Advertisement

Merupakan prasasti terpanjang yang memberi keterangan dan petunjuk tentang kerajaan tertua di Pulau Jawa, yaitu Tarumanegara serta rajanya Purnawarman.

Prasasti Tugu ditemukan sekitar tahun 1878 di Kampung Batu Tumbuh, desa Tugu, Kecamatan Ci- lincing, Jakarta Utara Prasasti Tugu berupa sebuah batu bulat panjang. Tulisan pada batu tersebut dipahatkan secara melingkar menggunakan bahasa Sanskerta dan menggunakan huruf Pallawa. Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda, Kehrn, kemudian berhasil menyingkap sejarah yang tertera pada batu bertulis tersebut. Batu bertulis ini sekarang berada di Museum Pusat, Jakarta.

Advertisement

Isi Prasasti Tugu tersebut antara lain: “Dahulu kali yang bernama Kali Chandrabhaga (=Kali Bekasi) digali oleh Maharaja Yang Mulia yang mempunyai lengan yang kencang dan kuat, yakni Raja Purnawarman. Setelah melewati istana baginda yang masyhur kali itu dialirkan ke laut. Kemudian, di dalam tahun ke duapuluh dua dari takhta baginda, Raja Purnawarman yang berkilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, memerintahkan pula menggali kali yang indah serta jernih airnya. Kali Gomati namanya. Kali ini mengalir di tengah-tengah kediaman Sang Pendeta Nenekda Sang Purnawarman. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, yakni pada tanggal 8 paro petang bulan Phalguna dan diakhiri pada hari tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Untuk itu diadakan selamatan yang dilaksanakan oleh para Brahmana. Untuk selamatan itu Raja Purnawarman mendharmakan seribu ekor sapi”.

Menurut Prof.Dr. Purbacaraka, seorang ahli bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno, Kali Chandrabhaga itu sama dengan Kali Bekasi. Kata Chandra, sama dengan kata sasi atau bulan. Jadi kata Kali Chandrabhaga sama dengan Kali Bhagasari (Sasibhaga). Kata Sasibhaga atau Bhagasari kemudian berubah menjadi Bhagasi, lalu menjadi Bakasi, akhirnya menjadi Bekasi, yang merupakan pusat Kerajaan Taruma atau Tarumanegara.

Dari prasasti Tugu ini dapat diperoleh petunjuk dan keterangan pula bahwa Raja Purnawarman adalah seorang raja yang berkuasa atas sebuah kerajaan yang luas dengan masa pemerintahan lebih dari dua puluh dua tahun yang berlangsung aman dan tenteram. Karena hanya dalam keadaan aman dan tenteram, proyek penggalian saluran air dapat dilaksanakan. Sementara persembahan 1.000 ekor sapi kepada para Brahmana menunjukkan bahwa Kerajaan Tarumanegara sebuah kerajaan makmur.

Meskipun tidak menyebutkan angka tahun secara pasti, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang menyebutkan unsur penanggalan. Prasasti ini menyebutkan “Phalguna” dan “Caitra”, yaitu nama bulan yang diperkirakan bertepatan dengan bulan Februari – April menurut perhitungan tarikh Masehi. Seperti diketahui, hujan paling lebat yang turun di Jawa Barat umumnya terjadi dalam bulan Januari – Februari. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kali atas perintah Purnawarman tersebut dimaksudkan untuk menanggulangi bahaya banjir, di samping untuk mengairi tanah-tanah pertanian (sawah-sawah), di musim kemarau. Sehingga dapat disimpulkan juga bahwa rakyat Kerajaan Tarumanegara hidupnya bergantung pada usaha pertanian.

Kesimpulan lain tentang panjangnya penggalian kali sepanjang 6.122 tumbak atau kira-kira 11 kilometer hanya dalam waktu 21 hari menunjukkan Kerajaan Tarumanegara telah memiliki manajemen serta organisasi kerja yang rapi serta pimpinan yang ditaati. Selain itu pengetahuan tentang irigasi serta upaya pengendalian banjir telah cukup tinggi di kerajaan ini. Sementara penyebutan brahmana dalam prasasti Tugu tersebut memberi petunjuk bahwa Kerajaan Tarumanegara telah mendapat pengaruh kebudayaan Hindu. Raja Purnawarman sendiri memeluk agama Hindu dan memuja Dewa Wisnu.

Incoming search terms:

  • pengertian bhagasari

Advertisement
Filed under : Antropologi, Budaya, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian bhagasari