Advertisement

SISTEM-SISTEM KLASIFIKASI, Walaupun tidak ada dua tumbuhan yang persis sama, berbagai individu yang berbeda di dalam satu jenis biasanya memiliki banyak titik persamaan, sehingga tidak mungkin disangsikan kekerabatan genetikanya. Untuk berbagai keper-luan tingkat jenis (species) diterima sebagai satuan dasar klasifikasi. Jenis-jenis yang memiliki sebagian besar karakter yang dikelompokkan menjadi satu golongan yang lebih besar dan lebih inklusif, yang disebut marga (genera), dan berdasarkan persamaan secara keseluruhan antara jenis-jenis dari satu marga tidak perlu disangsikan bahwa kebanyakan marga juga merupakan kelompok alami. Berbagai marga yang tergabung dalam satu suku (family) bersama-sama memiliki sejumlah karakter yang sangat mendasar yang membedakannya dari marga-marga yang termasuk ke dalam suku lain. Sebagian besar suku barangkali merupakan kelompok alami, tetapi karena titik-titik kesamaan antara marga dalam suatu suku lebih sedikit daripada antara jenis dalam satu marga, dapat disangsikan benar tidaknya suku-suku tertentu merupakan gabungan marga-marga yang berkerabat dekat. Penyusunan suku-suku menjadi satuan yang lebih besar dengan memper-tahankan pengelompokan alaminya sulit atau tidak mungkin dilaksanakan, sebab ada satu-dua karakter yang sama yang berbagai suku yang berbeda. Oleh karena itu,

mengherankan bahwa tidak ada sistem filogenetika 71.-ag memuaskan yang telah berhasil disusun. Banyak ahlirani beranggapan bahwa tak ada gunanya mencoba me7.-usun suatu sistem, kecuali jika diperoleh lebih banyak :-.:kti dari fosil. Walaupun demikian, ada dua sistem klasifika_ yang umum digunakan, yaitu sistem Bentham dan Hooker

Advertisement

sistem Engler. Kedua sistem ini adalah sistem buatan, iarena keduanya menggunakan alternatif tunggal dari sifat Dunga, seperti sifat daun makota yang bebas atau berfusi membedakan kelompok besar dari berbagai suku. Dalam kaitan ini, tidaklah berlebihan bila sifat-sifat vegetative hendaknya diperhitungkan, jika kekerabatan sejati antara Derbagai suku akan ditegakkan. Sifat-sifat vegetatif yang tak dapat dimodifikasikan oleh lingkungan, seperti susunan daun Dada batang atau peruratan daun, mungkin merupakan indikasi kekerabatan genetika yang sama kuatnya dengan sifat Dunga.

Banyaknya unsur yang digunakan untuk pengelompokan secara buatan pada kedua sistem klasifikasi yang telah mapan itu pada prakteknya tidak berpengaruh apa-apa. Mahasiswamahasiswa hendaknya mengenal salah satu sistem, dan selalu memakainya. Akan lebih baik lagi jika sistem itu dapat digunakan dalam Flora baku suatu daerah tempat tinggal mereka.

Sistem yang diciptakan oleh ahli botani Inggris G. Bentham 1800— 1884) dan J. D. Hooker (1817-1911) telah diabadikan dalam karya mereka Genera Plantarum (Marga tumbuhan), yang seluruhny,a ditulis dalam bahasa Latin dan diterbitkan dalam tiga volume antara tahun 1862 dan 1883. Sistem ini telah digunakan secara luas di semua Negara Persemakmuran dan masih tetap digunakan di herbarium ‘Royal Botanic Gardens, Kew’, Inggris dan ‘the British Museum (Natural History)’, yang berisi koleksi yang ekstensif dan representatif dari tumbuhan di seluruh dunia. Bentham dan Hooker mendasarkan sistem mereka kepada sistem pra-Darwin, yaitu sistem A. P. de Candolle (yang diterbitkan antara 1824 dan 1873) dan sistem B. de Jussieu (diterbitkan tahun 1789), yang kedua-duanya tidak memiliki tujuan filogenetika. Karena itu, sistem Bentham dan Hooker ini adalah suatu sistem yang terutama dapat digunakan untuk memudahkan penentuan nama marga tumbuhan. Suatu usaha dibuat untuk mengklasi-fikasikan suku-suku dikotil berdasarkan logika, tetapi suku-suku monokotil disusun menjadi seri-seri secara sembarang saja. Suku-suku dikotil dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan ada atau tidaknya daun makota, dan apakah daun makota itu lepas atau bersatu. Setiap kelompok dibagi lagi menjadi seri, terutama menurut letak bakal buah (hipogin, perigin, atau epigin). Ternyata bahwa kebanyakan suku sesuai benar dengan pembagian secara buatan ini, tetapi seperti telah diduga sebelumnya terdapat beberapa kekecualian yang menonjol. Walaupun sistem Bentham dan Hooker secara keseluruhan kini dianggap telah ketinggalan zaman, karya mereka, Genera Plantarum, tetap dijadikan karya baku (dan telah dicetak ulang tahun 1965), sebab pertelaan di dalamnya berdasarkan observasi tangan-pertama yang sangat cermat. Bentuk yang disederhanakan dari sistem Bentham dan Hooker.

Klasifikasi penting kedua adalah yang disusun oleh orang Jerman, Adolf Engler (1844-1930), yang mendasarkan klasifikasinya atas klasifikasi sebelumnya oleh Eichler (1839-1887). Klasifikasi Engler digunakan dalam suatu karya besar yang terdiri atas 20 jilid, yang berjudul Die natfirlichen Pflanzenfamilien (diterbitkan antara tahun 1887 dan 1909) yang berisi pertelaan dalam bahasa Jerman semua suku dan marga tumbuhan yang telah diketahui pada masa itu. Karena liputan sistem Engler itu sangat luas, maka sistem ini telah diikuti oleh banyak herbarium nasional, dan tercantum dalam sebagian besar Flora regional yang modern. Sistem Engler dibuat berdasarkan asumsi bahwa bunga tanpa daun makota adalah yang paling primitif sedangkan bunga yang memiliki daun kelopak dan daun makota terpisah dinyatakan lebih maju, dan bunga yang daun kelopak dan daun makotanya memperlihatkan berbagai tingkat penggabungan adalah yang paling maju dari semua tipe bunga. Dalam klasifikasinya Engler menYusun suku-suku Monokotil dan Dikotil menurut urutan bunga yang semakin kompleks. Tidak mengherankan, jika dikatakan bahwa dengan cara ini tidak mungkin dapat tersusun satu urutan linear yang mencakup semua suku Monokotil dan Dikotil. Pada Dikotil, untuk mudahnya, urutannya dipecah menjadi dua seri Archichlamydeae dan Metachlamydeae, menurut apakah daun makotanya (jika ada) lepas atau berfusi menjadi satu.

Perlu ditekankan di sini bahwa sistem Engler ini, walaupun berusaha menyusun suku-suku dalam urutan linear, tidaklah benar-benar filogenetik. Manfaatnya yang besar ialah bahwa sistem ini memberikan dasar logika untuk mengklasifikasikan suku-suku tumbuhan berbunga, sedangkan sistem Bentham dan Hooker tidak mengikuti prinsip yang tersusun sebaik itu. Dari ringkasan sistem Engler (Tabel 8.1) akan terlihat bahwa Metachlamydeae adalah sama dengan Gamopetalae dari sistem Bentham dan Hooker, dan bahwa Archichlamydeae mencakup suku-suku yang ditempatkan baik dalam Polypetalae maupun pada Incompletae oleh Bentham dan Hooker.

Selama beberapa dekade terakhir, berbagai usaha telah dilakukan untuk mengganti sistem Bentham dan Hooker serta sistem Engler oleh satu sistem yang lebih sesuai dengan pendapat modern tentang filogeni. Tetapi sistem filogeni itu harus disusun berdasarkan satu teori evolusi bunga, dan sejauh itu persesuaian pendapat mengenai sifat-sifat bunga primitif belum dicapai. Selanjutnya, dengan menyadari bahwa bukti-bukti morfologi saja jarang memadai untuk menunjukkan hubungan genetika antarsuku, berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari hubungan genetika itu dengan jalan teknik-teknik sitologi, genetika, biokimia, dan lain-lain. Sifat kimia tumbuhan, misalnya, kini digunakan secara luas dalam penelitian masalah taksonomi. Alasan utama penelitian ini ialah perkembangan teknik-teknik penyaringan (screening techniques) yang cepat dan efisien, seperti kromatografi dan elektroforesis, yang memungkinkan identifikasi secara cepat sejumlah senyawaan organik. Pendekatan bakunya adalah membuat suatu survei sistematik kelompok tumbuhan yang memiliki senyawa sekunder yang berat molekulnya rendah, yang merupakan hasil sampingan dari jalur metabolisme utama. Berbeda dengan glikosa atau kedua puluh asam amino penyusun protein yang praktis ada dalam semua tumbuhan, zat-zat ini (seperti asam amino bukan protein, alkaloid. berbagai kelompok pigmen dan terpenoid) secara tak teratu:- tersebar dalam dunia tumbuhan, dan karenanya kehadiran atau ketidakhadirannya dapat digunakan sebagai kriteria lntuk klasifikasi. Suatu contoh yang mengagumkan tentang Denggunaan sistematik biokimia (demikianlah nama yang kini :iiberikan untuk ilmu ini), adalah penyebaran secara taksono:ni pigmen merah dan kuning, betasianin dan betaksantin, yang secara kolektif disebut betalain (betalains). Pigmen ini terdapat dalam 10 suku Angiosperma (Aizoaceae, Amaranthaceae, Cactaceae, Nyctaginaceae, Phytolacaceae, dan lain-lain) yang membentuk satu kelompok suku yang dikenal sebagai Centrospermae. Kelompok ini dapat dikenal dari sifat rnorfologinya, khususnya dari struktur embrionya, yang biasanya sangat membengkok. Betalain tidak terdapat dalam tumbuhan yang memiliki antosianin, yaitu pigmen yang biasa terdapat dalam sebagian besar suku Angiosperma lainnya. Betalain berbeda dengan antosianin, baik secara kimia maupun biosintesisnya. Penemuan bahwa sebagian besar suku yang tergolong ke dalam Centrospermae mengandung betalain telah menyebabkan timbulnya saran bahwa suku-suku lain yang umumnya berisi antosianin hendaknya dikeluarkan dari kelompok ini. Tetapi, bukti gabungan antara morfologi, anatomi, struktur lembut, serbuk sari, dan embriologi menguatkan kekerabatan antara semua suku yang secara tradisional dimasukkan ke dalam Centrospermae, meskipun bukti biokimia menyatakan bahwa beberapa dari suku-suku ini mungkin tidak cukup dekat kekerabatannya dengan suku-suku lainnya seperti diduga semula.

Sebagai basil penerapan teknik modern, seperti yang digunakan dalam sistematik biokimia, ternyata banyak yang telah dipelajari tentang berbagai aspek klasifikasi, dan beberapa ahli botani beranggapan bahwa suatu perubahan ke arah klasifikasi yang lebih realistik sudah lama dinantinantikan. Komputer kini telah digunakan secara ekstensif dalam klasifikasi tumbuhan, dan ada kemungkinan bahwa pengaturan yang lebih baik daripada klasifikasi yang telah ada akan tercipta sebagai hasil dari pendekatan baru ini. Sebagian dari alasan mengapa masih tetap terikat kepada sistematik lama ialah bahwa di herbarium-herbarium besar tidaklah mungkin untuk diadakan perubahan yang drastis mengenai pengaturan susunannya kini untuk menyesuaikan dengan sistem modern yang mungkin nanti akan ditolak.

 

Advertisement