Advertisement

PERISTIWA CIKINI  terjadi pada tanggal 30 November 1957 jam 20.45, di halaman depan gedung Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta Pusat. Pada peristiwa itu Presiden Sukarno lolos dari usaha percobaan pembunuhan.

Malam itu, sewaktu Presiden Sukarno sedang berjalan meninggalkan gedung sekolah setelah menghadiri bazar di tempat itu, enam buah granat dilemparkan ke arahnya. Lima di antaranya meledak dan menewaskan 10 orang anak sekolah serta mencederai 48 orang, sebagian besar luka parah. Presiden Sukarno selamat. Segera setelah ledakan pertama, ajudan presiden, Letnan Kolonel Sugandhi, segera mendorongnya hingga menelungkup di lantai kemudian menindihnya untuk melindunginya dari pecahan granat. Setelah ledakan kelima berbunyi, Presiden Sukarno segera ditarik menyeberangi jalan di depan gedung, memasuki rumah di dihadapannya. Di rumah itu Presiden Sukarno disembunyikan di ruangan belakang dan dialingi sebuah lemari, sampai keadaan dianggap aman. Beberapa hari kemudian dua orang pelaku peledakan itu ditangkap. Keduanya mengakui bahwa rencana pembunuhanan itu diatur oleh Pemerintah Republik Islam Indonesia, yang lebih dikenal dengan sebutan gerombolan Darul Islam (DI). Dalam sidang pengadilan juga terungkap adanya bantuan Belanda terhadap DI, berupa senjata dan amunisi. Hal ini menyebabkan perasaan anti-Belanda di kalangan masyarakat makin berkobar.

Advertisement

Beberapa minggu; kemudian, hampir semua perusahaan Belanda, baik yang bergerak di bidang industri, perkebunan dll, disita oleh Pemerintah Indonesia. Selain itu, warga negara Belanda, diusir dari Indonesia. Maskapai penerbangan Belanda, KLM, dilarang terbang di wilayah udara Indonesia. Selama menjadi presiden, Sukarno mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan. Di antaranya adalah Peristiwa Makasar, Peristiwa Idul Adha, dan penembakan roket terhadap Istana Merdeka oleh Daniel Maukar. Dari berbagai usaha pembunuhan itu yang paling banyak memakan korban adalah Peristiwa Cikini.

Advertisement