Advertisement

Atau stealth technology, adalah teknologi yang bertujuan merekayasa alat-alat utama persenjataan udara, untuk kemudian dikembangkan bagi pelbagai persenjataan utama lain, de- pT: n kualitas baru sebagai berikut: sukar dilacak oleh radar, secara visual dan berdasarkan suaranya. Teknologi siluman untuk pertama kali dikembangkan oleh Amerika Serikat bagi angkatan udaranya. Pesawat B-2 diumumkan penugasannya ke dalam jajaran AU- AS sejak November 1988. Dalam pengumuman itu AU-AS sekaligus mengakui bahwa di dalam jajaran tempurnya terdapat pesawat-pesawat tempur siluman F-117 A. Dengan demikian hingga akhir tahun 1990, AS telah berhasil merekayasa pesawat tempur F-117 A, dan pesawat pembom B-2. Upaya rekayasa jenis- jenj.s peluru kendali dengan teknologi ini masih teruskan. Bahkan telah juga dilontarkan gagasan untuk merekayasa tank siluman bagi AD-AS, dan kapal perang kelas fregat, atau lebih kecil, dengan teknologi ini.

Dalam Krisis Teluk 1990, menghadapi kekuatan militer Irak, AS menugaskan lebih dari 20 pesawat tempur F-l 17 A.  Dasar-dasar Teknologi Siluman. Terdapat beberapa pola teknologi yang secara sekaligus dipakai untuk memperoleh daya siluman secara maksimal. Yang terpenting di antaranya adalah:

Advertisement

(1) Pemakaian cat penyerap gelombang radar. Cat ini dapat menyerap sebagian, atau seluruh gelombang radar yang menerpanya, tergantung dari daya gelombang tersebut;

(2) Pola bentuk lengkung tidak beraturan, terutama pada bagian bawah pesawat siluman. Berkas gelombang radar yang mengenai bagian ini akan terpantul dengan tidak beraturan pula, sehingga hanya sebagian kecil yang kembali ke arah sumbernya (radar lawan). Umumnya bagian bawah pesawatlah yang terkena berkas-berkas radar deteksi pihak lawan;

(3) Desain bentuk pesawat yang berpenampang radar rendah (low radar cross section/low RCS). Rekayasa desain semacam ini ternyata teramat pelik, dan hampir mengubah pola umum rekayasa pesawat terbang. Para pakar AS terpaksa mengambil desain sayap terbang bagi B-2 yang relatif besar formatnya. Desain ini menyatukan badan dengan sayap pesawat. Tetapi pesawat dengan desain ini umumnya sukar dikendalikan, terlebih-lebih dengan dihilangkannya sirip kemudi pesawat untuk mengurangi RCS-nya. Hanya dengan bantuan komputer dengan kecerdasan buatanlah pesawat siluman ini dapat diterbangkan.

(4) Penempatan mesin jet dalam badan pesawat dengan bagian lubang pengisap berbentuk .S’ untuk menyembunyikan RCS turbin terdepannya. Hal ini dilakukan karena bagian depan mesin jet pesawat-pesawat terbang, terutama penampang turbin depannya, diketahui ber-RCS tinggi.

(5) Peredam inframerah dan peredam suara pada mesin jetnya untuk memperkecil intensitas suara mesin maupun lacak inframerah mesin di cerobong jetnya. Karena itu pesawat siluman itu bersuara lebih lembut dibandingkan dengan pesawat jet tempur lazimnya;

(6) Warna hitam untuk meminimalkan lacak visual. Efek ini maksimal bilamana kedua jenis pesawat diterbangkan di malam hari.

Para pakar AS menaksir RCS B-2 adalah sekitar 0,01 meter persegi, sebesar RCS seekor burung merpati di layar radar. RCS H-117 A jauh lebih kecil dari itu. Sebagai pembanding, RCS pembom utama AU- AS saat ini, yakni B-52 dan B-i-B, masing-masing adalah sekitar 40 meter persegi (4.000 kalinya) dan 0,4 meter persegi (40 kalinya).

Meskipun unggul dalam RCS, kedua jenis pesawat siluman tersebut tidak mampu terbang di atas kecepatan suara. Keunggulan daya strategis maupun taktisnya diraih oleh kecilnya lacak radar, audio, maupun visual.

Advertisement