang membangun terowongan perlu memperoleh pengamanan kerja. Pertama pengamanan terhadap longsornya tanah. Kadang secara tidak terduga air tanah dalam jumlah besar dapat masuk ke dalam terowongan yang sedang dikerjakan. Bahkan kadang air itu panas atau mengandung gas- gas beracun. Hal-hal ini sering tidak dapat diramalkan oleh hasil survai. Kedua, mereka membutuhkan udara segar, yang bebas dari debu dan cukup kandungan oksigennya. Kebanyakan mereka bekerja pada tekanan udara yang lebih tinggi daripada 1 atmosfer, sehingga harus mengikuti prosedur pengamanan seperti penyelam-dalam. Misalnya untuk kembali ke udara terbuka mereka harus melewati bilik dekompresi, yang menurunkan tekanan udara berangsur-angsur ke 1 atmosfer, agar nitrogen yang sempat larut dalam cairan tubuh pada tekanan tinggi itu dapat keluar dari dalam cairan di paru-paru bukan dalam pembuluh darah.

Setelah terowongan selesai dibangun, dan lumpur dan serta air telah dipompa keluar, masalah utama adalah pemasangan ventilasi terowongan. Ini penting terutama untuk terowongan kereta api dan mobil. Biasanya udara segar dipompa paksa ke dalam terowongan, sementara udara kotor dibuang lewat saluran yang berada di bagian atas terowongan. Kecepatan alir udara segar dalam pipa sekitar 25 meter per detik.

Advertisement