Advertisement

Silang-Uji (Testcross) Monohibrid, Seperti telah dikemukakan individu AA dan Aa dari Coleus blumei memiliki tepi daun bertakik dalam, sebab alel A sepenuhnya dominan terhadap alel a. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana individu homozigot dan heterozigot. yang berfenotipe dominan dapat dibedakan satu sama lain. Salah satu cara untuk menjawabnya ialah dengan menyilang-kan fenotipe dominan dengan fenotipe resesif yang tentunya homozigot. Silangan demikian disebut silang-uji, dan hasilnya akan sesuai dengan salah satu dari dua pola yang berbeda, sejalan dengan apakah fenotipe yang dominan itu homozigot atau heterozigot. Terlihat bahwa jika individu yang diuji itu homozigot bagi alel dominan, semua keturunan silang-uji itu memperlihatkan sifat dominan. Jika individu yang diuji heterozigot, maka keturunannya terdiri atas 50 persen dengan sifat dominan dan 50 persen dengan sifat resesif. Jumlah keturunan suatu silanguji harus cukup tinggi (sekurang-kurangnya tujuh atau delapan) untuk memastikan bahwa ketidakhadiran fenotipe resesif yang mungkin terjadi di antara keturunan itu bukan disebabkan oleh penyimpangan secara kebetulan dari nisbah 1 : 1.

Pewarisan Dihibrid

Advertisement

Setelah memperhatikan apa yang terjadi pada satu silangan yang melibatkan satu gen, apakah yang akan terjadi bilamana dua gen yang masing-masing memperlihatkan pewarisan monohibrid yang khas terlibat dalam silangan yang sama?

Selain sifat pertakikan daun dari Coleus blumei yang digunakan untuk menunjukkan pewarisan monohibrid, sifat turun-temurun lainnya pada daun tanaman ini ialah pola peruratannya. Ada dua alternatif ekspresi fenotipe dari sifat ini, yang akan dinyatakan sebagai teratur dan tale-teratur ( 15.3). Dengan menggunakan silangan monohibrid akan terlihat bahwa tak-teratur sepenuhnya dominan terhadap teratur. Persilangan antara kedua tanaman C. blumei yang menang-,:ar sejati yang berbeda pertakikan dan peruratan daunnya ikan menghasilkan individu F1 yang dalam tale-teratur. F1-sama, tanpa memandang apakah kedua alel dominan, la/am (A) dan tale-teratur (diberi lambang B ), berasal dari satu tetua atau kedua-duanya resesif, dangkal (a) dan teratur b) berasal dari tetua lainnya, atau apakah satu dominan (A atau B) dan satunya resesif (a atau b) berasal dari masingmasing tetua. Selanjutnya, seperti halnya pada silangan monohibrid, tidak peduli dari tetua yang mana, jantan atau betina, alel tertentu akan muncul. Dari kenyataan bahwa pemunculan F1 adalah sama (yaitu dalam tale-teratur) tak perduli apakah kedua alel dominan itu berasal dari tetua yang sama atau dari tetua yang berbeda, dapatlah disimpulkan bahwa gen untuk pertakikan daun (A/a) dan peruratan daun (B/b) tidak saling mengganggu dalam menghasilkan efek pada fenotipe, yaitu keduanya bertindak bebas (independen).

Seandainya individu F1 kemudian diserbuk sendiri untuk menghasilkan individu F2, keempat fenotipe yang mungkin terjadi (dalam tak-teratur, dalam teratur, dangkal tale-ter-atur, dan dangkal teratur) semuanya akan muncul. (Catatan: Cara pemberian tanda fenotipe dengan kombinasi penggunaan huruf dan garis, seperti A— B— untuk menyata-kan secara fenotipe dominan ganda, diperlukan dalam pencatatan nisbah fenotipe dari silangan yang di dalamnya dominansi sifat atau sifat-sifat adalah lengkap. Suatu individu yang diberi tanda A— B— dapat berarti salah satu dari keempat kemungkinan genotipe, yaitu AA BB, Aa BB, AA Bb, Aa Bb).

Bila tanaman F2 diserbuk sendiri untuk menghasilkan tanaman F3 seperti dilakukan pada silangan monohibrid, maka terjadi kemungkinan untuk mengklasifikasikan individu F2 ke dalam genotipe masing-masing berdasarkan apakah mereka menangkar sejati atau tidak, dinilai dari pertakikan daun saja atau peruratan daun saja atau dari kedua-duanya. Genotipe tanaman F2 diperlihatkan pada tabel berikut, yang kolom-kolomnya menunjukkan sifat pertakikan daun (gen A/a), sedangkan baris-barisnya menunjukkan sifat peruratan daun (gen B/b), dan angka-angkanya menyatakan nisbah tanaman yang diperoleh masing-masing dari kesembilan golongan itu.

Advertisement