Advertisement

PENTINGNYA KIA SMA. Sewaktu menguraikan meiosis telah disinggung bahwa selama  tahap diploten dari profase I, kedua kromosom yang homolog dari setiap bivalen, yang pada tahap zigoten sebelumnya telah menjadi pasangan, kini mereka cenderung untuk saling menolak. Meskipun demikian kedua kromosom itu masih tetap berlekatan pada satu atau beberapa tempat perlekatan yang berbentuk silang, yang disebut kiasma. Suatu kiasma terbentuk bila sebagai akibat dari tegangan karena adanya pelintiran satu sama lain dari kedua bagian bivalen, maka dua kromatid homolog putus pada titik-titik yang bersamaan dan ujung-ujung bagian yang putus dari satu kromatid bergabung dengan ujung-ujung bagian yang putus dari kromatid lain ( 16.7). Kromatid itu putus sebagai akibat dari tegangan yang ditimbulkan oleh dua anggota suatu bivalen yang satu sama lain memilin. Masing-masing bivalen terdiri atas dua pasang kromatid anak, tetapi karena pembentukan kiasma pemisahan dan penggabungan kembali hanya terjadi antara kromatid bukan paruhannya, yaitu antara kromatid yang berasal dari tetua kromosom yang berbeda. Jika ada lebih dari satu kiasma pada suatu bivalen, maka akan terbentuk pasangan-pasangan kromatid yang berbeda, tetapi selalu salah satunya berasal dari kedua kromosom homolog itu. Jadi pada setiap kiasma dua dari keempat kromatid itu tetap tak berubah, tetapi dua lainnya membentuk kromatid baru, masing-masing berisi bagian dari kedua kromosom tetuanya. Dengan demikian, walaupun hanya ada satu kiasma pada satu bivalen, keempat kromatid itu semuanya akan berbeda. Andaikata terbentuk satu kiasma pada setiap bivalen, maka keempat inti haploid yang dihasilkan dari meiosisnya akan berbeda-beda susunan kromosomnya. Jika diingat bahwa biasanya terjadi lebih dari satu kiasma pada setiap bivalen, dan bahwa tempat pembentukannya bervariasi pada inti yang berbeda, maka beberapa dugaan tentang variasi yang besar kombinasi baru dari gen yang diciptakan oleh meiosis dapat dipahami. Pada kenyataannya kedua garnet yang dihasilkan oleh individu mana pun tidak pernah persis sama, atau garnet mana pun tidak sama dengan garnet-garnet lain yang bergabung menjadi zigot tetuanya. Oleh karena itu, pembentukan kiasma dalam proses meiosis hendaknya jangan dianggap sebagai pemisahan yang tidak menguntungkan, melainkan sebagai cara ‘yang disengaja’ untuk meningkatkan variasi sifat-sifat yang jika kiasma tidak terbentuk rekombinasi tidak akan dapat dilaksanakan. Aspek pembentukan kiasma ini menekankan bahwa meiosis memiliki fungsi yang lebih mendasar daripada hanya merupakan pemaruhan jumlah kromosom dalam garnet sebelum terjadinya pembuahan.

Advertisement
Advertisement