PENGERTIAN TARI TOPENG

adsense-fallback

Adalah tarian rakyat yang penarinya mengenakan penutup muka yang disebut topeng. Menurut keratabasa, topeng berasal dari kata “tup” atau tutup, dan melalui gejala pembentukan kata, kata ini ditambah suku kata “eng” sehingga menjadi “tupeng”; yang kemudian berubah menjadi “topeng”. Tari topeng merupakan kesenian rakyat yang bisa dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, terutama pulau Jawa dan Bali. Meskipun sebagian besar kisahnya berasal dari Mahabarata dan Ramayana, tari topeng juga menceritakan kisah panji. Mulanya tarian ini diadakan dalam upacara-upacara keagamaan. Kemudian dalam perkembangannya, tarian ini berubah menjadi sarana hiburan yang komersial. Tempat pementasannya pun mengalami pergeseran, tidak lagi hanya diadakan di istana namun juga di berbagai tempat, termasuk di pinggir jalan, di gedung kesenian, atau arena pertunjukan lainnya.

adsense-fallback

Kini tari topeng berkembang dalam berbagai ragam tari. 1 ada dasarnya semua tari topeng memiliki kesamaan pola dasar, termasuk cara melakukan persembahan, selendang kehormatan, sari perdana, dan gerak lainnya. Umumnya tari topeng dimainkan oleh seorang pemain meskipun ia memerankan beberapa tokoh, namun adakalanya dimainkan juga oleh dua hingga lima orang.

Berdasarkan beberapa prasasti dan lontar yang di-temukan, diperkirakan tari topeng sudah ada di Indonesia sejak abad ke-9. Hal ini terbukti dengan ditemukannya batu bertulis di Jawa dengan tahun 840 yang menyebut-nyebut “atapukan” yang artinya topeng atau petugas yang berkuasa atas pertunjukan topeng. Di Bali ditemukan juga prasasti Bebetin bertahun 896. Di dalamnya terdapat kata “partapuka” yang artinya perkumpulan topeng.

Tari topeng berkembang pesat pada abad ke-12 hingga 15. Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, di akhir abad ke-15 tari topeng juga mengalami kemunduran. Namun kemudian kesenian ini terangkat kembali dalam kalangan bangsawan saat munculnya kera- jaan-kerajaan Islam, dengan cerita-cerita panji. Tari topeng mulai beralih dari istana ke dalam kehidupan rakyat jelata setelah Kerajaan Mataram terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Sekali pun tari topeng masih membawakan kisahkah panji, sejak saat itu namanya berubah menjadi wayang topeng. Meskipun kemudian istilah ini jarang digunakan.

Drama tari topeng di Istana Banten, Jawa Barat, disebut raket, sedangkan di Kesunanan Cirebon disebut wayang wong (wayang orang-). Istilah raket di Banten sudah digunakan sejak jaman Kerajaan Majapahit, seperti yang termuat dalam kitab Negarakertagama.

Di Cirebon pertunjukan tari topeng juga dikenal dengan sebutan topeng dalang karena ceritanya dilantunkan oleh dalang. Dialog dalam tari ini dilantunkan lewat tembang. Topeng yang digunakan tidak diikat di kepala melainkan digigit bagian belakangnya. Apabila penari harus melantunkan tembang topengnya diangkat sedikit. Di Cirebon tari topeng mulanya juga berkembang di kalangan raja-raja namun akhirnya menyebar ke rakyat jelata. Yang berkembang dalam kalangan rakyat disebut Tari Topeng Babakan. Babakan adalah pertunjukan topeng yang singkat dengan sedikit pemain dan juga perangkat gamelannya. Topeng Babakan lazimnya diadakan di pinggir-pinggir jalan, di pasar, dan di tanah lapang, dengan memungut bayaran kepada penontonnya. Penarinya yang hanya dua atau tiga orang memainkan beberapa tokoh. Kisah yang populer adalah Topeng Patih, Tumenggung, dan Topeng Panji.

Tari topeng di Bali umumnya menceritakan kisah historis berdasarkan sejarah Jawa dan Bali, yang disebut Babad Bali (Usana Bali). Cerita dari Jawa yang sering dipentaskan adalah Arya Damar, Ronggolawe, Ken Arok, dan Gajah Mada. Tarian ini tidak memakai dialog karena seluruh muka pemainnya tertutup topeng. Isi cerita dan komentar adegan-adegannya disuarakan oleh dua punakawan, Penasar dan Kartala. Kedua punakawan ini mengenakan topeng setengah, yang terbuka bagian mulutnya. Mereka terkadang tidak bertopeng sama sekali. Tari topeng Bali kemudian berkembang menjadi Topeng Panca dan Topeng Pajegan. Topeng Pajegan atau Topeng Upacara merupakan sarana Upacara Dewa Yadnya yang selalu dipentaskan ketika berlangsungnya upacara. Lima belas tokoh dalam tari ini diperankan oleh satu penari. Tokoh terpentingnya Prabu Sindhakarya merupakan penjelmaan Wishnu. Topeng Panca yang merupakan pengembangan Topeng Pajegan ditarikan oleh lima orang. Musik pengiring kedua tari topeng ini adalah gambelan barungan Bali.

Tari Topeng juga dikenal di Kalimantan Selatan. Bahkan daerah ini memiliki lebih banyak lakon dibanding tari Topeng di Jawa atau pun Bali. Beberapa kisahnya yang terkenal adalah Topeng Aluh Tampi, Topeng Gajah Barung, Topeng Samba, Topeng Kelana, Topeng Panambi, Topeng Pantul Tambam, dan Topeng Tumenggung. Tari Topeng Aluh Tampi menampilkan kisah seorang gadis yang sedang menumbuk padi dan membersihkan beras. Tari ini melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Tari Topeng Gajah Barung yang lebih dikenal sebagai tari Topeng Batara Kala mengisahkan Batara Kala yang memimpin hantu, jin, dan semua penghuni alam gaib turun ke dunia untuk menghadiri upacara. Dalam upacara, terdapat dialog antara Batara Kala dan dalang sebagai pemimpin upacara. Dialog ini menceritakan maksud dan tujuan Upacara Sampir, yang diakhiri dengan permohonan dalang kepada Batara Kala sebagai pemimpin kelompoknya agar tidak mengganggu keluarga dan masyarakat yang mengadakan upacara. Sebelum dimulai, penarinya diasapi dan ditaburi beras kuning hingga akhirnya tidak sadar {trance).

Tari Topeng Samba mengisahkan Raden Samba yang berhasil meruwat (melepas kutuk para dewa) Dewi Durga. Sebagai hadiah atas keberhasilan ini Samba dapat bertemu kembali dengan istrinya, atas bantuan Durga.

Tari Topeng Kelana menceritakan Raja Alengka yang sedang jatuh cinta dan ingin bertemu kekasihnya, Dewi Sekartaji. Rahwana yang sedang merayu Dewi Sekartaji sadar bahwa yang dirayunya adalah bayangan Sekartaji. Prabu Rahwana kecewa dan marah setelah tahu yang dirayunya adalah punakawan, Togog. Namun Togog kemudian menemani Rahwana mencari Dewi Sekartaji.

Tari Topeng Panji mengisahkan pengembaraan Raden Panji keluar masuk hutan dan desa-desa untuk mencari istrinya yang hilang dalam perang.

Tari Topeng Pantul Tambam (atau Pentul Tem- bem) merupakan kisah dua punakawan, Pantul dan Tambam. Tari topeng ini mengisahkan seorang dukun yang membutuhkan perantara untuk mengobati seseorang- Dalam dialog antara dukun, Pantul, dan Tambang kedua punakawan ini diminta menjadi perantara UNT V mengobati seseorang.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback