Advertisement

Kain tenun yang cara pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat. Teknik ikat dilakukan dengan mengikat bagian-bagian tertentu pada benang sehingga bagian tersebut tidak terwarnai sewaktu benang dicelup ke dalam zat pewarna. Bagian bagian yang diikat diperhitungkan sedemikian rupa sehingga setelah ditenun akan membentuk motif tertentu.

Jenis. Menurut bagian benang yang diikat, tenun ikat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: tenun ikat lungsin, tenun ikat pakan, dan tenun ikat ganda. Pada tenun ikat lungsin, motif dibuat dengan mengikat bagian-bagian benang lungsin (benang vertikal) dalam proses pewarnaan, sedangkan pada tenun ikat pakan motifnya dibuat dengan mengikat benang pakan (benang horizontal). Teknik ikat ganda adalah teknik yang paling sulit karena untuk membentuk motifnya baik benang lungsin maupun benang pakan diikat dan dicelup dalam zat pewarna. Ditinjau dari teknik pembuatan motifnya, ada tenun ikat positif dan tenun ikat negatif. Pada tenun ikat positif, bagian yang diikat adalah yang berbentuk motif tertentu, sedangkan pada tenun ikat negatif bagian yang diikat adalah latar belakangnya.

Advertisement

Asal dan Persebaran. Istilah ikat dalam teknik menenun dikenal di Eropa sejak abad ke-19, lewat Hindia Belanda, sehingga kata ikat terdapat dalam kamus bahasa Belanda maupun Inggris dengan arti produk tekstil hasil tenun tangan yang cara pembuatan motif-aspek estetis, upacara adat, religi, dan simbol status dalam kehidupan masyarakat. Jenis kain dengan warna dan motif hiasan tertentu dipakai oleh orang-orang dari lapisan tertentu atau yang memegang peranan tertentu. Motif-motif hiasannya merupakan simbol yang dititipi makna yang bermanfaat bagi kedudukan, keselamatan, dan kebahagiaan pemakainya. Kain-kain tenun digunakan dalam upacara daur hidup atau inisiasi, sebagai mas kav n, dalam upacara pertanian, dll.

Hasil pertenunan yang terkait dengan berbagai latar belakang budaya dan lingkungan itu melahirkan aneka ragam corak tenun ikat, tenun songket, dan oleh sebagian bangsa Indian di Amerika. Di Indonesia, hampir tiap daerah mempunyai berbagai ragam hias (desain) khusus yang dibuat pada tenun dengan teknik ikat.

Tenun ikat lungsin telah dikenal sejak jaman kebudayaan Dongson prasejarah. Tenun ikat lungsin di Indonesia dijumpai di daerah-daerah antara lain: Toraja, Minahasa, Sumatra Utara, Sumba, Flores, Sawu, Roti, Ndao, Lomblen, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan pedalaman Kalimantan Barat. Kain tenun yang berasal dari Batak, Dayak, Toraja dan Sumba kurang terpengaruh kebudayaan luar karena letaknya kurang strategis bagi lalu lintas perdagangan dengan dunia luar. Tenun ikat lungsin banyak terda- pat di daerah-daerah yang kurang mendapat pengaruh Hindu, Budha, dan Islam.

Tenun ikat pakan muncul sesudah orang mengenal tenun ikat lungsin dan banyak terdapat di daerah yang terpengaruh oleh Hindu, Budha dan Islam. Daerah- daerah persebaran tenun ikat pakan antara lain: Palembang, Pasemah, Bangka, Kepulauan Riau daratan, Jawa, Bali, Donggala, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Tenun ikat ganda di Indonesia hanya terdapat di desa Tenganan Pagringsingan, Bali, dan populer dengan sebutan kain gringsing. Kain ini diproduksi secara terbatas dan dipakai untuk upacara-upacara adat.

Motif dan Fungsi Tenun Ikat. Di Aceh dewasa ini kain yang terkenal adalah songket benang perak, namun masih dapat dilacak bahwa dahulu di Aceh dikenal juga tenun ikat lungsin dengan motif sederhana berbentuk garis terputus-putus seperti pada tenun ulos Batak. Tenun ikat lungsin yang sederhana umumnya dikombinasikan dengan songket benang perak. Selain itu dikenal pula motif ujung-ujung panah dalam jalur- jalur sempit vertikal. Tenun ikat di Aceh lebih sering menggunakan benang sutera daripada benang kapas biasa. Pada masyarakat Aceh, kain tenun dikenakan sebagai selendang punggung maupun selendang dada dan bahu.

Tenun ikat pakan dari Palembang mempunyai motif khas, yaitu bentuk sayap garuda dan motif ceplok fjunga Kedua motif ini biasanya mengisi bidang tengah- ‘i Minangkabau, kain ikat pakan dengan corak Palembang juga pernah ada. Salah satu peninggalan tenun ikat Minangkabau adalah salah satu kelengkapan pakaian adat seorang datuk.

pi Bali dikenal kain endek, yaitu kain yang ragam hiasnya dibuat dengan teknik ikat, dan pada umumnya dibuat dari sutera mumi. Selain diberi motif dengan teknik ikat, kain endek biasanya disempurnakan dengan nyantri atau coletan, yaitu memberi tambahan warna dengan cara mengoleskan zat pewarna dengan semac- n kuas pada benang yang akan ditenun. Kain endek ini umumnya dibuat dengan ikat pakan meskipun ada juga yang dibuat dengan ikat lungsin. Di Nusa Penida terdapat kamben-cepuk yang dipakai sebagai kain biasa dan sebagai hiasan di pura. Kain ini berwarna merah tua dan motifnya mirip dengan kain patola dari India. Kain tenun ikat pakan lain yang cukup populer adalah kain bebali; motif kain ini dibuat dengan kombinasi teknik ikat dan coletan. Warna-warnanya biasanya biru, merah muda dan cokelat, bahannya benang kapas halus dan tipis, motifnya segi tiga tumpal kecil-kecil dengan segi enam kecil-kecil menyerupai sarang tawon di tengah. Kain bebali ini dipakai sebagai sarung oleh wanita pada waktu upacara pembakaran mayat atau sebagai selendang dan kemben. Salah satu tenun ikat Bali yang sangat populer adalah kain gringsing, yaitu tenun ikat ganda yang dihasilkan di desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Kain gringsing berperan penting dalam upacara-upacara adat. Sebagai pakaian sehari-hari kain gringsing dipakai sebagai kemben. Selain itu kain ini dipakai sebagai pelindung terhadap penyakit, sebagai as kepala dalam upacara pasak gigi, sebagai hiasan mengelilingi pelaminan kedua mempelai pada upacara perkawinan, digantung di pura dan di menara pembakaran mayat. Beberapa motif kain gringsing antara lain adalah motif flora, fauna, dan geometris. Menurut pengamatan para ahli, ada kemungkinan kain gringsing ini pernah dibuat di Jawa sewaktu pemerintahan Majapahit. vH

Kain tenun Donggala, Sulawesi Tengah, mempunyai motif khas, yaitu motif bunga dengan dedaunan di samping motif geometris. Baik pewarnaan, motif maupun teknik pembuatan menunjukkan adanya persamaan dengan kain tenun Bugis di Sulawesi Selatan. Kain sarung Donggala yang dibuat dengan teknik ikat disebut sarung bomba. Ragam hias ikat pada sarung bomba ini terdapat pada benang pakannya. Unsur Islam yang kuat pada kain tenun Donggala tampak pada banyaknya motif bunga, flora, atau fauna, sementara motif manusia sama sekali tidak dikenal.

Beberapa suku bangsa Dayak yang dikenal sebagai pembuat tenun ikat adalah Ot Danum, Bahau, Apo Kayan, dan yang paling populer adalah Dayak Iban. Suku bangsa Dayak Iban yang mendiami wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia merupakan pembuat kain tenun yang terkenal di seluruh dunia. Selain itu, tenun ikat khas yang dibuat dari serat rumput-rumputan (disebut doyo) dibuat oleh suku bangsa Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. Beberapa jenis kain tenun ikat dibuat sebagai rok bawah, baju, jaket, seli-mut, dan kain panjang, serta hiasan dinding. Di masa lalu, kain tenun dinilai mempunyai kekuatan magis, misalnya jaket bermotif burung apabila dipakai petani sewaktu mengolah ladang akan meningkatkan produksi hasil ladangnya.

Kain tenun Sumba mempunyai motif yang khas. Daerah Sumba Barat terkenal dengan motif garis, anting-anting, bunga dan lain-lain, sedangkan daerah Sumba Timur lebih dikenal dengan motif kuda, rusa, singa, burung, ikan, pohon tengkorak, dan sebagai- nya. Kain hinggi, kain tenun segi empat memanjang yang dipakai kaum laki-laki yang dikenakan di pinggang atau disarungkan dan dipasangkan dengan kain sejenis untuk dikenakan di bahu, biasanya bermotif geometris dan unsur-unsur organik misalnya kuda, pohon tengkorak, singa, dan sebagainya. Pohon tengkorak menggambarkan tengkorak musuh yang digantungkan di atas pohon di halaman rumah raja.

Kain tenun Timor, yang mempunyai jalur besar di tengah, dibuat dengan teknik ikat bermotif burung atau kuda. Kain tenun di Timor berfungsi sebagai selendang, selimut, atau sarung.

Incoming search terms:

  • kain tenun ikat dari sumba barat bermotifkan garis anting-anting dan
  • tenun motif garis putus-putus dari batak
  • tenun motis garis putus-putus dari batak

Advertisement
Filed under : Budaya, tags:

Incoming search terms:

  • kain tenun ikat dari sumba barat bermotifkan garis anting-anting dan
  • tenun motif garis putus-putus dari batak
  • tenun motis garis putus-putus dari batak