Advertisement

NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN, Dari mana istilah negara kita ambil? Dalam percakapan sehari-hari kita sering mengucapkan atau mendengar kata atau istilah “Negara”. Walaupun begitu akrab dalam kchidupan kita, sebenarnya istilah ini adalah bersifat abstrak, kita tidak pernah melihat negara itu seperti apa, yang kita lihat hanyalah bendera suatu negara, orangnya, lambangnya, atau mendengar bahasa nasionalnya, lagu kebangsaannya, atau juga mengetahui ideologinya.

Istilah negara diterjemahkan dari kata-kata asing yaitu “Staat” (bahasa Belanda dan Jerman), “State” (bahasa Inggris), “Etat” (bahasa Perancis). Karena pertumbuhan negara modern dimulai di benua Eropa di sekitar abad ke-17, sudah sepantasnya jika kita mengkaji asal-usul dan pemakaian kata-kata asing itu dari benua Eropa, walaupun istilah itu sudah lazim dipergunakan dalam sejarah Indonesia jauh sebelum abad itu.

Advertisement

Kata “staat” (state, etat) itu diambil dari kata bahasa Latin, yaitu “status” atau “statum”, yang artinya keadaan yang tegak dan tctap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap. Kata “status” atau “statum” lazim diartikan sebagai “standing” atau “station’ (kedudukan), yang dihubungkan dengan kedudukan persekutuan hidup manusia sebagaimana diartikan dalam istilah “status civitatis” atau “status republicae”. Dari kata Latin ini dialihkan beberapa istilah lainnya seperti “estate” dalam arti “real

estate” atau “personal estate” dan juga “estate” dalam arti dewan atau perwakilan golongan sosial. Dalam arti yang belakang inilah kata “status” semula diartikan dan baru dalam abad ke-16 kata itu dipertalikan dengan kata “negara”.

Kata “lo stato” dari bahasa Italia juga dialihkan dari kata Latin “status” itu yang pada mulanya digunakan untuk menyatakan “keseluruhan dari jabatan tetap”. Lama-kelamaan kata itu mendapat arti “pejabat-pejabat dari jabatan itu sendiri” dan kemudian berarti “penguasaan beserta pengikut-pengikut mereka”, sampai pada akhirnya kata ini beroleh arti sebagai “kesatuan wilayah yang dikuasai”.

Dalam abad-abad sebelum abad ke-15 lebih lazim dipergunakan kata “civitas” atau “res publica” dari pada kata “stato” itu, terutama oleh orang-orang Rumawi. Maka dari itu kata “lo stato” adalah suatu penemuan yang baru, baik dalam pemakaian maupun dalam maknanya. Kata “lo stato” tidak dapat dipergunakan bagi “polis” Yunani maupun bagi negara feodal dari abad menengah yang pada waktu itu masih merupakan “estate-state” atau “standen state”. Istilah “lo stato” itu tepat untuk menunjukkan negara teritorial yang muncul dalam abad ke-17, sebagai istilah yang menunjukkan sistem fungsi dan segenap organ umum yang tersusun rapih yang mendiami suatu wilayah tertentu.

Demikianlah perkembangan kata “staat”, “state” atau “etat” itu. Dari suatu kata yang secara etimologis tidak adanya hubungannya dengan pengertian negara, kata “status” kemudian dipergunakan sampai saat ini untuk menunjukkan organisasi politik teritorial dari bangsa-bangsa.

Di Indonesia kata “negara” telah dipergunakan jauh lebih dahulu dari pada kata “stato” di Eropa. Pada awal abad ke-5 kita telah mengenal kerajaan yang bernama Tarumanegara, ialah negara yang daerahnya meliputi daerah sekitar lembah sungai Citarum di Jawa Barat di bawah pimpinan Raja Purnawarman. Begitu pula, penggunaan nama-nama yang menunjukkan kepala negara atau setidak-tidaknya pemegang peranan penting dalam kehidupan negara tidaklah sedikit, kita mengenal seperti Kartanegara (Raja Singasari 1266-1292), Jayanegara (Raja Majapahit 1309-1389), dan Rajasanegara (Raja Majapahit 1350-1389). Bahkan, kita pun mengenal buku ternama Negara Kertagama, karya Empu Prapanca (1365), yang menggambarkan beberapa keadaan dalam tata pemerintahan Majapahit.

Advertisement