Advertisement

Suatu kelompok jenis pohon anggota marga Shorea yang umumnya berupa pohon dengan batang tegak dan lurus, berbanir pendek atau tidak berbanir. Tingginya dapat mencapai 30 meter atau lebih. Perbungaannya berupa malai; bunganya berwarna krem dengan pangkal merah muda; jumlah benangsarinya 20 – 60. Penumpu, daun pelindung bunga, dan daun gagang bunganya berukuran besar dan tidak mudah gugur. Daunnya memiliki tulang tengah yang menonjol dan jelas. Permukaan pepagannya mudah mengelupas.

Tengkawang Telur berupa pohon besar atau sedang, dengan tinggi dapat mencapai 32 meter dan garis tengah 1 meter atau lebih. Ranting yang masih muda, kuncup daun, tangkai daun, penumpu, dan perbungaannya berbulu emas sampai kecokelat-cokelatan. Kulit luar batangnya cokelat muda sampai cokelat, tidak beralur, dan sedikit mengelupas; batangnya me-ngandung banyak damar. Pohon ini banyak adanya di Kalimantan. Tumbuhnya menyebar atau berkelompok dalam hutan primer, pada tempat yang rendah, tepi sungai, dan pada tanah liat atau berpasir, pada ketini lan 15-500 meter di atas permukaan laut. Kayunya ringan, lunak, dan mempunyai kelas keawetan IV, sehingga digolongkan dalam jenis yang bermutu rendah. Kayu ini hanya digunakan untuk keperluan sederhana, seperti papan perahu dan papan biji buah pohon tengkawang, antara lain tengkawang tungkul (Shorea stenoptera), tengkawang majan (S. lepidota), tengkawang layar (S. gysbertsiana), tengkawang terendak (S. seminis), dan Isoptera borneensis. Daerah penghasil buah tengkawang dan minyak tengkawang terbesar adalah Ka-limantan Barat.

Advertisement

Untuk mendapatkan minyak, biji buah tengkawang harus diproses terlebih dahulu. Sebelum diproses, biji tengkawang dikuliti dengan cara basah atau cara kering.

Pada pengupasan cara basah, biji yang telah dibuang bagian sayap bijinya dimasukkan ke dalam keranjang dan direndam dalam air mengalir selama 30 hari sampai kulit biji mudah dibuang. Selanjutnya, biji dijemur selama satu minggu. Biji yang diolah dengan cara tersebut tampak berwarna hitam, tahan lama, serta mengandung kadar lemak tinggi (sekitar 60 persen).

Pengupasan cara kering biasa dilakukan di daerah yang persediaan airnya kurang. Biji yang bagian sayap bijinya telah dibuang dimasukkan ke dalam keranjang dan diasapi di atas api sampai kulitnya mudah dikupas. Biji yang diolah dengan cara ini tampak berwarna cokelat, tidak tahan disimpan lama (hanya dapat tahan sekitar 2-3 bulan), serta mengandung lemak kurang dari 50 persen.

Biji tengkawang yang telah kering diperas, sehingga diperoleh lemak kasar yang masih mengandung banyak lemak bebas. Cara lain yang biasa dilakukan adalah cara rendering, yaitu biji tengkawang ditumbuk, kemudian dikukus selama 2 jam. Lemaknya akan mencair dan mengapung di atas permukaan air. Selanjutnya lapisan lemak dipisahkan dan dimasukkan ke dalam tabung bambu.

Masyarakat sering memakai minyak tengkawang sebagai minyak goreng dan obat-obatan. Dalam bidang industri, minyak ini digunakan sebagai, antara lain, pengganti lemak hewani dan lemak biji cokelat dalam industri farmasi, kosmetik, sabun, lilin, margarin, dan pelumas.

Advertisement