Advertisement

Pancasila Sebagai Ideologi, Sebagai ideologi, Pancasila dituntut untuk tetap pada jatidirinya ke dalam (segi instrinsik) dan ke luar (segi ekstrinsik). Ke dalam, Pancasila harus {1} konsisten, {2} koheren, {3} koresponden. Ke luar, harus menjadi penyalur dan penyaring kepentingan, horisontal maupun vertikal.

Konsisten (bahasa latin consistere berarti “berdiri bersama”) artinya “sesuai”, “harmoni”, atau “hubungan logis”. Satu sila harus merupakan kesatuan yang terpadu. Misalnya, sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa) mempunyai hubungan logis dengan pasal 29 (Agama) UUD 1945; sila ke-2 (kemanusiaan Yang Adil dan Beradab) dengan kemerdekaan; sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dengan pasal 18 (pemerintahan daerah) dan lain-lain.

Advertisement

Koheren (bahasa Latin cohaerere berarti “lekat satu dengan yang lain”) artinya satu sila harus terkait dengan sila yang lain. Sila Kemanusian tidak boleh lepas dari sila Ketuhanan. Sila Persatuan Indonesia tidak boleh lepas dari sila Kemanusiaan, dan seterusnya. Apabila salah satu saja dari sila tersebut kita pilih dan meninggalkan sila yang lain, ini dapat dikatakan inkoherensi.

Koresponden (bahasa Latin corn berarti “bersama”, respondere “menjawab”) artinya cocoknya praktek dengan teori, kenyataan dengan ideologi. Seorang pancasilais tidak bisa menjadi seorang pembunuh, karena pembunuhan itu tidak sesuai dengan kemanusiaan. Inkorespondensi terbesar terjadi pada pra-1965, ketika kita menyetujui PKI yang nyata-nyata anti Tuhan. Padahal dalam Pancasila kita mengakui adanya Ketuhanan Yang Maha Esa dan Persatuan Indonesia. Korespodensi menuntut supaya kenyataan politik ditata kembali, sehingga ada persesuaian antara kenyataan dengan ideologi (Kuntowijyo, 1998: 81). Pancasila sebagai ideologi dapat mempersatukan kita secara politis, dapat mewakili dan menyaring berbagai kepentingan, inengandung pluralisme agama, dan dapat menjamin kebebasan beragama. Meskipun ada pihak yang tidak setuju dengan Pancasila sebagai ideologi, tapi sampai sekarang Pancasila masih tetap sebagai ideologi negara.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagian besar rakyat Indonesia menganut agama Islam. Oleh karena itu tidak heran jika hanyak tulisan-tulisan yang mencoba menyoroti Pancasila dari sudut Pandang Islam. Menurut beberapa pakar, tidak satupun ajaran Islam yang bertentangan dengan Pancasila, dan sebaliknya tidak satupun sila-sila dari Pancasila yang bertentangan dengan ajaran Islam. I)engan demikian dapat kita katakan bahwa Pancasila adalah. ubyektivikasi Islam. Esensi (hakekat) Islam dan Pancasila tidak bertentangan, tetapi kenyataan eksistensinya (sejarahnya) dapat saja keduanya dipertentangkan terutama untuk melayani kepentingan-kepentingan kelompok politik. Walaupun demikian, penting dicatat bahwa Islam adalah agama, dan Pancasila adalah ideologi.

Advertisement