Advertisement

Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu tertua, dan secara formal sudah mulai diajarkan di universitas-universitas Eropa mulai dari Oxford hingga Gottingen, pada abad 17 dan 18 (Gilbert 1977). Namun kemunculan ilmu sejarah baru terasa di abad 19, bersamaan dengan berkembangnya ilmu- ilmu sosial lainnya. Perkembangan ilmu sejarah diwarnai oleh konflik dan persaingan di antara para tokohnya. Diilhami oleh karya Leopold von Ranke (1795-1886), para sejarawan mulai meninggalkan paradigma sejarah masyarakat yang telah dipraktekkan oleh sebagian besar sejarawan sejak abad delapanbelas. Mereka mulai memusatkan perhatian pada pemaparan narasi-narasi peristiwa politik yang terutama didasarkan kepada dokumen-dokumen resmi. Mereka cenderung memandang disiplin mereka sebagai sesuatu yang berlawanan dengan ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, kendati mereka sendiri tertarik pada banyak konsepsinya (mereka bahkan bersikeras menyatakan geografi sebagai buatan dari bidang studi mereka). Sementara itu para sejarawan ekonomi, seperti Gustav Schmoller (1838-1917) di Jerman dan James Harvey Robinson (1856-1936) dan lain-lain di AS mendukung kemunculan sebuah aliran baru dalam ilmu sejarah, yang menaruh perhatian kepada kebudayaan dan masyarakat yang pengembangannya banyak meminjam konsep-konsep dan teori dari ilmu-ilmu sosial. Orientasi para sejarawan ini terpisah dari rekan-rekan sejawatnya. Di pengujung abad sembilanbelas, pemikiran yang umum mengenai sejarah, yang dinyatakan secara filosofis oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911), Wilhelm Windelband (1848-1915), Heinnch Rickert (1863- 1936) dan Benedetto Croce (1866-1952), menegaskan bahwa sejarah berurusan dengan peristiwa-peristiwa unik (dengan demikian berlawanan dengan generalisasi ilmu-ilmu sosial), dan bahwa para sejarawan harus memahami masa lalu dari dalam (sementara ilmuwan-ilmuwan sosial menjelaskannya dari luar). Di lain pihak, para sosiolog seperti Aguste Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1903) memandang para sejarawan hanya sebagai pengumpul data mentah untuk dipakai oleh para teoretisi ilmu sosial.

Pertentangan intelektual ini tidak banyak berubah hingga pertengahan abad duapuluh. Di Inggris, sebagai misal, pandangan-pandangan ala Dilthey dan Croce terangkat kembali dengan munculnya R.G. Collingwood (1888-1943), seorang filsuf sejarah terkemuka di negara-negara berbahasa Inggris (barangkali itu karena ia berperan ganda sebagai ahli sejarah Romawi Inggris). Ada sejumlah kecil pembelotan terhadap hegemoni narasi politik, namun sampai pada 1950 usaha itu tidak bisa dikatakan berhasil. Para sejarawan Marxis belum banyak menghasilkan karya penting kecuali The Lowlands by the Sea (1934) karangan Jan Romein dan Capitalism in the Countryside oleh Emilio Sereni (1947). Hanya ada dua bidang yang jelas terlihat berubah. Yakni, para sejarawan ekonomi telah menjadi kelompok yang signifikan di dalam profesi ini, dan mereka memiliki jurnal sendiri yang berpengaruh, seperti Economic History Review, dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti Henri Pirenne dari Belgia (1862- 1935) dan Eli Heckscher dari Swedia (1879- 1952). Perdebatan di antara mereka sendiri acap-kali lebih mirip perdebatan ekonom ketim-bang sejarawan. Di Perancis, pendekatan seja-rah yang lebih umum, diilhami oleh Lucien Febvre (1878-1956) dan Marc Bloch (1886-1944) dengan jurnal Annales, mulai menarik perhatian, dan karya-karya besar mengenai dunia Mediterania pada kurun pemerintahan Raja Philip II telah terbit pada 1949 oleh Fernand Braudel (1902-85), yang amat orisinil dalam eksplorasinya terhadap hal-hal apa yang oleh para sejarawan disebut ‘geohistori’. Karya tersebut menjadi tonggak perkembangan geografi sejarah yang ide dasarnya dipengaruhi oleh karya Vidal de la Blache. namun lebih deterministik sifatnya. Jika disimak lebih jauh. kurun 1950-an tampaknya merupakan semacam titik-balik historiografis. Sejarawan Marxis yang berpengaruh akhirnya muncul ke permukaan, terutama yang berada di luar blok komunis (misalnya Eric Hobsbawn dan Edward Thompson di Inggris, Pierre Vilar di Perancis, dan lain-lain), meskipun sebagian berasal dari blok komunis contohnya sejarahwan ekonomi Polandia. Witold Kula (1916-88). Di Perancis, kelompok Annales, di bawah kepemimpinan Braudel mendominasi dunia sejarah, baik secara intelektual maupun institusional. Di AS, Perancis dan di lain-lain tempat, ‘ilmu sejarah ekonomi baru’, sebagaimana ilmu ekonomi, semakin ambisius dalam mengejar tujuannya, dan metode-metodenya semakin kuantitatif. Ini acapkali dijadikan model oleh cabang sejarah lain. Sejarah demografi, misalnya, yang muncul sebagai subdisiplin pada kurun 1950-an (diilhami oleh semakin meningkatnya pertumbuhan populasi), merupakan salah satu cabang sejarah sosial yang kuantitatif (Wrigley 1969). Para sejarawan sosial dan ahli sosiologi sejarah juga mengambil garis kuantitatif pada kurun ini, kendati ada iuga yang menolak; studi klasik E.P. Thompson The Making of the English Working Class (1963) beri-sikan kritik pedas terhadap tulisan sejarah yang oleh para sejarawan seperti Thompson disebut sosiologi, lebih tepatnya sosiologi sejarah kuan-titatif yang ditokohi para pengikut Talcott Parson dan Neil Smelser, yang sebelumnya sudah terkenal setelah menulis mengenai Revolusi Industri. Kuantifikasi juga memainkan peran penting dalam ‘sejarah politik baru’, yang dipraktekkan di AS, baik dalam tulisan-tulisan mengenai hasil-hasil pemilu, pola pemungutan suara di Kongres, atau usaha untuk menghitung pemogokan dan bentuk-bentuk protes lain (Bogue 1983). Metode- metode yang mirip dengannya juga diterapkan pada sejarah agama, khususnya di Perancis, yang memakai statistik pengakuan dosa dan frekuensi jamaat dalam setahun sebagai bahan telaah. Dalam buku asli dan kontroversialnya mengenai ‘kesalehan zaman barok dan dekristenisasi’, Michel Vovelle (1973) mempelajari 30000 surat wasiat dari Provence abad delapan- belas, yang kemudian ia susun menjadi sebuah indeks baku tentang pandangan gereja terhadap kematian dan perubahan-perubahan sikap keagamaan. Karyanya menawarkan suatu benang merah antara kliometrika dan disiplin baru yang tengah naik daun di tahun 1950-an, yakni psiko- histori. Di Perancis, bertolak dari pemikiran Durkheimdan Lucien Levy-Bruhl (1857-1939), minat dalam psikologi histori tidak terarah pada individu, melainkan pada mentalitas kolektif. Ini antara lain dapat dilihat pada karya Philippe Arie (1914-84) tentang perubahan sikap terhadap masa kanak-kanak dan kematian dari abad ke abad. Sejumlah tokoh lain seperti Jacques Le Goff, lebih tertarik untuk mempelajari mentalitas dengan cara seperti yang ditempuh Claude Levi- Strauss, yang menekankan oposisi biner pada umumnya, dan pertentangan antara alam dan kebudayaan pada khususnya. Di AS, yang mulai gandrung pada ide-ide Sigmund Freud, para ahli sejarah dan psikoanalisis (yang perpaduannya membentuk psikohistori) mulai mencoba menyimak motif dan dorongan personal para pemimpin agama yang merangkap sebagai pemimpin politik seperti Martin Luther, Woodrow Wilson, Lenin dan Gandhi. Presiden Asosiasi Sejarawan Amerika bahkan menghimbau para koleganya untuk menyambut psikohistori sebagai cabang baru ilmu sejarah (Langer 1958). Ternyata tidak banyak sejarawan yang menjawab ajakan Langer itu. Apa yang dilakukan oleh sebagian besar dari mereka pada kurun 1970an, seperti rekan sejawat mereka pada disiplin-disiplin terkait lainnya, sampai pada titik tertentu justru merupakan reaksi terhadap kecenderungan di atas yang terjadi pada 1968. Mereka menolak determinisme (baik ekonomi maupun geografis), sebagaimana mereka menolak metode-metode kuantitatif dan klaim ilmiah dari ilmu sosial. Dalam ilmu sejarah, penolakan terhadap karya-karya generasi sebelumnya itu dibarengi oleh munculnya pendekatan-pendekatan baru terhadap masa silam, khususnya yang diringkas da-lam empat slogan dan empat bahasa: sejarah dari bawah’, microstoria, Alltagsgeschichte, dan history de l’immaginaire. Pertama, ‘sejarah dari bawah’ merupakan peristilahan yang agak kabur, meskipun makna dasarnya sangat penting: sejarah tidak hanya perlu menyoroti para tokoh besar, namun juga orang-orang kebanyakan di masa lalu; penulisannya pun tidak boleh terlalu diwarnai oleh wawasan tokoh besar, melainkan juga harus bertolak dari sudut padang orang-orang kebanyakan. Ini barangkali merupakan perubahan paling penting dalam ilmu sejarah sepanjang abad duapuluh, sebuah revolusi ala Copernicus yang memberi imbangan atas kelemahan-kelemahan tradisi historiografi yang elitis, yang tidak memasukkan pengalaman, kebudayaan dan aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok jelata yang didominasi (Guha 1982). Pergeseran ini telah mendorong dan pada gilirannya didorong oleh bangkitnya tradisi sejarah oral, sehingga memberikan kesempatan bagi orang-orang kebanyakan untuk mengutarakan pengalaman mereka mengenai proses sejarah dengan bahasa mereka sendiri. Akan tetapi, praktek sejarah dari bawah ini pada gilirannya menjadi kelewat disederhanakan dari pemikiran aslinya, terutama karena menajamnya perbedaan orientasi antara berbagai kelompok yang didominasi kelas pekerja, para petani, rakyat terjajah, dan tentu saja wanita. Sekitar kurun waktu 1970-an gerakan untuk mencipta- kan ilmu sejarah khusus wanita mulai terlihat bentuknya, berkat kebangkitan studi-studi wanita dan feminisme. Hal ini melemahkan setiap asumsi mengenai kesatuan ‘kelas-kelas yang disubor- dinasikan’, Di jenjang kedua, studi mengenai kelas pekerja, wanita, atau kebudayaan populer, yang dipisahkan dari studi mengenai kelas menengah, kaum pria, atau kebudayaan elit, kini dipandang sebagai salah arah, sehingga perhatian kemudian diarahkan kepada hubungan-hubungan antar kelompok yang berbeda. Kedua, microstoria atau sejarah mikro mungkin bisa didefinisikan sebagai usaha mempelajari masa lalu pada level komunitas kecil, baik itu berupa sebuah desa, jalan, keluarga, atau bahkan individu, yang juga mengusahakan peninjauan terhadap ‘wajah-wajah dalam kerumunan’ yang memungkinkan pengalaman konkret kembali memasuki sejarah sosial. Pendekatan ini ditempatkan pada peta sejarah oleh Carlo Ginzburg dalam Cheese and Worms (1976), sebuah studi mengenai kosmos lingkungan Italia abad enam- belas, sebagai jawaban atas desakan Inquisisi, yang oleh Emannuel le Roy Ladurie dalam Montaiilou (1975), disusun berdasarkan catatan-catatan inquisisi yang digunakan untuk memotret pedesaan abad enambelas yang kemudian juga diperbandingkan dengan studi-studi komunitas seperti Akenfield karya Ronald Blythe. Kedua buku ini tidak saja menjadi bestseller namun juga patut diteladani karena mengilhami sebuah mazhab atau paling tidak sebuah kecenderungan baru. Para ahli sejarah tradisional melihatnya sebagai semacam antikuarianisme dan pengingkaran terhadap kewajiban para sejarawan untuk menjelaskan bagaimana dunia modern ini terbentuk. Oleh karena itu, sejarah mikro dibela oleh salah satu praktisi utamanya, Giovanni Levi (1991), yang menegaskan bahwa reduksi skala justru telah menyingkap fakta betapa aturan-aturan politik dan sosial acapkali tidak berfungsi dan betapa individu-individu bisa menciptakan ruang untuk diri sendiri di tengah-tengah persi¬langan berbagai institusi yang ada. Ketiga, Alltagsgeschichte atau ‘sejarah kese-harian’ merupakan pendekatan yang berkembang, atau paling tidak didefinisikan, di Jerman. Pendekatan ini menarik garis tradisi filsafat dan sosiologis yang antara lain terlihat pada karya Alfred Schutz (1899-1959) dan Erving Goffman (1922-82), Henri Lefebvre dan Michel de Certeau (1925-86). Seperti halnya sejarah mikro, yang memang tumpang-tindih dengannya, sejarah keseharian ini menjadi penting karena bisa menembus pengalaman manusia dan membawanya ke sejarah sosial, yang dipandang oleh sebagian praktisinya semakin abstrak dan tanpa wajah. Pendekatan ini dikritik lantaran perhatiannya pada apa yang disebut para pengkritiknya sebagai hal-hal remeh, serta mengabaikan politik. Tapi pendekatan ini juga punya pembela, seperti halnya sejarah mikro, yang menegaskan bahwa hal-hal yang tampak remeh pun acapkali bisa menjadi kunci untuk memahami perubahan-perubahan penting dan berskala besar (Ludtke 1982). Keempat, historie de 1 immaginaire atau sejarah mentalitas bisa didefinisikan sebagai versi sehari- hari dari sejarah intelektual atau sejarah ide-ide. Dalam kalimat lain, ini adalah sejarah kebiasaan berfikir atau asumsi-asumsi yang tak terucapkan, dan sering tertutup oleh gagasan-gagasan verbal yang dirumuskan secara sadar oleh para filsuf dan teorisi. Pendekatan ini, yang berawal di Perancis pada kurun 1920-an dan 1930-an, muncul sebagai semacam kebangkitan kembali. Akan tetapi, sebagaimana sering terjadi, apa yang bangkit kembali itu tidaklah serupa dengan apa yang dahulu ada. Para sejarawan yang bekerja di bidang ini lebih berminat untuk menyimak ‘representasi-representasi’ (arti harafiahnya adalah aspek visual atau mental) dari suatu peristiwa, dan juga pada apa yang disebut oleh para ahli sejarah Perancis pengikut Jaques Lacan dan Michel Foulcaut sebagai unsur immaginary. Pergeseran memunculkan apa yang acapkali disebut sebagai titik berat baru terhadap pembentukan, penyusunan, dan ‘produksi sosial’, bukan hanya dalam bentuk-bentuk kebudayan misalnya penemuan-penemuan tradisi melainkan juga sosok negara dan masyarakat, yang acapkali dipandang bukan sebagai struktur obyektif atau baku, melainkan sebagai ‘komunitas-komunitas bayangan’. Dengan kalimat lain, seperti rekan-rekannya dalam disiplin lain, para sejarawan mengalami efek-efek ‘pembalikan linguistik’. Patut dicatat bahwa keempat pendekatan ini semuanya memiliki kaitan tertentu dengan antropologi sosial, karena para antropolog sejak lama memang berminat mempelajari sesuatu berdasarkan “sudut pandang kaum pribumi” dan bekerja dalam komunitas-komunitas kecil guna mengadakan observasi atas kehidupan sehari-hari, serta menyelidik pola pikir dan sistem nilai yang hidup di masyarakat. Sejumlah sejarawan ternyata juga melakukan hal serupa, dan mereka banyak memakai konsepsi para antropolog ter-kemuka seperti E. E. Evans-Pritchard, Victor Turner, atau Clifford Geertz. Tanpa mengabaikan arti pentingnya, keempat pendekatan tersebut ternyata belum cukup mengungkapkan semua perubahan yang telah terjadi dalam ilmu sejarah, bahkan belum sanggup melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh pendekatan-pendekatan tradisional yang hendak mereka ubah. Beberapa sejarawan mencoba menjelaskan hal itu secara lebih terfokus, dengan bertolak dari pendekatan tersendiri. Usaha seperti ini antara lain dilakukan oleh Fernand Braudel, yang mencoba melihat dunia sebagai satu kesatuan yang utuh. Selain Braudel, tokoh terkemuka lain yang melakukan usaha serupa adalah Immanuel Wallerstein, seorang sosiolog tentang masyarakat Afrika yang kemudian menjadi peminat sejarah kapitalisme.

Advertisement

Wallerstein mengembangkan konsepsi baru yang disebut modem world system . Dengan diilhami pemikiran Marxis, karya Wallerstein ini secara gamblang menggambarkan perkembangan ekonomi dan teori sistem-sistem dunia guna memperlihatkan hubungan antara kebangkitan kekuatan ekonomi Venesia dan Amsterdam serta keterbelakangan Eropa timur dan Amerika Selatan. Seperti yang sudah diduga, upaya-upaya lain untuk melihat sejarah planet bumi sebagai satu kesatuan dilakukan oleh mereka yang mengambil sudut-pandang ekologi, yang biasanya lebih suka meninjau se-suatu secara holistik, misalnya, tentang akibat- akibat perbenturan antara Eropa dan Amerika sebagai ‘pertukaran harta Columbus’ dari tanaman, binatang, dan jenis-jenis penyakit baru, dan dengan demikian pendekatan tersebut ‘menempatkan alam dalam sejarah’ (Crosby 1972). Geo- histori Braudel mempelajari masalah-masalah yang lebih statis dalam interaksi antara lansekap dan populasi manusia serta makhluk hidup lainnya (Cronon 1990; Worst 1988). Dengan munculnya pendekatan-pendekatan ini, dan sebagai reaksi atas beberapa di antaranya, para peminat ilmu sejarah dapat menyaksikan dua kebangkitan kembali unsur lama dalam ilmu sejarah , yakni kebangkitan kembali politik dan kebangkitan kembali narasi. Sejak lama sejumlah besar sejarawan memang menghendaki dimasukkannya kembali tinjauan politik ke dalam ilmu sejarah. Kondisi keilmuan pada 1980-an dan 1990-an tampaknya mendukung hal itu, setelah terkikisnya determinisme yang sebelumnya selalu dikaitkan dengan strategi dan taktik politik sempit. Sejarah politik pun berkembang lagi, bahkan dengan mencakup hal-hal baru, termasuk apa yang oleh Michel Foucault disebut mikropolitik. Strategi dan taktik politik yang dibahas bukan hanya yang berskala negara, namun juga dalam komunitas lebih kecil seperti desa-desa. Sejarah diplomatik yang semula berfokus pada negara pun melebar, dan mencakup berbagai hal baru seperti mentalitas dan ritual. Kebangkitan politik relatif lebih lancar ketimbang kebangkitan narasi yang sering menyulut kontroversi, setelah dulu terdesak oleh aliran baru yang dimotori mahzab Annales. Istilah kebangkitan narasi pun sering disalahtafsirkan. Sama halnya dengan para antropolog dan sosiolog, kini para sejarahwan secara terang-terangan mempermasalahkan hubungan antara peristiwa dan struktur (di mana struktur ini bisa bersifat sosial atau kultural, seandainya pemilahan seperti ini masih diperlukan). Paparan naratif, dalam bentuk yang baru dan lebih beranekaragam. dimunculkan kembali karena ada sejumlah sejarawan yang seperti sejawat mereka dari sosiologi dan antropologi  menyadari perlunya penggunaan retorika, eksperimen literer, dan (laiknya sejumlah novelis mutakhir) kombinasi antara fakta dan fiksi untuk memperbesar daya tarik (White 1978). Salah satu bentuknya yang menonjol adalah narasi mengenai peristiwa-peristiwa berskala kecil, dengan memakai sebuah teknik pemaparan yang lazimnya dipakai ahli sejarah mikro, dan berlawanan dengan Grand Naratif yang menekankan peristiwa-peristiwa kunci dan tanggal-tanggal baku seperti 1066, 1492, 1789, 1914, dan seterusnya. Bentuk lain kemunculan narasi adalah berkembangnya paparan sejarah yang diceritakan dari sudut pandang majemuk guna mengakomodasi berbagai persepsi mengenai peristiwa tersebut dari kalangan bawah maupun atas, dari pihak-pihak yang bertempur pada suatu perang saudara, atau mereka yang hanya merasakan dampak negatifnya, dan seterusnya. Berbarengan dengan tumbuhnya minat untuk mempelajari benturan-benturan antara berbagai kebudayaan, bentuk-bentuk narasi dialogis tampaknya akan makin semakin kerap dipraktekkan di masa mendatang. Karena tulisan ini pun sebenarnya dibuat secara monolog, mungkin telah tiba saatnya untuk mengakui bahwa gaya naratif seperti ini pun sebenarnya ditulis dari sudut pandang tertentu, yakni sudut pandang seorang kelas menengah Inggris, dan bahwa hal ini  khususnya dalam hampir semua artikel dalam volume ini  tidak sepenuhnya bersifat eksklusif atau terikat dengan perkembangan yang terjadi di Barat.

Incoming search terms:

  • sejarah yang mengambil sudut pandang struktur disebut

Advertisement
Filed under : Sosiologi, tags:

Incoming search terms:

  • sejarah yang mengambil sudut pandang struktur disebut