Advertisement

Pulau terbesar dan terletak di gugusan Kepulauan Mentawai paling utara. Tiga buah pulau besar lainnya dari Kepulauan Mentawai adalah Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Dari segi pemerintahan, Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatra Barat.

Pulau Siberut memiliki luas 4.480 kilometer persegi, atau hampir sama besarnya dengan Pulau Bali. Siberut terbagi atas dua kecamatan; Siberut Utara dengan ibu kota Muara Sikabaluan, dan Siberut Selatan dengan ibu kota Muara Siberut.

Advertisement

Pulau ini merupakan pulau sedimentasi, yang dipenuhi oleh lumpur dan tanah liat bercampur kapur yang masih berusia relatif muda. Sebagian besar susunan geologis pulau ini berasal dari masa Pliosen dan Plio- sen Baru. Sejak jaman Pleistosen, lebih kurang satu juta sampai 10.000 tahun yang lalu, Pulau Siberut telah terpisah dari daratan Sumatra. Seperti halnya dengan Pulau Mentawai lainnya Siberut pun merupakan pulau nonvulkanis, berlumpur banyak dan bera- wa-rawa dengan permukaan tanah berbukit-bukit; puncak tertingginya sekitar 380 meter.

Pulau Siberut beriklim tropis, dengan curah hujan 2.500 milimeter setahun. Hal ini disebabkan oleh angin yang berhembus sepanjang hari, baik dari arah Samudera Hindia, maupun dari daratan Sumatra, sehingga awan sering mengandung banyak uap air yang menyebabkan hampir sepanjang tahun selalu turun hujan.

Keadaan alam yang demikian menyebabkan tanah Siberut umumnya subur, ditumbuhi hutan yang cukup lebat dengan aneka jenis kayu-kayuan tropis yang beragam. Tumbuh juga beraneka jenis anggrek dan tanaman menjalar serta jenis tanaman lainnya. Menurut penyelidikan para ahli geologi, Siberut telah terpisah dari daratan Sumatra sejak ratusan tahun yang lalu, sedangkan saat itu Sumatra, Jawa, dan Kalimantan masih merupakan satu daratan yang menyatu dengan Asia Tenggara. Keterpencilan serta masa isolasi yang lama tersebut mengakibatkan bahwa di pulau ini fauna dan floranya memiliki keunikan tersendiri, demikian pula penduduknya. Suku bangsa asli yang mendiami pulau ini termasuk suku bangsa kuno di Indonesia yang kebudayaannya belum banyak tersentuh pengaruh Budhisme maupun Islam.

Dari aspek faunanya, sedikitnya terdapat empat jenis primata kera yang hanya terdapat di Kepulauan Mentawai, terutama di Pulau Siberut. Keempat jenis primata itu adalah siamang kerdil atau bilou (Hyloba- tes kios s i), yang merupakan siamang paling primitif yang masih ada sampai sekarang; joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani); simakobu (.Simias concolor), yang termasuk marga tersendiri meskipun sering juga digolongkan dengan bekantan dari Kalimantan; bokkoi atau beruk mentawai (Macaca page risi s) yang diduga merupakan jenis monyet yang pertama masuk ke Indonesia dari daratan Asia. Beberapa satwa langka lainnya yang hidup di pulau ini antara lain musang belang, yang merupakan pemanjat ulung.

Selain jenis hewan, Siberut pun memiliki beraneka jenis tumbuhan langka yang hanya ada di daerah ini, antara lain, Xanthophytum vil/ari (Rubiaceae) yang tinggi dan besar dibandingkan dengan tanaman sejenisnya yang tumbuh di Filipina. Tumbuh juga jenis pohon sagu yang bergaris tengah lebih dari 1 meter dan tingginya 18 meter.

Mata pencaharian penduduk aslinya adalah berladang, berkebun, menangkap ikan dan berburu. Hasilnya yang berupa sagu, keladi, pisang, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pendidikan di Siberut telah cukup lama dirintis. Tahun 1984 di Siberut Utara terdapat 14 SD, dan di Siberut Selatan 18 buah. Kehadiran Islam, misi Katolik serta Protestan di pulau ini turut mendukung upaya p didikan masyarakat Siberut yang masih terasing ini.

Penduduk asli Siberut dan Mentawai umumnya menganut paham animisme. Kepercayaan aslinya disebut Sabulungcm. Secara harfiah, kepercayaan Sabu- lungan ini dapat diartikan sebagai kepercayaan kepada daun-daun yang mempunyai roh. Penganut kepercayaan ini percaya bahwa dari manusia hingga kera, dari batu hingga cuaca mempunyai roh. Ada tiga roh yang mereka percayai, yaitu tai kabagat-koat yang memberi ikan dan buaya; tai ka lelcu yang memberi h o v i 1 bumi; dan tai ka manui yang mendatangkan hujan dan angin.

Berbagai tabu dan larangan hingga kini masih berlaku di tengah kehidupan masyarakat Mentawai. Sike- rei yang biasanya menjadi kepala suku merupakan tokoh terhormat di kalangan masyarakat.

 

Advertisement