PENGERTIAN PRINSIP-PRINSIP EVOLUSI

14 views

Istilah evolusi mengisyaratkan sebuah transformasi yang berlangsung secara bertahap. Kendati istilah ini merupakan istilah yang umum dipakai dalam berbagai bidang studi (Lewontin 1968), dalam biologi ia punya makna khusus karena merupakan teori pemersatu yang fundamental. Evolusi biologi secara spesifik mengacu pada transformasi genetik pada populasi antara organisme dan lingkungannya (Dobzhansky et al. 1977). Fakta bahwa proses kehidupan merupakan pokok perhatian hampir semua ahli biologi modern, ternyata tidak diimbangi dengan kesepakatan tentang mekanisme dasarnya, sehingga evolusi organik masih menjadi subyek penelitian yang intens. Titik pertama yang mengawali riset mengenai evolusi biologis adalah diterbitkannya The Origin of Species karya Charles Darwin pada 1859, kendati gagasan mengenai evolusi itu sendiri sudah ada sebelum itu. Darwin dan Aflred Russel Wallace secara terpisah mengembangkan gagasan seleksi alam sebagai mekanisme utama yang menyebabkan kehidupan berkembang. Hal yang menjadi kunci seleksi alam adalah sifatnya yang tidak langsung: warisan keragaman ada pada semua spesies dan varian yang terbaik cenderung meninggalkan lebih banyak turunan sedemikian rupa sehingga sejalan dengan waktu terjadilah perubahan bertahap. Dari sudut ini, evolusi tidak diarahkan oleh proses yang menciptakan warisan keragaman itu melainkan oleh bagaimana keragaman itu dibentuk atau muncul bersama waktu oleh seleksi alam. Seleksi alam adalah hal pokok dari teori evolusi sintesis, sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan pandangan modern mengenai mekanisme evolusi organik. Sintesis ini ditinggalkan pada paruh pertama abad duapuluh setelah munculnya kombinasi teori seleksi alam, genetika Mendel, dan gagasan-gagasan lain yang menjelaskan bagaimana kehidupan berkembang. Akan tetapi, tidak pernah tercapai kesepakatan bulat mengenai keseluruhan aspek teori sintetis ini. Kontroversi mutakhir terpusat pada sejumlah topik seperti pentingnya proses random, mekanisme spesifikasi, dan ekstrapolasi dari perubahan-perubahan genetik yang teramati dalam kurun waktu yang pendek, serta pola-pola filogeni (Ridley 1993). Inti teori evolusi sintesis adalah proses yang menghasilkan transformasi genetik dari generasi ke generasi. Proses ini terjadi dalam dua fase: pertama, produksi dan pengaturan variasi genetik oleh mutasi gen, perubahan kromosom, rekombinasi genetika, dan migrasi gen; dan kedua, reduksi variasi genetika melalui seleksi alam dan aliran genetik. Keanekaragaman genetik pada akhirnya menghasilkan mutasi gen, yakni perubahan kimia pada molekul DNA. Hampir semua mutasi sifatnya merusak atau relatif netral terhadap kelanggengan organisme. Mutasi yang efeknya kecil mungkin terakumulasi dan akhirnya memiliki peran lebih besar dalam evolusi ketimbang mutasi-mutasi makro. Laju mutasi tidak banyak berhubungan dengan laju evolusi. Rekombinasi genetik juga merupakan sumber variasi genetik, namun pada level yang berbeda. Jika mutasi gen merupakan sebuah perubahan dalam molekul DNA, maka rekombinasi genetik merupakan pembentukan berbagai kombinasi faktor genetik yang terjadi selama siklus dari pembentukan sel-sel seks menjadi fertilisasi. Secara teoretis, proses ini dapat menciptakan orga-nisme yang berbeda dalam jumlah hampir tak terbatas hanya dengan merombak sejumlah besar perbedaan DNA orang tua Migrasi atau aliran gen adalah sumber variasi baru di level populasi.

Sebuah populasi lokal, misalnya, dapat mengalami perubahan genetik dengan masuknya gen-gen dari populasi lain. Fase kedua dari transformasi genetik adalah reduksi variasi genetik yang terutama dilakukan melalui seleksi alam. Jika jumlah sel yang dibuahi semakin besar dibandingkan dengan yang dapat bertahan hidup dan berkembang biak, maka akan terjadi kehilangan besar dari potensi kehidupan pada tiap generasi. Pada manusia diperkirakan hanya sekitar 12 persen telur yang dibuahi dapat bertahan hidup, tumbuh besar dan melakukan pembiakan. Kehilangan yang terjadi barangkali amat selektif: varian-varian genetika yang tidak bertahan hidup dan berkembang biak akan hilang karena mutasi-mutasi atau adanya kombinasi-kombinasi yang merusak dari faktor-faktor genetik yang cenderung menurunkan daya hidup. Daya tahan terhadap penyakit pun acapkali memiliki unsur genetik yang dapat terseleksi. Peluang sederhana mungkin juga merupakan faktor dalam hilangnya keragaman genetik dari generasi ke generasi, sebuah proses yang disebut hanyutan genetik (genetic drift). Pentingnya faktor acak dalam evolusi telah menjadi perdebatan sejak Sewali Wright mengajukannya pada 1930-an. Pembentukan spesies baru melibatkan mekanisme-mekanisme yang memisahkan populasi secara reproduktif, yang dahulu merupakan satu populasi. Pada hewan, hal ini biasanya harus melalui isolasi fisik dan tidak ada aliran gen antar-populasi yang bisa membawa perubahan genetik yang divergen. Studi-studi naturalistik memperlihatkan bahwa hal ini bisa terjadi secara relatif cepat dalam populasi kecil yang terisolasi. Kesalahpahaman yang sering terjadi mengenai evolusi adalah bahwa ia terjadi karena mutasi yang muncul dan secara langsung mengubah komposisi genetik suatu spesies dari generasi ke generasi. Pandangan ini, yang disebut teori evolusi mutasi, banyak dianut pada awal abad duapuluh, namun sekarang terbukti hal itu tidak tepat untuk organisme-organisme yang kompleks. Keragaman genetik pada spesies amatlah besar sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah riset biokimia yang memperlihatkan bahwa sebagian besar rantai genetik memiliki satu atau lebih varian mutan. Menurut teori sintesis, arah perubahan genetik ini ditentukan oleh seleksi dan kehilangan yang acak dari potensi keragaman genetik yang amat besar itu. Kesalahpahaman lain yang juga umum terjadi mengenai teori evolusi sintesis adalah bahwa ia menjelaskan mengapa dunia organik berkembang seperti yang ada sekarang. Pola evolusi yang muncul dalam catatan fosil dan dengan interferensi organisme-organisme hidup tidak bisa diprediksi oleh proses produksi dan reduksi variasi genetik lebih panjang dari sejarah manusia sehingga sulit dijelaskan dengan proses di mana individu belajar dari lahir hingga mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *