Advertisement

Teori Ketuhanan, Teori ini juga dikenal sebagai doktrin teokratis tentang asal¬mula negara. Teori ini pun bersifat universal. Ia ditemukan baik di dunia Timur maupun di dunia Barat, baik di dalam teori maupun dalam praktik. Dikatakan dalam epik Mahabarata, tatkala manusia dalam keadaan alamiah yang anarkis itu menderita keganasan-keganasan dari keadaan itu, maka mereka menghampiri Tuhan dan memohon kepadanya agar Tuhan menyediakan seorang Raja bagi mereka yang dapat menolong melepaskan mereka dari keadaan yang ganas dan kacau balau itu. Berdasarkan hal ini, Maharaja-maharaja Hindu lazim dianggap sebagai makhluk-makhluk yang suci, sebagai inkarnasi Dewa Krisna. Demikian pula halnya dengan Raja-raja Mesir dahulu yang dianggap anak-anak dari Dewa Ra, Dalai Lama Tibet sampai pada saat ini masih dipandang sebagai inkarnasi Budha di dunia, sedangkan Kaisar-kaisar Jepang menurut kepercayaan mcreka adalah keturunan Dewa Matahari yang menguasai seluruh iad.

Doktrin ketuhanan ini memperoleh bentuknya yang .,empurna dalam tulisan-tulisan para sarjana Eropa dalam Abad Pertengahan yang menggunakan teori itu untuk membenarkan kekuasaan raja-raja yang mutlak. Dengan mengambil doktrin ketuhanan sebagai alasan, dikatakan bahwa raja bertahta karena kehendak Tuhan. Doktrin ini mengemukakan hak-hak raja yang herasal dari Tuhan, untuk memerintah dan bertahta sebagai raja (Devine Rights of Kings). Doktrin ketuhanan lahir sebagai resultante-

Advertisement

– esultante kontroversial dari kekuasaan politik dalam Abad Pertengahan. Kaum “monarchomach” (penentang raja) berpendapat bahwa raja yang berkuasa secara tiranik dapat diturunkan dart

– ahkotanya, bahkan dapat dibunuh. Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan adalah rakyat, sedangkan raja-raja pada waktu itu beranggapan kekuasaan mereka diperoleh dari Tuhan.

Negara dibentuk oleh Tuhan dan pemimpin-pemimpin negara ditunjuk oleh Tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggungjawab pada Tuhan dan tidak pada siapapun. Teori teokratis seperti ini memang sudah amat tua dan didasarkan atas sabda Paulus yang terdapat dalam Rum XIII ayat 1 dan 2.

Thomas Aquinas mengikuti ajaran Paulus dan menganggap Tuhan sebagai principium dari semua kekuasaan, tetapi memasukkan unsur-unsur sekuler dalam ajarannya itu, yaitu bahwa sekalipun Tuhan memberikan principium itu kepada penguasa, namun rakyat menentukan modus atau bentuknya yang tetap dan bahwa rakyat pula yang memberikan kepada seseorang atau segolongan orang exercitum dari pada kekuasaan itu. Karenanya, teori Thomas Aquinas ini bersifat monarcho-demokratis, yaitu bahwa di dalam ajaran itu terdapat unsur-unsur yang monarchistis di samping unsur-unsur yang demokratis. Ajaran ini umum diterima dalam Abad Pertengahan.

Jika doktrin ketuhanan itu dalam Abad pertengahan masih bersifat monarcho-demokratis, dalam abad-abad ke 16 dan 17 doktrin itu bersifat monarchistis semata. Dengan doktrin seperti itu diusahakan agar kekuasaan raja mendapatkan sifatnya yang suci, sehingga pelanggaran terhadap kekuasaan raja merupakan pelanggaran terhadap Tuhan. Raja dianggap sebagai wakil Tuhan, hayangan Tuhan, letnan Tuhan di dunia atau sebagai yang lazim dipameokan “La Roi c’est (‘image de Dieu”.

Doktrin teokratis tersebut merupakan kebalikan dari teori¬teori asal-mula negara lainnya, karena asal-mula negara dan sumber kekuasaan raja dipandang berasal dari makhluk yang berada di luar alam dunia ini.

 

Advertisement