Advertisement

Pendaftar perguruan tinggi bila diterima akan berstatus mahasiswa. Biasanya para mahasiswa baru akan bergabung ke dalam organisasi masyarakat mahasiswa perguruan tinggi tadi. Untuk bisa bergabung, mahasiswa baru harus ikut perploncoan. Perploncoan telah dikenal di tanah air kita semenjak zaman penjajahan Belanda. Sekarang perploncoan tidak dikenal lagi oleh karena diganti namanya menjadi o•ientasi pergu•uan tinggi. Saat ini bila ada kejadian yang tidak diharapkan pada mahasiswa-baru yang berkaitan dengan orientasi perguruan tinggi maka dianggap sebagai akibat sisa-sisa perploncoan peninggalari penjajahan Belanda. Dalam bahasa Belanda pe•ploncoan dikenal dengan sebutan ontgroening. Ontgroening yang dilaksanakan di Stovia niisalnya dirnaksudkan sebagai masa perkenalan antara peserta didik yang baru masuk dengan para seniornya. Perploncoan ini dilakukan bukan atas nama institusi pendidikan tetapi dilakukan oleh masyarakat peserta diciik Stovia, se•ta dilakukan di asrama bukan di lingkungan sekolah oleh karena semua murid Stovia diasramakan. Perploncoan di Stovia dilakukan pada so•e ha•i di luar jam belaja• dan lamanya mencapai tiga bulan. Di•asakan ketika itu bahwasanya pe•ploncoan membe•ilcan banyak manfaat kepada pa•a yunior.

Di zaman setelah kemerdekaan perploncoan te•us dilaksanakan, juga tetap tidak melibatkan institusi dan tetap dilakukan oleh organisasi masyarakat mahasiswa baik intra maupun ekstra universiter. Seorang mahasiswa yang ingin menjadi anggota masyarakat mahasiswa haruslah te•lebih dahulu melalui perploncoan. Mahasiswa boleh saja mengikuti kegiatan kuliah, praktikum dan ujian tanpa mengikuti perploncoan, tetapi dia tidak bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh masvarakat mahasiswa selama belum mengikuti peRploncoan, tidak bisa ikut tenteer atau menggunakan diktat catatan kuliah/kumpulan soal ujian yang dikumpulkan oleh dictatenkring. Ia bisa saja menggunakan diktat catatan kuliah secara sembunyi-sembunyi tetapi itu jelas tidak fair. ludicium adalah kegiatan institusi tetapi wisuda atau inaugurasi adalah kegiatan masyarakat mahasiswa, seorang mahasiswa yang tidak menjadi anggota masyarakat mahasiswa tidak layak
mengikutt inaugurasi. Banyak kenangan indah yang bisa
didapat dengan bergabung dalam organisasi mahasiswa.

Advertisement

Perploncoan sering dianggap sebagai sisa kolonialisme dan feodalisme. Namun sebenarnya bila pelaksanaannya tepat, perploncoan sangat bermanfaat. Suatu perguruan tinggi yang mempunyai tradisi baik biasanya mahasiswanya melakukan perploncoan dengan baik pula. Perploncoan yang merugikan bisa dipastikan dilaksanakan oleh kelompok mahasiswa yang tidak tahu tujuan kegiatan perploncoan. Yang tahu tujuannya tentu tidak mengarahkan kegiatan ke hasil yang negatif. Panitia perploncoan haruslah mahasiswa yang perilaku dan sikapnya dewasa. Sekali lagi ditekankan bahwa tujuan perploncoan adalah terciptanya keakraban di antara anggota masyarakat mahasiswa, para senior menjadi mentor yang yunior. Tujuan perploncoan bukan menciptakan cedera atau kematian mahasiswa baru.

Di perploncoan kalau ada yang namanya “hukuman”, hal itu adalah suatu peristiwa yang lucu sehingga bisa memberikan kenangan indah yang tidak akan terlupa seumur hidup dan bukannya suatu kenangan pahit. Kalau sampai ada kenangan pahit dapat dipastikan tujuan mengadakan perploncoan tidak tercapai. Cinta kepada tanah air tentu saja tidak dimanifestasikan dengan cara mencium tanah vang diberi air seperti yang diperagakan saat perploncoan. Apabila mata ditutup kemudian diberi makan mie telor mentah, sama sekali jangan mengira diberi makan cacing tanah, oleh karena seorang senior tidak akan memberikan suatu yang tidak manusiawi.

Seperti tadi dikatakan bahwa perploncoan sering dibayangkan sebagai sisa kolonialisme dan feodalisme, oleh karenanya dalam sejarahnya dikenal peristiwa penolakan terhadap perploncoan. Organisasi-organisasi masyarakat berpaham komunis seperti PKI, CGMI menolak adanya perploncoan atas dasar tuduhan bahwa perploncoan adalah tradisi kolonial, selain itu ada juga organisasi yang menolak berdasarkan alasan lain-lain. Alhasil perploncoan dilarang oleh pemerintah diganti namanya menjadi Masa Kebaktian Taruna (1963) kemudian Masa Prabakti Mahasiswa disingkat Mapram (1968) kemudian Pekan Orientasi Studi (1991), Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK) dan sekarang sebagai Orientasi Perguruan Tinggi (OPT). Tidak hanya namanya yang diubah tetapi juga penyelenggaranya adalah institusi pendidikan serta menjadi wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru.

Jika saat masih bernama perploncoan kegiatan ini tidak pernah menghasilkan korban, setelah namanya diganti dengan maksud agar tidak bersifat feodal, kolonial malah ada kejadian korban meninggal atau cedera. Ada yang cedera terkena air keras, ada yang meninggal karena sakit kelelahan, ada pula yang levernya pecah oleh karena ditendang. Kejadian yang demikian menimbulkan rasa was-was pada orang tua mahasiswa-baru, khawatir naas akan menimpa nasib anaknya.

Kami kutipkan di bawah ini tulisan para bekas mahasiswa Ika Daigaku tentang perploncoan pada saat itu , sebagai berikut :

“Kata perploncoan untuk pertama kali digunakan sebagai pengganti kata ontgroening, namun maksud dan tujuannya berbeda sekali dengan ontgroening zaman Belanda. Kata perploncoan itu berasal dari kata “plonco”, artinya “kepala gundul”. Hanya anak kecil yang berkepala gundul waktu itu, sehingga kata “plonco” mengandung arti seseorang yang belum mengetahui sesuatu mengenai kehidupan masyarakat dan dianggap belum dewasa, karena itu perlu sekali diberi berbagai petunjuk untuk menghadapi masa depan. Perlunya mengikuti masa perploncoan bagi mahasiswa selain memperoleh pengalaman dalam memasuki lingkungan hidup baru di Jakarta Ika Daigaku dan Yakugaku, juga sebagai penggemblengan awal seorang mahasiswa dengan tujuan antara lain :

  1. Menggembleng rasa nasionalisme, menanamkan rasa tanggung jawab sebagai pemuda terpelajar terhadap nasib nusa dan bangsanya, yang tercermin dalam Sumpah Pernuda 1928.
  2. Memupuk rasa tanggung jawab sebagai maha­siswa terhadap Perguruan Tinggi. Bagaimana seharusnya manusia yang bervvatak sosial mengabdikan profesinya di tengah masyarakat.
  3. Menanamkan pengertian tentang perlunya mengetahui keadaan lingkungan, masyarakat dan sosial, baik politis, ekonomis maupun
  4. Menggembleng rasa solidaritas sebagai mahasiswa dan anggota korps, corpsgeest, agar dalam perjuangan memerdekakan nusa dan bangsa tetap berada dalam kesatuan gerak, dan setelah lulus sekolah masih memiliki rasa kebersamaan dengan yang rnasih menuntut ilmu.
  5. Merasakan bagaimana beratnya nasib seseorang yang harus hidup sebagai budak di bawah penindasan bangsa asing.
  6. Mendewasakan cara berpikir sebagai orang berpendidikan tinggi, salah satu syarat yang diperlukan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap nusa dan bangsanya.
  7. Menanamkan rasa kesetiakawanan dan gotong­royong, “Ehrlichlceit uncl Treue”, sifat-sifat yang sangat dibutuhkan untuk memimpin peijuangan.
  8. Turut merasakan betapa beratnya tekanan hidup, dan bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dijumpai dalam peijalanan hidup bermasyarakat melalui ketahanan mental dan fisik.

Untuk melaksanakan perploncoan itu dibentuk panitia penyelenggara yang anggota-anggotanya diambil dari semua tingkat. Panitia ini terbagi atas beberapa bagian, disesuaikan dengan tugas masing­masing, agar pelaksanaannya berjalan lancar dan tidak timbul akibat buruk yang merugikan mahasiswa baru; sehingga maksud dan tujuan diadakannya perploncoan itu betul-betul tercapai.

Mahasiswa senior dan dosen diikutsertakan sebagai penasehat dan pengawas di luar panitia. Dalam masa perploncoan panitia dibagi dalam : Panitia Penga tur Pelaksana (organizing committee), Panitia Pengendalian Pelaksanaan (steering comnzittee), Panitia Pengawas Pelaksanaan, Panitia Peradilan (arbitrage), dan Tim Pembina Plonco (Tutor).

Berbagai peraturan dibuat agar perploncoan dapat berjalan dengan tertib. Adapun pelaksanaan perploncoan terhadap mahasiswi lebih lunak, sesuai dengan sifat kaum hawa. Pada perploncoan yang pertama kali, mahasiswa baru rambutnya digunduli, walaupun para mahasiswa lama sendiri pernah menentang dilakukannya penggundulan oleh Jepang ketika mereka mernasuki Jakarta Ika Daigaku dan Yakugaku sehingga terjadi insiden penggundulan paksa. Adapun penggundulan yang dilakukan oleh panitia perplo►coan terhadap para mahasiswa baru dimaksudkan agar para mahasiswa baru dapat merasakan bagaimana rasanya dicukur gundul. Pada perploncoan tahun berikutnya penggundulan di kalangan Ika Daigaku dan Yakugaku tidak diadakan lagi, kecuali atas kehendak para plonco sendiri.

Masa perploncoan berlangsung selama satu bulan penuh dan diadakan setiap hari mulai pagi sampai pukul 12 malam untuk mahasiswa. Bagi para mahasiswi berlangsung sampai pukul 9 malam, dan pulangnya diantar oleh beberapa mahasiswa lama atau plonco pria yang masuk kelompok Palang Merah.

Perploncoan dilakukan di asrama maupun di sekolah, kecuali untuk tujuan tertentu dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Para plonco diberi bermacam-macam atribut lucu yang digantungkan di leher atau dipasang di kepala. Juga mereka diperintahkan untuk melakukan bermacam-macam pekerjaan atau berbuat sesuatu tergantung dari perintah yang mereka terima. Misalnya disuruh makan sesuatu yang tidak enak atau minum cairan pahit. Segala sesuatunya diusahakan agar berlangsung dalam batas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengawasan terhadap pelaksanaan perintah dilakukan dengan saksama agar tidak terjadi akibat yang buruk. Pengawasan dilakukan oleh Panita Pengawas, tidak saja terhadap para plonco tetapi juga terhadap para mahasiswa lama. Masing-masing plonco mendapat tutor, pembina, yang harus membinanya selama tidak diadakan perploncoan masal atau kelompok. Seorang plonco dapat diuji mentalnya oleh setiap mahasiswa lama. Penggemblengan fisik juga diadakan.

Akibat jelek yang terjadi dalam perploncoan disebabkan tidak adanya pengawasan dan sanksi yang jelas dari panitia atau dosen. Selain itu maksud dan tujuan perploncoan harus tegas dan tepat. Perploncoan akan kurang berhasil bila tujuannya keliru atau kabur, pelaksanaannya kacau atau hanya untuk pameran saja.

Semasa revolusi fisik, pengglembengan melalui perploncoan’ diselenggarakan di Klaten, Solo dan Malang, walaupun dalam suasana penuh kemelut, ikatan batin dan rasa setia kawan tidak pudar, bahkan membaja durch Leide und Freude”.

Demikian pandangan para bekas mahasiswa Ika Daigaku suatu perguruan tinggi di jaman Jepang yang mahasiswanya merupakan leburan dari mahasiswa GHS, siswa NIAS dan para abiturient SMT.

Pendidikan tinggi diselenggarakan oleh perguruan tinggi dengan cara melalui kuliah, seminar, simposium, diskusi panel; lokakarya, praktikum dan kegiatan lain­lain seperti penelitian dan excursion.

Kuliah adalah proses belajar-mengajar yang dapat meliputi komunikasi secara langsung atau tidak langsung.

Seminar adalah pembahasan materi kuliah di antara beberapa mahasiswa dengan tutornya. Biasanya seorang mahasiswa membacakan materi kuliah yang lain mendengarkan dengan harapan untuk merangsang terjadinya diskusi dan m.enerbitkan issue lebih jauh. Dalam artian umum, seminar adalah pertemuan ilmiah dengan beberapa pembicara, membahas suatu topik atau masalah dalam tema yang sama atau saling berkaitan. Seminar tidak menghasilkan kesepakatan ataupun keputusan, tujuannya adalah memperkenalkan pemikiran baru tentang topik yang dibicarakan. Dalam seminar ada moderator yang menjadi penghubung antara pembicara dengan hadirin peserta seminar.

Simposium adalah pertemuan ilmiah dengan beberapa pembicara yang menyampaikan ceramah pendek mengenai aspek yang berbeda tetapi saling berkaitan tentang masalah yang dibicarakan.

Diskusi panel adalah forum pertukaran pikiran yang dilakukan oleh sekelompok ahli di hadapan sekelompok hadirin mengenai suatu masalah tertentu yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Lokakarya adalah pertemuan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta dengan menggunakan jenis metode pertemuan ilmiah.

 

 

 

Advertisement