Advertisement

Pohon yang tingginya dapat mencapai 20 meter; kadang-kadang ada banir kecil pada pangkal galarnya. Daunnya majemuk menyirip dengan 3 – 8 pasang pinak daun. Bunganya tersusun dalam tandan berwarna kuning. Polongnya yang berbentuk silinder mencapai panjang 60 sentimeter. Warna polong mudanya hijau, sedangkan yang telah masak dan kering hitam. Bijinya yang tersusun melintang dalam polongnya berbentuk agak bundar memipih, berwarna cokelat, dan terbungkus oleh empelur atau lendir yang berbau memualkan. Tengguli, yang diduga berasal dari India dan Sri Lanka, tersebar di Malaysia, Indonesia, dan daerah tropika lainnya. Biasanya pohon ini dibudidayakan sebagai tanaman obat di pekarangan atau kebun, dan pohon hias. Air rebusan akarnya dipergunakan sebagai antiinfeksi bagi luka yang parah dan bisul besar, yang mula-mula dibersihkan, lalu dikompres dengan air rebusan akar tadi; dalam waktu tidak lama luka akan mengering dan sembuh. Kayu tengguli berwarna kuning pucat, tetapi pada pohon yang tua kemerah-merahan; di sekitar galuhnya berwarna abu-abu gelap. Pada pohon yang sudah sangat tua, warna seluruh kayunya menjadi kegelapan. Kayunya bersifat awet dan cukup kuat. Kayu ini dianggap baik untuk bahan bangunan yang kecil dan bahan pembuatan alat-alat pertanian. Karena pohonnya yang mempunyai galar tidak selalu lurus, sangatlah sulit memperoleh bahan kayu tengguli yang cukup panjang. Pepagan bagian dalamnya yang masih segar berkhasiat sebagai obat luka bakar. Pepagan ini mengandung 10-12 persen tanin, sehingga sering digunakan sebagai campuran bahan penyamak kulit. Karena dapat membentuk asam, pepagan tengguli membutuhkan waktu yang relatif singkat dalam penyamakan kulit. Kulit yang disamak dengan tengguli akan berwarna kuning muda dan tidak mudah luntur. Daun tengguli dipergunakan sebagai obat penyakit kulit, misalnya borok atau luka pada hewan ternak. Orang Madura menggunakan air seduhan daunnya, yang dicampur atau tidak dicampur dengan empulurnya, sebagai obat pencahar untuk mencuci perut. Bu-nganya juga berkhasiat sebagai pencahar. Namun, yang lebih sering dipakai untuk mencuci perut adalah empelur pada buahnya yang berwarna kehitaman, berbau memualkan, dan berasa agak manis. Agar orang tidak muntah ketika menelannya, sebaiknya empelur ini tidak dicampur air, tetapi langsung ditelan, dan selanjutnya baru didorong dengan air minum. Empelur tersebut juga dianggap berkhasiat menyem-buhkan penyakit batu ginjal. Di pasar, buah tengguli kering sering dijual orang sebagai bahan obat. Buah tengguli kering pernah menjadi komoditas ekspor di masa lalu. Kini, yang banyak membutuhkan empelur buah tengguli adalah pengusaha pertembakauan sebagai bahan saus tembakau.

Klasifikasi Ilmiah. Tengguli termasuk suku Fabaceae (kacang-kacangan); nama ilmiahnya Cassia fistula.

Advertisement

Advertisement