Advertisement

Penyantunan  atau  Pengasuhan anak mengacu pada kebijakan pemerintah berkenaan dengar, pemeliharaan dan pengasuhan anak. Secara umum, istilah ini merujuk pada gagasan dan praktek yang berkaitan dengan pen.gasuhan anak. Lembaga-lembaga pemerintah sejak lama telah aktif terlibat dalam kegiatan ini, khususnya bagi keluarga-keluarga yang karena berbagai alasan, tidak mampu menjalankan fungsi pengasuhan anak dengan baik. Perhatian utama pada fungsi ini sejak tahun 1970-an adalah penanggulangan kekerasan pada anak-anak baik secara fisik maupun seksual. Perhatian ini kian meningkat sehubungan dengan kian banyak terungkapnya kasus-kasus penganiayaan anak dan berbagai skandal ketidakmampuan orang tua yang acapkaii mengakibatkan kematian anak (misalnya saja kasus Maria Colwell di Inggris pada tahun 1973). Kasus-kasus tersebut membangkitkan keprihatinan akan besarnya resiko yang harus dipikul oleh anak-anak yang orang tuanya kurang mampu mengasuh. Keprihatinan itulah yang selanjutnya mendorong pemerintah untuk kian aktif menyediakan fungsi ini pada tahun 1980-an dan 1990-an. Perspektif akademiknya antara lain dike mukakan oleh Fox Harding (1991) yang mengulas bagaimana negara/pemerintah dapat membantu anak-anak dari keluarga yang kurang mampu mengasuh. Pandangan ini terkait dengan gagasan- gagasan yang lebih luas mengenai psikologi anak, pentingnya kekerabatan genetis, dan peran negara secara umum. Selanjutnya muncul sejumlah per¬spektif menonjol. Yang pertama menekankan pentingnya keluarga-keluarga permanen yang independen dan mapan dalam pengasuhan anak sehingga perspektif ini tidak menganjurkan peningkatan peran pemerintah dalam fungsi pengasuhan anak. Sedangkan perspektif kedua lebih terfokus pada fakta buruknya pengasuhan anak-anak di banyak keluarga sehingga ia menganjurkan peningkatan peran pemerintah guna melindungi anak-anak. Perspektif ketiga berusaha menjembatani kedua perspektif sebelumnya dengan mengakui bahwa keluarga merupakan lembaga terbaik bagi pengasuhan anak, namun harus pula diakui fakta banyaknya keluarga yang tidak mampu melindungi dan mengasuh anak- anak sehingga perannya terpaksa harus diambil-alih oleh pemerintah. Namun yang jelas, semua perspektif yang ada menekankan bahwa semua anak memiliki hak untuk memperoleh pengasuhan yang baik. Sementara itu adapula perspektif keempat yang menekankan pentingnya hak anak sebagai pihak yang setara dengan orang tua maupun pemerintah. Hak ini harus diakui demi kepentingan generasi mendatang. Namun ada beberapa gagasan ekstrim dalam perspektif ini. Antara lain dikatakan bahwa hak anak itu identik dengan hak orang tua, seperti hak untuk bekerja. Namun banyak pihak yang mengakui bahwa anak-anak memang mempunyai hak, namun mereka tidak bisa dilepas begitu saja seperti halnya orang dewasa. Betapa pun anak-anak memerlukan bimbingan dan perlindungan khusus yang mengatur persyaratan rumah dan keluarga untuk mengasuh anak (misalnya Children Act 1989 di Inggris); peraturan yang melarang hukuman fisik terhadap anak-anak (misalnya Newel 1989) serta pengayoman hak anak secara umum seperti yang tertuang dalam konvensi PBB mengenai hak anak tahun 1989 (ini merupakan instrumen hukum internasional pertama tentang hak-hak anak yang secara eksplisit mengakui hak anak untuk berbicara dalam setiap proses yang akan mempengaruhi kehidupan mereka.

Periode 1980-an dan 1990-an diwarnai oleh perdebatan sengit mengenai kebijakan tentang anak-anak. Di satu sisi hal ini bersifat positif karena mengindikasikan meningkatnya perhatian terhadap anak-anak. Di sisi lain ada unsur konflik yang cukup serius yakni pergulatan antara pemerintah dan orang tua dalam soal pengasuhan anak. Banyaknya kasus orang tua tunggal mengisyaratkan kemampuan keluarga dalam mengasuh anak- anak tidak seperti sebelumnya. Banyak pihak yang menyoroti minimnya ketentuan hukum bagi para ayah yang meninggalkan kewajibannya. Ada usul agar para ayah yang tidak ikut mengasuh anak itu dibebani denda tertentu seperti yang diatur dalam Child Support Act 1991 yang kemudian dijadikan model pengaturan serupa di negara bagian Wisconsin dan Australia. Keprihatinan atas susutnya peran ayah itu erat kaitannya dengan berbagai masalah sosial lainnya yang lebih luas seperti keretakan sosial dan pergeseran norma-norma keluarga. Pengasuhan anak-anak masih merupakan bidang kontroversial. Mereka yang menekankan peran orang tua dan yang melihat pentingnya peran negara dalam pengasuhan anak belum menemukan kata sepakat. Hal ini diperumit lagi dengan perdebatan mengenai peran keluarga secara umum, dan berbagai pergeseran yang telah terjadi di masyarakat, di samping soal standar pengasuhan anak-anak itu sendiri.

Advertisement

Advertisement