PENGERTIAN SUKU BANGSA KAPAUKU

adsense-fallback

PENGERTIAN SUKU BANGSA KAPAUKU – Berdiam di dataran tinggi bagian tengah Irian Jaya, daerah yang berada pada 135—137° Bujur Timur dan 3—4° Lintang Selatan. Sekarang daerah itu merupakan wilayah Kecamatan Kamu, Paniai Timur, Paniai Barat, Tigi, yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Paniai, Propinsi Irian Jaya. Daerah itu berupa gunung-gu­nung tinggi dan lembah dalam yang diselingi dengan Danau Paniai, Danau Tage, dan Danau Tigi. Daerah ini ditumbuhi hutan lebat dengan pohon-pohon kayu besar, dengan berbagai jenis binatang berkantung, ba­bi hutan, tikus, burung kasuari, burung cenderawasih, ular, dsb.

adsense-fallback

Nama kapauku diberikan oleh orang-orang yang berdiam di pantai barat daya Irian Jaya. Orang Moni, tetangga mereka di sebelah timur laut, menamakan j mereka orang Ekari. Orang Kapauku sendiri menyebut diri mereka me yang artinya “manusia.” Jumlah orang Kapaiku sekitar tahun 1950-an diperkirakan sebesar 60.000 jiwa. Mereka mempunyai bahasa seni diri yang disebut bahasa Kapauku.

Mereka hidup dari bercocok tanam sederhana de­ngan peralatan sederhana pula, misalnya alat dari batu. Tanaman yang mereka kenal untuk dikonsumsi adalah talas, ubi rambat, ubi kayu, tebu, tembakau. Kacang-kacangan, sayur-sayuran, mentimun, San labu. Ternak yang dipelihara hanya babi dan ayam. Sungai dan danau menjadi sumber penang­kapan ikan.

Makanan pokok mereka talas. Mereka menanam ubi rambat terutama untuk makanan babi. Ternak babi dipandang sangat penting, terutama untuk pesta babi (iuwo) dan untuk mas kawin.

Selain babi, kerang juga dipakai sebagai mas ka­win. Babi merupakan salah satu simbol kekayaan, dan kekayaan merupakan sarana untuk mendapatkan ke­hormatan, kedudukan, dan kekuatan politik dalam masyarakat. Babi sebagai mas kawin digunakan untuk melamar istri lebih dari satu. Istri bagi orang Kapauku bukanlah untuk sekadar memenuhi kebutuhan , melainkan juga untuk membantu mengumpulkan ke­kayaan, bahkan untuk mengumpulkan mas kawin. Dengan demikian, suami dapat mengambil istri muda lagi, yang berarti akan menambah gengsi sosialnya. Seorang pemimpin kelompok masyarakat atau pe­mimpin klen (tonowi) mungkin mempunyai istri sam­pai 10 orang.

Rumah orang Kapauku berbentuk panggung, yang didirikan di atas tiang-tiang kukuh. Rumah mereka biasanya berdinding papan yang kuat, dengan atap daun pandan atau rumput-rumputan. Dinding rumah biasanya dilapisi juga dengan daun pandan untuk me­nahan angin atau hawa dingin di malam hari. Ruang rumah terbagi menjadi ruangan untuk kaum pria (iemaage) di bagian depan, dan ruangan untuk kaum wanita (kugu) di bagian belakang. Setiap ruangan mempunyai dapur untuk memasak dan memanaskan badan.

Rumah seperti ini merupakan tempat kediaman be­berapa keluarga inti yang merupakan suatu rumah tar.gga. Anggota satu rumah atau rumah tangga sema­cam itu bervariasi antara 5-18 orang. Rumah tangga itu dipimpin oleh seorang laki-laki tertua dan terkaya, dilihat dari jumlah istri atau jumlah hartanya. Suatu keluarga inti mempunyai peranan dalam hal penga­suhan dan pendidikan anak-anak mereka. Orang Ka­pauku menarik garis keturunan melalui garis ayah (patrilineal).

Rumah-rumah mereka terletak berdekatan satu sa­ma lain, sehingga membentuk satu desa. Anggota ma­syarakat desa semacam itu dipimpin oleh kepala desa {tonowi). Beberapa desa membentuk suatu federasi sebagai kesatuan politik terbesar dalam masyarakat. Suatu federasi desa dipimpin oleh salah seorang tono­wi. Tonowi pemimpin federasi desa ini paling menda­pat simpati dibandingkan dengan tonowi lainnya, ka­rena kekayaannya, kedermawanannya kepandai-, annya berperang, dan kefasihannya berbicara.

Dalam kehidupan masyarakat Kapauku sering ter­jadi perang antara federasi-federasi desa. Perang itu dapat terjadi karena masalah sepele atau percekcokan antara pribadi tertentu, misalnya perceraian suami-istri yang berasal dari federasi desa yang berbeda, atau perbuatan menyakiti seseorang yang tidak disengaja. Peperangan itu kadang-kadang berlarut-larut dalam Jangka waktu berbulan-bulan.

Perdamaian terjadi kalau di kedua pihak telah jatuh korban dalam jumlah sama, atau setiap pihak sudah melanjutkan peperangan. Keseimbangan jum­lah korban bisa juga dianggap sama dengan cara membayar uang darah (me mege) kepada pihak yang merasa lebih menderita.

Orang-orang yang merasa berasal dari keturunan suatu nenek moyang tergabung dalam satu klen. Me­reka memelihara adat eksogami klen, artinya tidak bo­leh kawin dalam suatu klen yang sama. Orang Kapau­ku mengenal banyak sekali klen, yang masing-masing mempunyai nama dan totem tersendiri. Setiap klen mempunyai pantangan untuk tidak memakan bina­tang tertentu dan tidak merusak tumbuh-tumbuhan tertentu.

Dalam bidang religi, orang Kapauku percaya bah­wa dunia mereka diciptakan oleh ugatame. Dunia itu terdiri atas lima unsur pokok, yaitu roh, manusia, bi­natang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang ti­dak berjiwa. Ugatae yang maha tahu dan maha kuasa itulah yang menentukan dan mengatur segala sesuatu dan jalan kehidupan di dunia ini. Ia berada di mana saja dengan memakai lambang bulan dan matahari. Ia tidak pernah menghukum orang, oleh sebab itu ia ti­dak perlu ditakuti. Hubungan orang dengan ugatame seperti hubungan anak dengan ayahnya. Orang tidak perlu mengadakan pengurbanan baginya, cukup me­mohon dan berdoa saja.

Hubungan antara orang Kapauku dan orang luar belum lama terjadi, karena lingkungan alamnya me­nyulitkan orang mencapai daerah itu. Sejumlah eks­pedisi pernah dilakukan di daerah ini antara tahun 1937 dan 1941. Pemerintahan kolonial Belanda ada di daerah ini sejak tahun 1938 dan baru berakhir setelah Perang Dunia II. Sementara itu, misi agama The Christian and Missionary Aliance dari Amerika telah bergerak di sana dan mendirikan beberapa sekolah. Dengdn adanya hubungan dengan orang luar, mereka mulai mengenal unsur-unsur kebudayaan baru. Mere­ka sangat senang menerima alat-alat pertanian dari lo­gam, seperti sekop, kapak, alat penetak.

Data dan informasi di atas dikutip dari sumber ter­tulis tahun 1963. Sesudah tahun tersebut masyarakat ini tentu telah mengalami perubahan, terutama mela­lui usaha-usaha pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dari kecamatan khususnya dan Kabupaten Paniai, Propinsi Irian Jaya, umumnya.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback