Advertisement

Menurut Dictionary of Psychology karya Drever (1964), “kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap mode pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian dan penalaran”. Istilah ini merujuk pada bentuk-bentuk pemikiran abstrak dan pemecahan masalah yang didasarkan pada manipulasi simbol-simbol linguistik (proposisi) atau simbol-simbol kebendaan (citra). Sedangkan istilah psikologi kognitif mengacu pada upaya pada pemahaman berbagai bentuk instrumen observasi empirik sistematis manusia yang selanjutnya dikonstruksikan menjadi serangkaian teori. Cikal bakalnya adalah sebuah riset yang dilakukan selama 1950-an oleh Donald Broadbent, Jerome Brumer dan George Miller, meskipun masyarakat luas baru mengetahuinya setelah terbitnya buku berjudul Cognitive Psichology karya Ulric Neisser (1967). Pada masa berikutnya, perkembangannya kian pesat, antara lain ditandai oleh munculnya karya Jean Piaget dan David Ausubel mengenai psikologi perkembangan, serta karya Allan Newell dan Herbert Simon mengenai intelegensi buatan/artifisial. Pada gilirannya psikologi kognitif tersebut turut memicu perkembangan berbagai bidang riset psikologi. Neuropsikologi kognitif adalah contohnya yang menonjol, yang kini merupakan pilar utama ilmu pengetahuan kognitif.

Berbagai metode dan teori psikologi kognitif dipengaruhi oleh dua tradisi atau aliran pemikiran yang agak berbeda. Pertama, psikologi kognitif dinyatakan sebagai perkembangan alamiah dari apa yang disebut sebagai (psikologi eksperimental manusia), yang selanjutnya merangkum pula metodologi perilaku yang mendominasi riset psikologi pada umumnya pada abad 20. Kognisi manusia jelas merupakan suatu tr ek studi yang sangat kompleks, dan para peneliti psikologi kognitif menghadapi sejumlah pilihan jenis riset Eysenck (1984) mengidentifikasikan tiga jenis pilihan, yakni riset dasar atau riset terapan, riset dengan fokus pada masalah-masalah umum atau khusus, serta pencakupan atau penyisihan aspek motivasional dan emosional dari subjek yang menjadi domain analisis. Eysenck melihat bahwa penekanan studi kontemporer adalah pada “riset dasar yang menyoroti masalah-masalah khusus, dengan menyisihkan aspek atau faktor-faktor emosional dan multifasional”, meskipun ia sendiri berpendapat bahwa faktor-faktor emosional dan multifasional dalam kognisi manusia itu sendiri sangat penting. Psikologi kognitif terbukti telah menyajikan terobosan teoretis atas dasar manipulasi dan prosedur-prosedur eksperimental dalam berbagai riset laboratorium yang selama ini telah dilaksanakan. Namun ada beberapa hal dari riset itu yang sulit dikaitkan dengan isu-isu praktis. Eysenck (1984) menunjuk adanya tiga masalah yang saling terkait Pertama, apa yang dipelajari dalam riset laboratorium adakalanya kurang relevan dengan fungsi kognisi manusia. Kedua, riset laboratorium itu sering mengabaikan karakteristik-karakteristik penting kognisi kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang ketiga, hasil-hasil penemuan riset laboratorium terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada karena keterbatasan metodologi eksperimental itu sendiri. Namun Eysenck tidak berniat mengabaikan arti penting riset laboratorium itu, karena hal tersebut merupakan elemen penting, di samping riset-riset terapan/praktis, dalam mengembangkan teori-teori dalam psikologi kognitif.

Advertisement

Atas dasar pertimbangan seperti itulah maka sejumlah psikolog kognitif menganggap kelemahan-kelemahan di atas semata-mata sebagai gangguan empiris yang wajar terjadi dalam pengembangan model. Asumsi ini sering dikemukakan untuk menjawab kritik atas terbatasnya “validitas ekologis” (jargon yang lazim digunakan) riset-riset yang selama ini dilakukan. Benar atau tidaknya kritik itu masih harus ditentukan oleh hasil-hasii empiris lebih lanjut. Yuille (1986) berpendapat bahwa riset laboratorium tidak bisa diandalkan untuk mengungkap hal-hal penting mengenai fungsi-fungsi dasar dalam proses kognitif dasar Lucunya, kritik itu ia lontarkan berdasarkan eksperimennya sendiri yang juga dilakukan di laboratorium. Sementara itu kntik-kritiklain yang lebih radikal menyatakan bahwa situasi sosial yang melingkupi eksperimen psikologis itu tidaklah sama dengan situasi yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu mereka menganggap riset laboratorium itu tidak ada gunanya. Sebagian kritik mempersoalkan hubungan kekuasaan yang terkandung dalam situasi eksperimental, dan mereka berkeberatan dengan aspek-aspek politik dan moral yang mereka yakini selalu mempengaruhi pelaku maupun subjek riset laboratorium. Rowan (1981) mengatakan bahwa riset eksperimental laboratorium membesar-besarkan berbagai bentuk alienasi yang menurut Marx hanya dapat beroperasi dalam sistem ekonomi di mana para pekerja (dalam hai ini, subjek penelitian) sama sekali tidak memiliki alat produksi. Singkatnya kegunaan dan kredibilitas riset laboratorium sangat diragukan. Hanya saja, sampai sejauh ini belum ada alternatif yang lebih baik, dan kritik-kritik yang dilontarkan itu pun tidak memecahkan masalah. Usulan-usulan yang dikemukakan oleh para pengritik (termasuk usulan Rowan mengenai perlunya diterapkan riset “terapan”) ternyata juga tidak terbukti membuahkan hasil yang lebih baik. Namun tentu saja adanya kritik-kritik itu tidak bisa diabaikan, termasuk kritik yang bahkan mempertanyakan kegunaan dan keberadaan psikologi kognitif itu sendiri. Setiap kritik harus dijawab secara tuntas, entah itu melalui analisis konseptual yang lebih baik, rumusan teori yang lebih tajam, atau melalui inovasi-inovasi metodologis. Sesungguhnya cukup banyak kritik yang telah dapat dijawab secara memuaskan dan pencarian jawaban atas kritik itu sendiri acapkali menjadi kekuatan pendorong bagi berkembangnya psikologi kognitif. Di samping terhadap aplikasi praktisnya, minat akademik pada 1970-an dan 1980-an juga tercurah pada upaya perbaikan kesesuaian antara metode riset dengan kenyataan hidup sehari-hari. Salah satu wujudnya adalah berkembangnya riset terhadap daya ingat atau memori manusia. Dewasa ini sebagian besar ahli psikolog kognitif sepakat akan perlunya perhatian untuk meningkatkan daya aplikasi riset, baik secara potensial maupun aktual, demi mendorong pengembangan dan penyempurnaan teori-teori serta metode riset psikologi kognitif itu sendiri.

Advertisement