Advertisement

PENGERTIAN TENTANG SUKU TUMBUHAN, Terdapat sekitar 250 000 jenis tumbuhan berbunga yang :apat digolongkan menjadi kira-kira 450 kelompok yang ,-Lurang-lebih alami sifatnya, atau disebut suku. Pengenalan 7engelompokan alami lebih umum dikenal pada hewan tinggi :aripada tumbuhan berbunga. Jika umpamanya Anda diberi :ahu bahwa seekor hewan memiliki bulu, maka Anda hampir :apat memastikan bahwa hewan itu akan mempunyai juga tmpat anggota badan, berdarah panas, dan anaknya akan iilahirkan dan disusui induknya. Karena sifat-sifat seperti ieadaan berbulu dan menyusui itu cenderung berkaitan, -maka kelompok nyata dari hewan ini mudah dikenal dan nama umum mamalia. Kelompok alami dijumpai juga Dada tumbuhan berbunga, tetapi dari kesan umumnya kelompok kini kurang jelas.

Pemisahan antara hewan dan tumbuhan ke dalam kelom-pok yang tidak sinambung bukanlah suatu hal yang dapat diramalkan menurut logika, tetapi ini merupakan konsekuen-si fakta alam bahwa sifat-sifat itu tidak tersebar secara acak, tetapi cenderung berkorelasi. Banyak kombinasi sifat yang secara teoretis dapat hadir tetapi ternyata tidak ada. Misalnya seekor hewan berbulu unggas (feather) tidak pernah menyusui anaknya, walaupun tak ada alasan yang jelas mengapa bulu unggas dan menyusui tidak dapat terjadi bersama-sama. Kebanyakan ahli biologi modern menganggap bahwa korelasi sifat dapat dijelaskan dengan baik sekali jika dihubungkan dengan evolusi. Jika dua tumbuhan memiliki banyak sifat yang sama, kemudian alasan yang paling mungkin tampaknya adalah bahwa tumbuhan itu mewarisi sifat-sifat tersebut dari nenek-moyang yang sama.

Advertisement

Ada tiga kesulitan utama yang dihadapi pemula dalam usahanya mempelajari sifat-sifat suku tumbuhan. Kesulitan pertama adalah besarnya jumlah suku tumbuhan berbunga. Di daerah tropik banyak suku yang tersebar luas, baik karena penyebaran alaminya adalah pantropik atau karena tumbuhan itu secara kebetulan atau sengaja diintroduksikan oleh manusia ke berbagai negara tropik. Jelaslah bahwa akan sulit untuk mempelajari semua suku yang ada di suatu negara, tetapi jika tidak lebih dari lima belas suku yang dipelajari, maka tugas itu dianggap suatu hal yang dapat dicapai. Sukusuku yang dikemukakan dalam tiga bab berikut ini telah dipilih terutama untuk memberikan an tentang kisaran struktur bunga yang dijumpai pada tumbuhan tropik yang relatif mudah diperoleh dan tidak terlalu sukar untuk ditelaah. Meskipun demikian, hendaknya disadari dari awal bahwa sifat vegetatif juga penting untuk membedakan berbagai suku, dan bahkan tanpa bunga pun banyak suku dapat diidentifikasi hanya dengan sifat vegetatifnya. Mahasiswa harus belajar bagaimana melihat suatu tumbuhan secara rrienyeluruh, dan jangan beranggapan bahwa penggabungan daun makota dan jumlah benang sari merupakan sifat-sifat yang lebih penting daripada apakah tumbuhan yang sedang diamati itu terna setahun atau sebatang’pohon tinggi. Suatu fakta yang menarik juga adalah bahwa sifat-sifat yang menyebabkan tumbuhan tertentu menjadi penting bagi manusia sering juga penting dalam klasifikasi. Misalnya Apocynaceae dicirikan oleh getahnya yang putih susu yang pada banyak jenis sangat beracun, dan fakta ini jelas harus diketahui sama halnya dengan kehadiran makota yang gamopetal dan bakal buah menumpang. Tiga bab berikut ini akan menunjukkan sifat-sifat vegetatif dan sifat-sifat bunga yang penting untuk pengenalan beberapa suku tropik yang umum, tetapi perlu ditekankan bahwa informasi dalam babbab tersebut bukan merupakan substitusi bagi pengalaman nyata yang diperoleh dari penelaahan spesimen itu sendiri.

Kesulitan kedua yang menakutkan mahasiswa adalah bahasa teknik yang digunakan dalam Flora dan buku acuan lainnya. Jelas bahwa botani, seperti halnya cabang ilmu lainnya, harus memiliki istilah-istilah teknik, tetapi sebenarnya jumlah istilah yang harus dikuasai oleh seorang mahasiswa (kebalikan dari seorang ahli) hanya sedikit saja. Asal saja seseorang bertekad untuk berusaha mempelajari arti istilahistilah botani yang umum, seperti apokarp, sinkarp, hipogin, epigin, aktinomorf, dan zigomorf, maka is sudah ada di jalan yang tepat untuk mengatasi kesulitan bahasa. Memang benar bahwa pada masa silam jumlah istilah botani yang digunakan lebih banyak daripada yang benar-benar diperlukan, tetapi sekarang ada kecenderungan untuk mengurangi sampai jumlah minimum. Kini disadari bahwa tak ada nilai ilmiahnya penggunaan kata-kata yang dilatinkan jika padanannya dalam bahasa Inggris sama baiknya dan sama cermatnya. Jadi kata alae bukan wings (sayap) untuk kedua daun makota lateral pada bunga ercis atau buncis tidak perlu dipakai. Sama halnya dengan istilah-istilah lama, seperti ‘pistil’ untuk bakal buah, lebih baik dilupakan saja. Jika kata semacam itu dijumpai tumbuhan itu masih tetap ‘sama dengan tipenya’. Tentu saja berbagai tumbuhan dalam satu suku dapat menyimpang ke berbagai arah, dan jika hal ini terjadi (seperti halnya pada Leguminosae) suatu definisi yang tepat dari suku yang mempunyai penyimpangan itu amat sulit disusun, sebab definisi itu harus mencakup semua variasi. Untungnya, sama sekali tak ada gunanya untuk mencoba menghafalkan dengan cermat pertelaan suku-suku, sebab kekecualian itu hanya akan mengaburkan pola dasarnya saja. Cara yang tepat untuk memahami suatu suku tertentu ialah dengan menyusun suatu an mental dari pola umum organisasi suku tersebut, tetapi sementara itu harus kita sadari bahwa hampir setiap tumbuhan dalam satu suku (terutama bila suku itu benar) mungkin mempunyai beberapa sifat yang merupakan kekecualian beberapa sifat. Setelah pola umum dipahami, akan terlihat bahwa kekecualian sifat apa pun hanya merupakan hal sekunder. Asalkan tumbuhan secara keseluruhan, dan bukan hanya satu sifat bunganya, telah ditelaah maka kekecualian sifat apa pun tidak akan menimbulkan kesulitan yang nyata dalam penentuan suku tumbuhan termaksud. Perhatian terhadap sifat-sifat lain dari tumbuhan akan memberikan berbagai cara alternatif untuk mengenal suku itu. Sebenarnya tidaklah benar menentukan suku suatu tumbuhan hanya berdasarkan pengamatan satu sifat, sebab batasan suku bergantung kepada korelasi beberapa sifat. Oleh karena itu, sebagai panduan periksalah keseluruhan tumbuhan secara teliti dan pelajarilah sifat-sifat suku itu dari tumbuhan tersebut, jangan melihat pertelaan suku tersebut dari bukubuku acuan dan kemudian memeriksa bahwa tumbuhan itu sesuai dengan pertelaan. Jika aturan ini telah diikuti dan diterapkan ,pada beberapa tumbuhan dalam suku tersebut, suatu an tentang pola dasar akan terbentuk dalam pikiran tanpa usaha yang sia-sia. Walaupun jumlah suku yang akan dipelajari sedikit, tak ada cara lain yang lebih baik daripada pengamatan tangan pertama pada spesimen tersebut.

 

 

Advertisement