PENGERTIAN TERBANG LAYANG

adsense-fallback

Adalah cabang olahraga dirgantara yang menggunakan layang atau pesawat layang (glider). Bentuk pesawat layang ini serupa dengan pesawat biasa, tetapi ukurannya lebih kecil. Pesawat ini dapat dilengkapi mesin sebagai tenaga dorong atau tanpa mesin.

adsense-fallback

Mula-mula pesawat layang ditarik oleh pesawat terbang atau mesin penarik. Pesawat layang dan mesin penarik dihubungkan dengan kabel baja sepanjang kira-kira 1.500 meter. Setelah mencapai ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan tanah, pesawat glider melepaskan diri dari pesawat penarik.

Pada umumnya, dengan ketinggian sekitar 500 meter, pesawat layang mendarat kembali di landasan dalam waktu kurang lebih dua menit. Jika penerbang dapat memanfaatkan kolom udara yang naik – yang disebut thermik – pesawat layang dapat mengudara lebih lama. Kolom udara yang naik ini dapat ditimbulkan oleh adanya bangunan yang terkena cahaya matahari,.atau oleh angin yang terpaksa menyusuri punggung gunung. Sering adanya kolom udara yang naik ini ditandai oleh adanya gumpalan awan tebal di bagian atasnya.

 

Dalam pertandingan dan latihan, lamanya terbang dijadikan tolok ukur kemampuan atlet terbang layang. Setelah melakukan penerbangan seorang diri (solo flight) untuk pertama kalinya, penerbang memperoleh Brevet A. Jika penerbang dapat melayang-layang sekitar lima menit setelah lepas dari pesawat atau mesin penarik, ia memperoleh Brevet B, dan jika mampu terbang tiga kali sepuluh menit memperoleh Brevet C.

Olahraga dirgantara mulai berkembang di Indonesia dengan munculnya perkumpulan aeromodelling, terbang layang, dan pesawat bermotor. Perkumpulan aeromodelling yang pertama didirikan pada awal 1946 di Yogyakarta. Perkumpulan itu dibina dan dilatih oleh prajurit TNI-Angkatan Udara di Sekip, Yogyakarta. Sejak itu, bermunculan perkumpulan-perkumpulan aeromodelling dan terbang layang di kota- kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, dan Malang.

Kegiatan olahraga terbang layang dengan pesawat bermotor diawali dengan berdirinya sejumlah aero club, seperti Aero Club Aviantara Bandung, Aero Club Nasional Jakarta, Aero Club Surabaya, Aero Club Pemudaran di Yogyakarta, dan Aero Club Nasional Angkasa di Malang.

Pada tahun 1969 – menjelang diselenggarakannya PON VII di Surabaya – dibentuk Persatuan Olahraga Terbang Layang Seluruh Indonesia (Portelasi) di Jakarta. Dewasa ini, organisasi tersebut melebur dalam Federasi Aero Sport Indonesia.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback