Advertisement

Adalah olahraga asli daerah Indonesia yang mungkin belum terkenal secara nasional tetapi cukup populer di daerah asalnya. Olahraga tradisional ini pada suatu saat mungkin menjadi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan pada tingkat nasional. Dalam daftar inven- tari isi yang dibuat KONI, tercantum beberapa cabang olahraga tradisional.

Main Hadang. Olahraga atau permainan ini dikenal di beberapa daerah Indonesia dengan nama berbeda- beda. Di Pulau Jawa olahraga ini dinamakan gobak sodor, di Sumatra Utara dinamakan margalah, di Sulawesi Selatan massallo, di Jakarta galah asin, dan di Bengkulu disebut hadang.

Advertisement

Main hadang biasa dimainkan oleh regu putra maupun putri. Setiap regu terdiri atas lima orang. Permainan berlangsung 2 x 25 menit dengan istirahat 10 menit.

Cara bermain: regu penjaga menempati garis jaganya masing-masing, sedangkan regu penyerang berusaha melewati garis-garis tersebut dengan menghindari tangkapan pihak penjaga.

Patok Lele. Seperti main hadang, patok lele pun dikenal di berbagai wilayah Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta patok lele disebut benthik, di Sulawesi Selatan macungkee atau acengkee, di Jawa Barat gatrik, di Riau main canang, di Jakarta ontek, dan di Bali ma- suntik.

Patok lele bisa dimainkan oleh peserta perorangan maupun beregu dengan menyesuaikan jumlah anggota setiap regu. Permainan ini menggunakan peralatan yang terdiri atas utat, yaitu kayu berbentuk silinder berukuran panjang 45 sentimeter dan janak, atau anak yang ukuran panjangnya 15 sentimeter.

Permainan ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama, mencutat: janak diletakkan di lubang tempat mencutat, kemudian dicutat dengan utat. Regu penjaga berusaha menangkap dan mengembalikan janak tersebut ke arah utat yang ditaruh melintang pada lubang tempat mencutat. Jika utat kena, pemain mati, demikian juga jika janak tertangkap pemain.

Tahap kedua meninting: janak dipegang bersama utat dengan satu tangan, selanjutnya janak dilempar ke atas dan dipukul sejauh mungkin dengan utau Penjaga berusaha menangkap dan mengembalikan sedekat-dekatnya ke lubang tempat mencutat. Jika jarak antara janak dan lubang mencutat kurang dari ukuran panjang satu utat, pemain mati. Tetapi jika lebih satu utat, maka jarak dihitung dengan utat antara janak berhenti dan lubang tempat mencutat. Nilai ukur adalah nilai yang didapat.

Tahap ketiga, mematok: janak ditaruh pada lubang mencutat dengan agak tersembul sedikit, kemudian dengan utat dipukul ke atas, diusahakan sebanyak mungkin. Semakin banyak pemain berhasil membuat pukulan, semakin tinggi nilainya.

Benteng. Permainan ini berasal dari DKI Jakarta, namun di beberapa tempat ada juga permainan semacam ini, hanya namanya berbeda.

Lapangan permainan berbentuk segi empat, panjangnya 25 – 50 meter, lebar 15 – 25 meter. Selain lapangan, dibutuhkan peralatan berupa dua tiang dari kayu yang ditancapkan di sebuah lingkaran dengan jari-jari 1,80 meter. Tiang itu diberi bendera dengan warna berlainan.

Peserta permainan terdiri atas kelompok atau regu, baik putra maupun putri. Setiap regu terdiri atas 5, 10, sampai 15 orang. Cara bermain: tiap regu berusaha menduduki benteng lawan yang digambarkan dengan tiang bendera, yaitu dengan jalan memancing lawan agar keluar dari benteng untuk mengejar mereka. Orang yang dikejar tidak boleh ditip (dikenai). Saat mereka dikejar, kawannya membantu dengan mengejar orang yang sedang mengejar kawannya. Jika kena tangkap, maka ia ditawan.

Kalau banyak musuh yang ditawan, dengan sendirinya mudahlah menduduki benteng lawan. Orang yang ditawan bisa dibebaskan oleh kawannya dengan jalan menyentuh salah seorang temannya yang ditawan itu. Apabila semua tawanan tersebut bergandengan, maka semua tawanan terbebaskan. Pemenang adalah regu yang paling banyak anggotanya menduduki benteng lawan.

disebut juga gasingan dan di Sulawesi Selatan disebut magasin g. Gasing dibuat dari kayu yang keras, seperti kayu asam atau jambu. Gasing dilengkapi dengan tali rami yang dipintal sesuai dengan kebutuhan.

Permainan bisa dilakukan perorangan maupun beregu, yang jumlahnya setiap regu terdiri atas tiga orang. Gasing dililit dengan tali, kemudian dilemparkan ke tanah lantai, dengan tali tetap dipegang, sehingga gasing tersebut berputar untuk beberapa waktu lamanya.

Egrang di Sulawesi Selatan dinamakan malongga, di Jawa Barat dan DKI Jakarta j ejangkungan. Egrang memanfaatkan peralatan dari bambu setinggi 2,25 meter, lengkap dengan tempat tumpuan 60 sentimeter dari tanah. Pada umumnya peserta hanya putra saja tetapi ada juga putri yang turut bermain dengan merendahkan tempat tumpuan.

Serimbang merupakan olahraga tradisional asli Bengkulu, yang biasa dimainkan pada pagi maupun sore hari. Dalam permainan ini diperlukan peralatan yang terdiri atas tempurung kelapa yang diberi lubang, jarak (ancang-ancang) 7 meter dan lapangan yang sederhana.

Peserta permainan biasanya beregu yang masing- masing mempersiapkan tempurung berlubang sebanyak anggota regunya. Kepala regu I dan II mengadakan adu tempurung. Jika tempurung I tertelungkup regunya menjadi lantaran, dan dipasang jarak satu sama lain 2 meter. Regu yang satu lagi menukarkan tempurung dengan kakinya. Apabila kena geseran tempurung yang kena tadi terus dilontarkan tertelungkup; nilainya 1. Jika geseran tidak kena, diadakan penggantian, dan seterusnya.

Sebanting berasal dari Bengkulu. Sebanting biasa dimainkan ketika selesai panen padi. Peserta biasanya anak laki-laki berusia 7-14 tahun, berpasangan. Yang bisa dianggap peralatan permainan adalah pasir di pinggir laut. Permainan dilakukan dengan cara sepasang anak berpelukan sambil berlari, masing-masing berusaha membanting lawan. Yang terbanting dinyatakan kalah.

Langga merupakan sejenis permainan bela diri yang berasal dari Sulawesi Utara. Langga berarti langkah atau gerak untuk menangkis sesuatu serangan. Ahli langga disebut olangga. Permainan langga hampir sama dengan permainan longgo, bedanya longgo pakai alat senjata yang disebut sumala atau langgo, sedangkan langga tanpa alat.

Permainan langga terdiri atas dua macam, yaitu permainan langga nobanganga (isyarat) yang dilakukan oleh pemain tanpa menjatuhkan, dilakukan sesama teman, dan permainan langga notapela atau saling menjatuhkan. Permainan ini biasanya dilakukan antarkampung (kambungu). Peserta biasanya terdiri atas dua orang laki-laki dewasa yang berpasang-pasangan.

Manggurebe merupakan olahraga pacu perahu di Maluku. Peralatannya berupa perahu yang bentuknya sangat ramping dan dicat dengan warna-warna mencolok, dan dayung. Di sisi perahu biasanya diberi sema-sema, yaitu bambu untuk menjaga keseimbangan.

Para peserta biasanya berlomba untuk menempuh jarak 800, 1.500, dan 2.000 meter. Bagi peserta putri, jaraknya lebih dekat. Perahu yang berlomba bisa mempunyai 1 awak, 2, 3, atau 5 awak.

Pathol berasal dari daerah Jawa Tengah. Permainan ini biasanya dilakukan di pantai pada waktu malam’ dan siang hari. Pathol biasa diadakan dalam rangka hari besar nasional atau sedekah laut, sedekah bumi, dan sebagainya.

Pathol berarti orang yang tak terkalahkan. Pada pemerintahan Prabu Hayam Wuruk sangat terkenal orang kuat dari pantai Rembang yang menjaga kemungkinan serangan dari laut bernama Pathol Santipuspa Dampo Wang Raja Samodra. Dari peristiwa inilah menjelma satu jenis olahraga semacam gulat, yaitu pathol, yang pesertanya hanya putra.

Olahraga ini merupakan adu kekuatan perorangan satu lawan satu. Pemain hanya memakai celana kolor yang longgar dan di pinggang terlilit sepotong kain lajuran seperti sarung. Arena pertandingan selalu di pantai dan ada wash.

Pada saat pertandingan dimulai, kaki kedua pemain bertumpu kuat-kuat di pasir. Pemain berusaha sekuat dan secepat mungkin menjatuhkan lawan ke pasir sampai pinggang lawannya menyentuh pasir. Pemenangnya adalah pemain yang dapat menjatuhkan lawannya ke pasir.

Maunti berasal dari daerah Bali, yang biasanya dilainkan pada siang hari. Maunti merupakan bentuk permainan yang dipengaruhi oleh lingkungan kerajaan dan merupakan permainan yang berkembang sejak dahulu di Bali dengan tidak membedakan umur, jenis ke! imin, dan kasta. Permainan ini banyak digemari dan masih sering dilakukan oleh masyarakat Bali, terutama di Kabupaten Buleleng.

Jumlah pemain bergantung pada luas lapangan, antara 20 sampai 30 orang, terdiri atas anak-anak, orang dewasa, laki-laki maupun wanita. Alat permainan ini adalah satu bola kasti atau bola yang dibuat sendiri dari pelepah daun pisang. Tanda rumah (istana) biasanya dilambangkan dengan batu.

Permainan maunti dilatarbelakangi oleh dua raja beserta rakyatnya. Setelah diadakan undian, kelompok yang menang berhak menyerang lebih dahulu, yaitu melempar bola ke tubuh raja musuhnya. Lemparan hanya tiga kali, bergantian dengan pihak lawan. Raja dikatakan mati apabila kena lemparan sebanyak 11 kali, sehingga ia harus diganti.

Kadang kala raja dan raja bergumul. Bila salah satu raja mampu menyeret lawan sampai ke istananya berarti kalahlah raja musuhnya itu. Di dalam permainan ini anak buah raja berusaha menculik musuhnya untuk dibawa ke tempat rajanya, lalu badan anak buah yang diculik tersebut disentuh oleh raja, yang berarti si ana buah mati.

Sampyong berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Peralatannya berupa rotan sebesar ibu jari kaki, panjang sekitar 45 sentimeter. Diiringi tetabuhan gamelan, wasit turun ke arena, dan pemimpin kelompok dari satu regu mengumpulkan anggotanya dengan mantra-mantra. Dengan rotan di tangan, dua orang berhadapan sambil menari-nari. Setelah ada aba-aba mereka berusaha memukul kaki lawannya. Pemain hanya berhak memukul satu kali. Jika pukulan tidak kena, ganti lawan yang memukul.

Pacu Jalur berasal dari daerah Riau. Permainan ini merupakan pertandingan dayung perahu yang dilak-sanakan minimal sekali dalam setahun, terutama dalam memperingati hari-hari besar nasional. Biasanya peserta hanya putra, dan lokasi yang biasa dipakai adalah Teluk Kuantan. Tiap jalur tidak mutlak jumlahnya, bisa 20, 30, 50 orang, atau lebih. Jarak disesuaikan dengan keadaan setempat.

Tiap jalur atau perahu dipimpin oleh seorang pimpinan regu untuk memberi aba-aba agar serempak dalam mengayuh dayungnya. Tiap jalur menyelesaikan jarak yang telah ditentukan panitia. Pemenang adalah yang paling cepat menyelesaikan perlombaan.

Selain permainan-permainan itu, ada pula pencak joget dari Propinsi Bengkulu yang konon telah ada sejak dahulu kala; medara dari Sangihe Talaud yang berarti main tempurung;dll.

Incoming search terms:

  • Permainan utat

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • Permainan utat