Advertisement

Atau principle of reciprocity, suatu prinsip yang mendasari proses pertu-karan yang ditandai oleh kewajiban untuk memberi balasan dalam bentuk sejenis, antara individu-individu, kelompok-kelompok, atau institusi-institusi dalam suatu masyarakat. Pertukaran itu tidak hanya meliputi materi, tetapi juga hal yang bersifat abstrak seperti jasa, kekuasaan, perlindungan, dlI.

Dalam antropologi, konsep ini pertama kali dibg, has oleh Bronislaw Malinowski dan Marceli Mauss Malinowski membahasnya melalui hasil penelitianl nya tentang sistem pertukaran pada masyarakat Tro. briand di ujung tenggara Pulau Irian, yang disebut lingkaran kula. Pada sistem kula ini dipertukarkan dua jenis barang yang dianggap berharga, meskipUn tampaknya tidak berfaedah, yaitu soulava (kalung panjang dari kulit tiram) dan mwali (gelang lokan yang melengkung). Soulava dibawa dan dipertukarkan sesuai arah jarum jam dari satu pulau ke pulau lain, sedangkan mwali bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Apabila A pada suatu waktu memberikan soulava kepada B, di kemudian hari si B wajib menghadiahkan mwali kepada si A dengan nilai yang sama. Bila si B belum memiliki balasan yang sama nilainya, ia dapat memberikan dulu mwali yang lebih kecil sebagai hadiah sementara. Semakin banyak se-seorang mendapat soulava atau mwali dari mitranya, dan semakin banyak ia bermurah hati memberikan hadiah kepada mitranya, semakin tinggilah prestise dan kekuasaannya.

Advertisement

Sejalan dengan pertukaran dalam kula, orang Tro- briand juga melakukan pertukaran lain, misalnya wa- si, yaitu pertukaran hasil perikanan dan hasil pertanian antara nelayan dan petani kebun; pokala, yaitu pemberian yang tidak simetris kepada seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi; gimwali, yaitu transaksi berdasarkan prinsip pasar tanpa menggunakan mata uang, misalnya ubi ditukar dengan barang kerajinan; sagali, yaitu pembagian pangan yang berkaitan dengan suatu upacara tertentu. Dengan demikian, selain menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat Tro- briand, kula sekaligus berfungsi dalam kehidupan ritual, perkawinan, persaingan, peningkatan status, dll. Melalui pertukaran-pertukaran itu seseorang berupaya menjaga dan memelihara hubungan sosial dengan rekan dan kerabatnya agar tetap erat dan baik. Suatu pemberian hadiah kepada seorang rekan menyiratkan harapan akan adanya imbalan, yang seimbang maupun yang tidak seimbang, di kemudian hari.

Prinsip timbal balik sebagai dasar pertukaran juga terdapat pada banyak masyarakat lain di dunia. Di Indonesia, misalnya, prinsip timbal balik dapat dilihat melalui pranata gotong royong. Di daerah pedesaan, bila seseorang membangun rumah atau mengadakan kenduri, para tetangganya datang membantu tanpa meminta imbalan materi apa pun. Orang yang dibantu hanya menyediakan makanan bagi tetangganya yang datang membantu. Tetapi secara tersirat ia mempunyai kewajiban membantu bila di masa yang akan datang tetangga mengadakan suatu kegiatan. Demikian juga para tetangga yang datang membantu mempunyai harapan bahwa bila suatu waktu mereka memerlukan pertolongan, orang yang dibantunya saat ini akan datang membantu. Jadi gotong royong tidak selalu memiliki arti membantu secara suka rela, tetap kadang-kadang mempunyai pamrih akan mendapat imbalan sejenis.

Suatu pertukaran yang berdasarkan prinsip timbal balik tidak selalu menunjukkan hubungan seimbang antara kedua beiah pihak. Hubungan semacam ini bisa timbul apabila seseorang yang lebih rendah keduduk- annya memberikan sesuatu kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya dan menguasai sumber daya lebih banyak) dengan harapan akan memperoleh keuntungan material, perlindungan, jaminan keuntungan politik, status, dsb. di masa yang akan datang. Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi berada dalam posisi pemberi barang dan jasa yang sangat dibutuhkan oleh orang yang lebih rendah, sehingga akan timbul kewajiban untuk membalas pemberian tersebut dengan cara memberikan dukungan dan bantuan yang sering kali tidak terbatas selama ia masih mem alukan barang atau jasa yang dibutuhkannya. Bentuk hubungan sosial semacam ini dalam ilmu-ilmu sosial dinamakan hubungan patron-klien.

Advertisement