PENGERTIAN SILOGISME

adsense-fallback

Salah satu cara berargumentasi de ngan logika yang menggunakan dua premis dan satu kesimpulan. Premis dan kesimpulan erat hubungannya. Kesimpulan ditarik berdasarkan premis; kalau premis benar, kesimpulannya juga benar. Istilah silogisme berasal dari kata Yunani syn yang artinya “dengan” atau “bersama” dan logizesthai yang artinya “merangkum” atau “menggabungkan”, sehingga arti keseluruhannya adalah menggabungkan semua bersama.

adsense-fallback

Ada dua macam silogisme, yaitu (1) silogisme kc tegoris, yang premis dan kesimpulannya bersifat k; tegorial, dan (2) silogisme hipotetis, yang premis dan kesimpulannya bersifat hipotetis. Silogisme kategoris terbagi lagi atas silogisme dengan dua premis yang disebut silogisme kategoris tunggal (dua premis) dan silogisme dengan lebih dari dua premis yang disebut silogisme kategoris tersusun. “Semua manusia dapat mati, dewa tidak dapat mati; manusia bukan dewa” merupakan contoh silogisme kategoris tunggal. “Gu ru adalah pahlawan tanpa nama karena berjasa banya tetapi kurang dihargai; Budi adalah seorang guru Budi adalah pahlawan tanpa nama” merupakan contoh silogisme kategoris tersusun. Bentuk yang terakhir dapat dibagi lagi menjadi silogisme kategoris tersusun Epicherema, yakni yang premisnya disertai pembuktian, seperti contoh di atas; Enthymema, yakni yang silogisme dipersingkat karena salah satu premisnya dipersingkat; Polysilogisme, yakni silogisme ber-deret dengan kesimpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme lainnya; Sorites, yakni sema cam polysilogisme dengan lebih dari tiga keputusan yang dihubungkan satu sama lain, sehingga predikat keputusan yang satu menjadi subjek keputusan berikut dan sebagai kesimpulan, subjek keputusan pertama dihubungkan dengan predikat keputusan terakhir.

Silogisme hipotesis mencakup: (l)Silogisme hipo-tesis kondisional, dengan premis mayor berupa keputusan kondisional yang terdiri atas syarat (antece- dens) dan yang diisyaratkan (consequens). Silogisme jenis ini bisa ditandai dengan ungkapan: jika…, maka…. Kalau syaratnya benar, yang diisyaratkan jug benar, tetapi kalau syaratnya salah, yang diisyaratkan bisa salah bisa juga benar. Kalau yang diisyaratkan benar, syaratnya bisa salah bisa juga benar, tetapi kalau yang diisyaratkan salah, syaratnya juga salah; (2) Silogisme hipotetis disyungtif dengan premis mayor berupa keputusan disyungtif yang salah satu kemungkinannya diakui atau dipungkiri premis minor.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback