Advertisement

Suksesi, Sementara perubahan siklis seperti yang diuraikan di atas tidak mengubah tampak keseluruhan suatu komunitas turn-buhan, di tempat-tempat lain dapat ditunjukkan dengan pengamatan yang berlangsung beberapa tahun bahwa seluruh vegetasi berangsur-angsur berubah. Perubahan seperti itu jelas sekali bila suatu tempat gundul tersedia untuk dihuni oleh tumbuhan. Misalnya, bila pohon-pohon dan tanah suatu tempat digali dan dipindahkan untuk menambang batu di dalamnya dan kemudian ditinggalkan, hutan akan kembali lagi setelah sederetan komunitas sementara membuka jalan. Komunitas-komunitas yang berurutan tersebut mungkin berbeda sekali strukturnya dari hutan yang berkembang kemudian di tempat itu. Perubahan seperti ini disebut suksesi. Urutan tipe-tipe vegetasi yang dapat dikenal dalam suatu suksesi tertentu disebut sere. Fase akhir suatu sere disebut klimaks, yang dapat diberi batasan sebagai tipe vegetasi yang ada dalam keseimbangan (ekuilibrium) dengan faktor-faktor iklim, tanah, dan biotik di suatu tempat. Terdapat dua tipe utama sebab-sebab yang mengakibatkan suksesi: perubahan-perubahan faktor habitat secara berangsur-angsur yang tidak bergantung kepada komunitas tumbuhan, dan perubahan-perubahan dalam habitat yang disebabkan oleh pengaruh vegetasi itu sendiri. Kedua tipe sebab itu biasanya bekerja bersama-sama, tetapi salah satunya mungkin menjadi lebih penting dari yang lain.

Suksesi yang disebabkan oleh perubahan habitat terjadi, misalnya, bila hubungan teluk terbuka dengan laut terputus oleh pembentukan beting pasir ( 14.1). Dimulai dengan teluk terbuka, tahap pertama adalah pembentukan jorongan pasir yang sempit yang membentang dari satu pantai ke arah pantai di hadapannya (tahap 1). Sebuah goba (lagoon) tertutup terbentuk dan di dalamnya lumpur mengendap dan tumbuhan mangrove tumbuh sepanjang tepinya. Kemudian jorongan memanjang melintasi teluk dan membentuk tanggul dan kolam air masin (tahap 2). Kemudian karena evaporasi kolam berangsur-angsur menjadi kering dan air terbuka diganti dengan hamparan garam, atau sau na, dengan tanah yang terdiri atas liat yang berat (tahap 3). Tanah ini semula sangat masin sehingga tidak ada vegetasi di atasnya dan di permukaan terlihat kristal-kristal garam. Meskipun salinitas-nya tinggi, sering kali terdapat tumbuhan sukulen tertentu yang toleran terhadap garam seperti Batis, Salicornia dan Sesuvium. Salina yang terbentuk dari goba letaknya rendah dan karenanya sering tergenang air tawar, setidak-tidaknya pada musim hujan. Sebagai akibatnya secara berangsurangsur garam terbasuh dari tanah dan bila salinitas cukup rendah, vegetasi salina terdiri atas tumbuhan yang kurang khusus. Pembasuhan lebih lanjut mengakibatkan sederetan komunitas yang berkembang berurutan yang satu mengikuti yang lain sampai vegetasi darat yang khas di daerah itu terbentuk (tahap 4).

Advertisement

Suksesi yang terutama disebabkan oleh pengaruh tumbuh-an itu sendiri terhadap habitat dapat dibagi menjadi suksesi di perairan terbuka dan suksesi di batu gundul atau batu melapuk (karang, pasir, dan sebagainya). Contoh-contoh diberikan dalam  14.2. Sampai suatu komunitas tumbuhan hidup selaras dengan habitatnya (yaitu telah mencapai fase klimaks), tumbuhan menciptakan kondisi habitat baru yang kurang menguntungkan untuk kehidupannya sendiri tetapi lebih menguntungkan bagi tumbuhan lain yang tumbuh berikutnya. Dalam suksesi yang dimulai di perairan (hidroseres), tumbuhan menyebabkan berbagai perubahan dalam habitat, pertama-tama dengan meningkatkan laju pengendapan lumpur dan kemudian dengan mengendap-kan serasahnya. Suksesi sepanjang tepi kolam atau danau, misalnya, dimulai dengan tumbuhan yang tumbuh di bawah air yang batang dan daun-daunnya meningkatkan laju pengendapan lumpur sampai pada suatu saat air menjadi cukup dangkal dan baik untuk pertumbuhan tumbuhan dengan daun terapung, seperti teratai, yang merupakan bagian dari tahap suksesi berikutnya. Tumbuhan dengan daun terapung, dengan terus mengendapkan lumpur dan sisa-sisa tumbuhan itu sendiri yang membentuk gambut, menaikkan dasar kolam atau danau dan ini menjadi habitat bagi vegetasi rawa rumput yang terdiri atas tumbuhan seperti Phragmites perumpung), Typha (lembang) dan Cyperus (teki). Bila endapan gambut mendekati permukaan, rawa rumput ini mulai ditumbuhi berbagai jenis perdu dan pohon yang berangsur-angsur mengeringkan tanah sampai menjadi terlalu kering bagi vegetasi rawa rumput. Pada gilirannya rawa rumput digantikan oleh semak atau hutan.

Suksesi pada batu gundul atau melapuk disebut Xeroseres dan sebagai contohnya adalah invasi tumbuhan pada pasir yang tertiup angin di pantai-pantai landai yang menghadap ke arah angin bertiup. Di sini perubahan-perubahan yang disebabkan oleh tumbuhan pertama-tama adalah pengikatan pasir yang bergerak menjadi bukit pasir ( 14.3) diikuti oleh penambahan humus dan perkembangan kemampuan tanah untuk menahan air. Pada pasir tidak jauh dari batas pasang tertinggi muncul tumbuhan yang berkembang sementara. Tumbuhan ini tidak mengubah habitat dan karenanya tidak berperanan dalam suksesi, yang dimulai dengan munculnya tumbuhan seperti Ipomaea pes-caprae (daun kutang) dan rumput Sporobolus (lancuran) serta Spinifex (rumput angin). Tumbuhan ini mempunyai rimpang atau batang yang merayap dan mampu tumbuh pada timbunan pasir serta menstabilkan permukaan pasir sehingga kecambah tumbuhan lain dapat menambatkan diri. Dalam tahap berikutnya tumbuhan yang dapat membentuk anyaman, sebagian besar rumput-rumputan dan teki-tekian, lebih lanjut menstabilkan pasir dan, dengan penambahan humus, berangsur-angsur membentuk tanah yang mampu menahan air. Dengan terbentuknya tanah, jalan telah disiapkan untuk pertumbuhan perdu-perdu (seperti Calotropis, Mallotonia, Scaevola, Sophora) yang membentuk mintakat di belakang bukit pasir yang sudah mantap. Dalam suksesi yang tipikal mintakat perdu ini diganti oleh hutan pantai (misalnya Thespesia populnea dan Hibiscus tiliaceus).

Dalam hidroseres dan xeroseres terdapat kecenderungan yang pasti bagi kondisi lingkungan ekstrem, baik basah maupun kering, untuk diubah ke arah lingkungan yang lebih moderat. Suksesi berlangsung dari komunitas hidrofit (tumbuhan air) atau xerofit (tumbuhan yang hidup di tempattempat kering) ke komunitas mesofit (tumbuhan yang keperluan airnya adalah antara hidrofit dan xerofit). Dengan demikian, hidroseres dan xeroseres menuju ke satu arah dan akhirnya bertemu dalam komunitas klimaks. Perkembangan habitat berlangsung sejalan dengan perkem-bangan vegetasi. Dalam suksesi pada pasir yang tertiup angin, misalnya, berbagai mintakat vegetasi terbentuk berurutan sesuai dengan perubahan tanah yang semakin tinggi kandungan humusnya menjadi semakin kurang masin dan semakin mampu menahan air. Sebaliknya dalam suksesi pada tanah gundul, misalnya pada tempat-tempat yang vegetasinya sudah musnah seperti hutan ditebang, perubahan-perubahan vegetasi berlangsung pada habitat yang telah matang dan telah ada dalam keseimbangan dengan komunitas klimaks. Ini merupakan contoh apa yang disebut suksesi sekunder yang dibedakan dari suksesi primer yang dimulai pada habitat (perairan terbuka, batuan melapuk) yang tidak bertanah. Umumnya suksesi sekunder menyerupai suksesi yang disempitkan, dengan tahap-tahap pionirnya dihilangkan dan jenis-jenis klimaksnya mulai berkembang sejak semula bersama-sama dengan jenis-jenis dalam tahap-tahap antara. Dalam kawasan yang dipengaruhi kegiatan manusia, suksesi primer dapat berbelok dan membentuk komunitas yang berbeda dari komunitas yang terbentuk dalam suksesi alami. Padang rumput yang dipertahankan dengan pembakaran oleh manusia di kawasan yang bila dibiarkan akan berubah menjadi hutan adalah sebuah contoh suksesi yang berbelok. Padang rumput seperti itu membentuk komunitas tersendiri yang komposisi floranya berbeda dari komunitas dalam suksesi primer.

Suksesi sering kali merupakan proses yang lambat sekali, sehingga setidak-tidaknya dalam jangka umur manusia tidak mungkin untuk memperagakan perubahan-perubahan urutan tahap-tahapnya dengan metode langsung pemberian tanda-tanda permanen pada contoh-contoh suatu daerah (kuadrat) dan pencatatan komposisinya secara teratur pada interval tertentu. Tetapi bila suatu kawasan telah secara berangsur-angsur diinvasi vegetasi selama jangka waktu yang panjang, tahap-tahap suksesi sering kali dapat direkonstruksi dengan mengamati pica. penyebaran vegetasi. Misalnya, dalam suksesi yang dimulai di air suatu kolam yang sedang mengalami pendangkalan, tahap pertama diwakili oleh mintakat vegetasi yang letaknya terdekat dengan perairan terbuka, dengan tahap-tahap berikutnya terletak berurutan sampai ke pantai. Dalam hal demikian pemintakatan dalam ruang adakalanva mencerminkan suksesi yang terjadi menurut waktu pada suatu tempat tertentu.

Advertisement
Filed under : Ilmu Alam,