Advertisement

Struktur Talus,¬†Tebal talus terdiri atas banyak sel dan tersusun atas tiga lapisan yang jelas kean, yaitu lapisan fotosintesis di sebelah atas, lapisan penyimpan di tengah dan lapisan penyerap dan jangkar di sebelah bawah (3.3a). Jika permukaan atas talus diamati di bawah sebuah’ lensa, lapisan ini tampak terbagi oleh suatu jala halus yang teratur, menjadi bagian-bagian poligonal kecil yang banyak sekali. Di tengah setiap bagian terdapat sebuah titik berupa pori kecil yang bersambung ke ruang udara di bawah epidermis (3.3b,c). Garis-garis yang tampak di permukaan rupanya berhubungan dengan dinding vertikal yang memisahkan ruang udara di sebelahnya sehingga setiap bagian poligonal itu menandai batas-batas ruang udara di bawahnya. Penampang vertikal melalui bagian atas menunjukkan bahwa pori itu sebenarnya tabung pendek yang mengoyak epidermis seperti corong ventilasi kecil; setiap tabung tampak seperti drum tanpa alas dan tutup, dan tersusun atas beberapa cincin konsentris yang terdiri atas sel-sel yang tumpang-tindih. Dari dasar setiap ruang udara muncullah rantai-rantai sel beraneka ragam dan bercabang tak beraturan, yang padat sekali oleh kloroplas dan secara kolektif membentuk jaringan fotosintesis utama tumbuhan itu.

Jaringan yang berada di bawah ruang udara terdiri atas sel-sel yang tersusun rapat yang berisi sedikit atau tanpa kloroplas sama sekali. Kebanyakan selnya berupa sel penyimpan berdinding tipis dari berbagai tipe (misalnya sel-sel yang berisi kanji atau berisi minyak), tetapi di sana-sini terdapat sel-sel berdinding tebal yang mungkin mempunyai fungsi mekanis.

Advertisement

Permukaan ventral talus memiliki rizoid dan sisik. Masirig-masing rizoid berupa sel tunggal mirip benang, terutama muncul dari daerah tulang tengah dan dapat menembus tanah sedalam 2 cm atau lebih. Ada dua macam rizoid, yaitu rizoid licin yang memiliki dinding sama tebal, dan rizoid berbonggol yang dindingnya mempunyai beberapa penebalan mirip pasak mencuat ke rongga dalam sel. Kedua macam rizoid ini mungkin memiliki fungsi berbeda, tetapi jika demikian halnya, maka perbedaan itu belum dapat dimengerti. Penonjolan lain pada permukaan bawah ialah sisik ventral yang kurang nyata dibandingkan dengan rizoid dan tersusun atas lempengan-lempengan yang bertumpang-tindih dari jaringan halus setebal satu sel. Sisik-sisik ini tersusun berbaris hampir di ujung cabang, dan mungkin bertindak sebagai pelindung sel-sel ujung yang rapuh terhadap kekeringan dan luka.

Talus Marchantia yang kompleks beserta pori-pori, ruang udara dan filamen-filamen fotosintesisnya memiliki beberapa kemiripan dengan daun tumbuhan tinggi beserta stomata, ruang udara antarsel dan sel-sel palisadenya. Walaupun begitu persamaan ini hanya keannya saja, bukan kenyataan sebenarnya; pori-pori Marchantia tidak dapat membuka dan menutup seperti stomata dan filamen fotosintesisnya hanya superfisial sama seperti sel-sel palisade sehelai daun. Kemiripan antara dua organ ini merupakan contoh nyata dari evolusi konvergen, struktur yang sama telah berevolusi secara terpisah pada berbagai tipe tumbuhan untuk melaksanakan fungsi yang sama.

 

sporofit

Setelah terjadi pembuahan, tangkai arkegoniofor memanjang dan dengan pertumbuhan diferensial cakram tengah, arkego-nium menjadi terletak pada permukaan bawah cakram. Di dalam arkegonium, zigot mulai berkembang menjadi sebuah struktur berspora yang disebut sporogonium. Pembelahan pertama zigot terjadi dengan terbentuknya dinding melintang (3.5a); pembelahan melintang dan memanjang yang berurutan akan menghasilkan suatu massa membulat terdiri atas sel-sel diploid yang terkurung dalam venter (3.5b). Pada perkembangan selanjutnya embrio sporogonium berdiferensiasi menjadi tiga bagian, kapsul ujung tempat terbentuknya spora, tangkai yang pendek dan kaku serta bersambung ke kaki (3.5c). Kaki ini menancapkan sporofit ke jaringan gametofit dari arkegonium, guna menyerap air dan hara untuk pengembangan sporofit itu. Kapsul dan tangkai untuk jangka waktu yang lama masih terbungkus oleh dinding arkegonium yang ukurannya membesar untuk mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan kapsul serta tetap bertindak sebagai lapisan pembungkus yang disebut kaliptra. Pada tahap ini sporogonium muda juga terbungkus oleh pelepah berbentuk silinder, yaitu periginium yang tumbuh dari sel-sel di sekitar pangkal arkegonium (3.5a-c). Sel-sel di dalam kapsul membelah diri secara mitosis sehingga terbentuk sel induk spora, dan jika meiosis terjadi timbullah tetrad dari spora haploid. Ternyata tidak semua sel dalam kapsul menjadi spora; beberapa sel memanjang dan berkembang menjadi sel panjang mirip benang yang dinding-nya tegas menebal dan berpilin. Sel-sel panjang ini disebut elater dan kemudian membimbing pemencaran spora (.

Jika spora masak, tangkainya sangat memanjang dan kapsulnya pecah menembus kaliptra dan periginium serta menghambur bebas ke udara di bawahnya. Tidak semua arkegonium yang dibuahi mengeluarkan sporangium dewasa, tetapi suatu arkegoniofor yang besar dapat berisi 20 kapsul spora atau lebih yang tergantung-gantung di bawahnya 3.5e). Setelah berada di udara, dinding kapsul yang lebalnya hanya selapis sel terpecah menjadi empat sampai :elapan penutup mirip mahkota bunga, dan menampakkan

massa spora berwarna cokelat kekuningan tercampur :lengan elater. Pembebasan spora dibimbing oleh elater itu, Yang memiliki sifat higroskopi. Selagi spora-spora mengering, dater  membentuk spiral dan memuntir kuat sekali sehingga melonggarkan massa spora; jadi spora-spora itu tidak saling Derlekatan menjadi satu massa melainkan tersebar satu-satu atau berkelompok kecil-kecil yang siap tertiup angin. Jika -.atuh pada substrat lembap yang cocok, sebutir spora akan perkecambah dengan segera menjadi talus gametofit baru, jadi :engkaplah daur hidupnya.

 

 

Advertisement
Filed under : Ilmu Alam,