Advertisement

Semua varian teori feminis cenderung mengandung tiga unsur atau asumsi pokok berikut ini: gender adalah suatu konstruksi yang menekan kaum wanita sehingga cenderung menguntungkan pria; konsep patriarki (dominasi kaum pria dalam lembaga-lembaga sosial) melandasi konstruksi tersebut; serta, pengalaman dan pengetahuan kaum wanita harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakat non-seksis di masa mendatang. Premis-premis dasar tersebut mewarnai dua agenda utama teori feminis, yakni perjuangan untuk mengikis stereotipe gender, dan perbaikan konstruksi sosial demi membela kepentingan kaum wanita yang selanjutnya diejawantahkan sebagai model-model feminis baru. Pada intinya teori feminis berfokus pada pengalaman kaum wanita, lingkungan pekerjaan dan keluarganya dan aspek-aspek kewanitaannya yang acap kali terabaikan dalam ilmu sosial dengan kedok universalisme. Meskipun perintis teori-teori seperti ini, antara lain Mary Wollstonecraft (1759-97), disebut sebagai tokoh feminis, sesungguhnya istilah feminis itu sendiri baru mulai digunakan pada tahun 1890-an. Pada abad 20 Virginia Woolf (1882-1941) dan Simone de Beauvoir (1908-86) mengantisipasi datangnya gelombang kedua fe-minisme yang bertujuan menghilangkan penindasan terhadap kaum wanita. Gerakan-gerakan hak-hak sipil dan mahasiswa di tahun 1960-an turut mendorongnya, dan jargon-jargonnya pun mewarnai topik dan bahasa teori feminis hingga saat ini. Teori-teori feminis baru muncul sebagai cabang tersendiri dalam khasanah ilmu sosial sejak tahun 1970-an dengan terbitnya karya Kate Millett yang berjudul Social Politics. Pada awalnya teori feminis bersifat interdisipliner yang merangkum berbagai bidang dalam ilmu sosial, termasuk sejarah, filsafat, antropologi dan juga seni. Selanjutnya ada sejumlah tema yang relatif lebih menonjol seperti reproduksi, representasi, dan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Perkembangan ketiga yang paling perlu dicatat adalah munculnya konsep-konsep baru seperti esensialisme yang dimaksudkan untuk menggugat diskriminasi sosial terhadap ilmu pengetahuan yang ada. Perkembangan keempat, teori-teori feminis mencoba merangkum pengalaman khas kaum wanita dalam teori-teori ilmiah guna memperkaya dunia akademik. Diyakini bahwa kesadaran yang semula bersifat personal bisa saja kemudian berkembang menjadi bersifat politik. MacKinnon (1989) menyatakan bahwa teori feminis merupakan teori pertama yang mencoba menyoroti proses tersebut. Lebih lanjut para ilmuwan psikoanalis feminis menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan keilmuwan itu bermula dari pemisahan praktek sosial berdasarkan gender, dan pengalaman di masa kanak-kanak. Karena feminisme berkembang di saat partisipasi kaum wanita di lingkungan kerja meningkat pesat, sedangkan diskriminasi terus saja berlanjut, maka kritik yang pertama-tama dilontarkan adalah terhadap  bahasa,  budaya dan  dalam lembaga-lembaga ekonomi (perusahaan, pabrik, dan sebagainya). Pada umumnya gagasan intelektual tidaklah muncul secara kronologis, namun pada tahun 1970-an muncul tinjauan mengenai sebab-sebab penindasan kaum wanita (baik itu yang bersumber dari kapitalisme maupun maskulinitas) yang berhasil menjelaskan masyarakat sebagai suatu struktur penindas (kaum pria) yang ditindas (kaum wanita). Dewasa ini tinjauan tersebut telah diperluas ke bentuk-bentuk feminisme, mulai dari feminisme liberal, Marxis/sosialis, kultural/radikal, dan sebagainya. Feminisme liberal menyatakan bahwa kemerdekaan kaum wanita harus mendapat pengakuan hukum dan hak-hak hukum, politik dan ekonomi mereka harus setara dengan hak kaum pria. Pemikiran yang dipelopori oleh Friedan menyerang i; mistik feminin” yang menyulitkan kaum wanita untuk memperoleh persamaan atau pengakuan hak yang setara (Friedan, 1963). Sementara itu. kaum feminis Marxis/sosialis bahkan lebih komprehensif lagi dalam menyoroti eksploitasi ekonomi berdasarkan gender seperti yang dikemukakan oleh Juliet Mitchell dan beberapa ilmuwan lainnya. Pertanyaan kunci yang dipersoalkan adalah apakah kaum wanita merupakan suatu kelas tersendiri? Bagaimana kapitalisme terbentuk oleh konsep patriarki? Melalui pengembangan konsep-konsep produksi Marxis guna mencakup tenaga kerja rumah tangga dan anak- anak, kaum feminis ini mencoba melacak lebih jauh pembagian kerja dan status kaum wanita di tempat kerja. Sebagai contoh, Firestone (1970) menyatakan bahwa pembedaan aspek material kaum wanita sebagai mahkluk produktif merupakan salah satu sumber penindasan karena hal itu dianggap sebagai bukti bahwa kaum wanita secara materi memang berbeda dengan kaum pria.

Teori sistem ganda menyatakan bahwa baik kapitalisme maupun patriarki merupakan latar belakang terciptanya gender, dan teori ini mensintesiskan Marxisme dengan feminisme radikal. Sebagai contoh, MacKinnon (1989) menyatakan bahwa satu-satunya feminisme adalah feminisme radikal itu karena pemikiran-pemikiran pasca Marxis dalam feminisme itu saja yang benar-benar jelas. Dalam mengoreksi pemikiran Marxis mengenai produksi, feminisme radikal dan kultural mengajukan tinjauan mengenai fungsi reproduksi, pengasuhan anak dan berbagai tugas rumah kaum wanita lainnya yang acapkali tidak dihitung sebagai sesuatu yang produktif. Meskipun label kultural atau radikal itu sering diterapkan secara keliru, secara umum teori-teori radikal memiliki kesamaan pandangan, khususnya kekerasan kaum pria, merupakan penyebab berlarut-larutnya penindasan terhadap kaum wanita yang kemudian bahkan diperburuk iagi meialui proses institusionalisasi hetero. Ini merupakan tema karya Rick (1980) berjudul Compulsory Heterosexuality yang dengan bertumpu pada premis de Beauvoir telah berhasil mengembangkan pemikiran yang cemerlang bahwa kaum wanita pada awalnya adalah (istilah ini tidak selalu berarti); karena tekanan dan penindasan, maka mereka mengubah bentuk dan bergeser dari karakter awalnya itu. Argumen yang menyatakan bahwa merupakan suatu preferensi ideologi salah satu teori menonjol dalam feminisme gelombang kedua. Kaum feminis Perancis (ecriture feminine) mencoba melakukan kajian ulang secara besar-besaran terhadap struktur simbolik dan sosial perbedaan gender. Mereka mengatakan bahwa dikotomi kultural dan gender antara pria/wanita dan dikotomi aspek budaya/alamiah selalu membuat kaum wanita inferior. Konsep biner mengabaikan identitas sejati kaum wanita dan dunia semiotik hubungan antara ibu dan anak yang dikandungnya. Sementara itu. kaum feminis Amerika memusatkan perhatian mereka pada hubungan-hubungan psikoanalisis guna melacak sebab-sebab dan sumber kekuasaan kaum pria dan rasa takut kaum wanita terhadap mereka. Kajian-kajian mengenai identitas gender dan obyektivikasinya ini sangat memperkaya film-film dan studi media feminis. Gagasan yang mengatakan adanya perbedaan persepsi antara kaum pria dan wanita itu didukung oleh para teorisi feminis yang menentang kekeliruan rasionalitas dan universalisme dalam ilmu-ilmu sosial. Periode 1980-an menyaksikan pergeseran penting dalam teori feminis ketika para penulis feminis kulit hitam membangkitkan perhatian terhadap perbedaan-perbedaan etnik. Mereka mengkritik tiga bentuk atau tiga fase tipologi di atas (liberai/MarxisAultural) sebagai hasil pemetaan mental kaum wanita kulit putih yang mengabaikan pengalaman-pengalaman wanita kulit hitam sehingga konsepsi tersebut juga tidak lepas dari diskriminasi yang terus mengental sebagai suatu sistem interlocking yang didasarkan pada ras, kelas dan gender. Para penulis feminis kuiit hitam tersebut juga memperkenalkan serangkaian argumen teoretis yang segar dan baru, yang antara lain menyatakan bahwa keluarga pada hakikatnya tidak selalu bersifat patriarki, melainkan juga bisa sebaliknya. Teori ini bersumber dari sejarah Afrocentric yang kaya dengan kasus-kasus pengalaman wanita ketika menjadi ibu di dalam dan di luar masyarakatnya; di Afrika, peran ibu dan wanita pada umumnya relatif lebih terhormat. Kritik-kritik terhadap esensiaiisme kulit putih tersebut sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh kaum feminis pasca strukturalis dan juga kritik-kritik pasca modern terhadap sistem subyektivitas terstruktur. Bertolak dari berbagai macam gagasan mulai dari dekonstruksi hingga analisis diskursus kaum feminis menyatakan bahwa struktur gender secara historis bisa berubah-ubah dan tidak selalu baku dari waktu ke waktu. Hal itulah yang kemudian mendorong Barrett memperkenalkan istilah “perputaran budaya” yang kemudian membangkitkan kembali minat untuk mempelajari simbol-simbol kultural. Kaum feminis Italia, misalnya menciptakan istilah autocoscienza atau konstruksi kolektif identitas-identitas baru. Melalui studi kultural itulah banyak tema-tema yang dimunculkan dalam teori perdamaian feminis kian berkembang yang kesemuanya mempertanyakan ketidakadilan sosialisasi gender tradisional. Sebagai imbangannya kaum pasifis menciptakan model-model aksi lingkungan simbolik di mana kaum wanita menjadi sentralnya. Tantangan kaum feminis terhadap ilmu sosial yang ada mencakup berbagai hal dan aspek. Pengaruh penting yang mereka bawakan terwujud dengan mulai munculnya kesadaran bahwa semua ilmu pengetahuan yang ada saat ini dimotivasikan oleh ideologi gender baik secara sadar maupun tidak sadar. Masa depan akademik teori feminis kini lebih terjamin dengan kian tumbuhnya studi-studi wanita.

Advertisement

Advertisement