Advertisement

Para dokter sejak lama menyadari adanya tradisi-tradisi pengobatan yang berbeda di masa lalu. Salah satu sumpah Hippocrates (abad ketiga SM) yang berjudul Ancient Medicine, dan penghormatan yang sejak dulu diberikan kepada Hippocrates, Galen dan para perintis ilmu kedokteran lainnya menjadi jaminan bahwa edisi-edisi klasik para pengarang tersebut terus dibaca hingga abad ketujuhbelas. Sejak abad 18, survey sejarah kedokteran mulai ditekuni oleh para dokter seperti John Freind, Daniel Leclerc, dan Kurt Sprengel. Para dokter yang ingin menjadi anggota Royal College of Physicians of London masih diharuskan membaca literatur antik sampai pertengahan abad sembilanbelas, namun dengan pesatnya perkembangan ilmu kedokteran, perkembangan tradisi kedokteran Eropa kontinental, dan bertahannya tradisi lama di dunia kedokteran, kesadaran mengenai masa kini sebagai kelanjutan dari masa lalu terus bertahan, dan ini terwujud dengan pengakuan terhadap peran tokoh-tokoh sejarahnya. Aspek sejarah dari dunia kedokteran pun berkembang. Pada penghujung abad sembilanbelas, di Jerman, sejarah kedokteran berkembang pesat, didorong oleh sekian dokter dan ahli filologi, dan didirikannya Institutes for History of Medicine di berbagai universitas; yang terpenting adalah di Leipzig, dimana Kari Sudhoff menjadi pimpinan-nya dari 1905 hingga 1925. Henry Sigerist, Owsei Temkin, dan Erwin Ackerknecht, semuanya bekerja di Leipzig sebelum berimigrasi ke AS pada akhir 1920-an. Sigerist berjasa membentuk sosok tersendiri dari studi sejarah kedokteran ini, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai salah satu cabang sejarah. Sebagai direktur Institute of the History of Medicines pada Johns Hopkins University sejak 1932, Sigerist mendorong para dokter untuk lebih serius mempelajari bidang studi ini. Pada 1950-an, sejarah kedokteran sudah diajarkan di berbagai fakultas kedokteran di AS, Jerman, Spanyol, dan banyak negara lain.

Perkembangan pesat ilmu ini sendiri turut menambah daya tanknya. Sumbangan terpenting yang diberikannya adalah berlakunya prinsip “Whiggism” (meminjam istilah Herbert Butterfield) yang memungkinkan terungkapnya berbagai kesalahan, dan menempatkan ilmu pengetahuan di atas keyakinan takhayul. Sejak 1960-an. studi ini mengalami perubahan; jika semula hanya ditekuni oleh para dokter, maka selanjutnya ilmu ini mulai diminati oleh para ilmuwan dari bidang lain, mulai dari ekonomi, sejarah sosial, demografi sejarah, sosiologi dan antropologi, seiring dengan kian multidisiplinernya studi itu sendiri. Pengajarannya pun berpindah dari fakultas kedokteran ke fakultas ilmu-ilmu sosial. Semula, sejarah kedokteran hanya berfokus pada nama-nama besar di dunia kedokteran dan prestasi yang mereka sajikan. Kini, fokusnya adalah pada kajian tentang sejarah kesehatan masyarakat, serta aneka aspek (sosial hingga hukum) yang mempengaruhinya. Di sinilah terbuka pintu bagi masuknya ilmu-ilmu sosial, karena aspek sosial memang selalu mempengaruhi kondisi dan tingkat kesehatan masyarakat. Sejarah kedokteran kini juga mempertanyakan berbagai kemajuan di bidang medis. Baik-tidaknya suatu terobosan medis tidak hanya diukur berdasarkan unsur medisnya saja, namun juga aspek-aspek non-medis. Topiknya kian beragam, terutama sejak Michel Foucault memberikan sumbangan pentingnya pada 1960-an. Sejarah psikiatri merupakan salah satu tema yang banyak dibahas. Di sini, para ilmuwan mengulas kelaikan definisi gangguan mental, yang ternyata bervariasi (kegilaan ada kalanya berbeda bila ditinjau secara medis dan sosial). Kedokteran tropis, peran kesehatan kaum wanita, dan sebagainya, adalah topik-topik baru yang banyak mendapatkan perhatian. Untuk mengimbangi pembiakan bahan kajian itu, berbagai asosiasi profesi dan jumal ilmiah di bidang sejarah kedokteran telah bermunculan. Perbedaan pendapat merupakan hal yang sering terjadi, tidak hanya di antara praktisi yang merupakan seorang dokter dan yang berlatar-belakang pendidikan non-medis, namun juga di antara jurnal dan asosiasi-asosiasi tersebut. Namun hal itu tidak mengganggu proses pemapanan studi ini sebagai salah satu disiplin akademik.

Advertisement

Advertisement